Rabu, 26 November 2014

LDR

Rasanya sedih membayangkan kekasihmu yang berada di kota seberang harus datang ke kotamu hanya untuk menemanimu nonton bioskop di kota tetangga. Kencan yang penuh perjuangan. Cinta tidak selalu butuh aksi heroik. Walaupun sedih tapi mau bagaimana?

Jumat, 21 November 2014

Speak less, Write more

Terjaga di sepertiga malam. Menscroll handphone yang ditinggal terlalu dini malam tadi. Ada 55 pesan wa. Mereka yang membahas tentang cara pengenceran LED 1:4, diff count, cara menghitung Hb, dan bahkan sampai harga untuk reagen Fe. 

Tiba-tiba seperti ada benda keras yang menghantam dada. Oksigen yang masuk ke rongga pernafasan terasa seperti memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya. Dan ada jeda di setiap hembusan nafas seolah mencoba menikmati oksigen yang sedari tadi diperebutkan oleh jutaan manusia pun tumbuhan. Apakah ketika dini hari tumbuhan masih menghirup oksigen? Oh ayolah... mengalihkan perhatian tidak membuatmu terasa lebih baik.

Selain wa, ada juga 1 pesan di bbm. Dia berkata, "Maaf, semalam aku ketiduran."
Tidak masalah mengingat aku tertidur dengan pulas karena mata yang lelah menghadapi monitor laptop seharian. Manga Bleach chapter 500 sekian mengalihkan duniaku belakangan ini. 

Ketika menengok home, ada yang berkata kalau tumblrnya dihack.
Seperti tergelitik, tangan langsung membuka akun tumblr dan di dashboard aku menemukan seseorang yang sangat dekat bahkan seperti saudara walaupun kami tidak terlalu sering chit-chat memposting "Letter for scholarship". Terharu dengan cita-cita dan passionnya yang kuat untuk menjadi future leadership bagi Indonesia. Semoga Allah memudahkan dan menuntun jalanmu menuju mimpi-mimpimu, sahabatku! Aku bangga--sekaligus iri--. Mendesah. Sekali lagi, mengalihkan perhatian tidak membuat segalanya terasa lebih baik. Apakah diam lebih baik?

Ketika menscroll lebih jauh, ada seseorang nun jauh di sana, seseorang yang aku ketahui telah menjadi sahabat dari seseorang yang aku kenal. Dia berterimakasih karena temanku begitu perhatian padanya, dan akan mengajaknya jalan-jalan pekan ini.

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Sebenarnya bukan perasaan iri yang menggerogoti ketenanganku di pagi yang damai ini, melainkan sebuah kesadaran, apa yang akan aku lakukan untuk membuat hidupku lebih produktif, di saat semua orang menggeluti passion mereka, perlahan menjejaki tangga yang lebih tinggi menjadi semakin dekat dengan mimpi mereka, di sini aku hanya bingung dan berpikir, "apa yang harus aku lakukan?"

Ketika menscroll tumblr tadi ada seseorang yang memposting image quote.
"Browse less and read more, think less and try more"
Aku tidak terlalu mengerti dengan quote tersebut. Dengan hal apa aku harus memulai "act"-ku? Aku tidak mau terlena oleh zona nyaman. Tapi apa yang harus aku lakukan, sekarang, detik ini? Teringat caption foto seorang sahabat, "Jika detik yang akan datang adalah masa depan, jangan sia-siakan waktu, semangat untuk mengejar mimpi-mimpimu!" (Kurang lebih demikian).

Aku tidak terlalu fasih dalam mengungkap kegundahan hati dalam bentuk lisan, tapi setidaknya aku merasa lebih baik setelah menulis tulisan tak jelas ini. Walaupun tidak mendapat jawaban, dan aku menulis bukan bermaksud untuk mengabadikannya, tapi dengan cara seperti ini terkadang membuatku merasa lebih baik seolah semua kegelisahan yang memenuhi otakku tersedot ke dalam tulisan ini.
Thank you my blog, you are my another string to my bow.

Senin, 17 November 2014

Hidup itu Materi

Telinganya seperti terasa terbakar ketika mendengar kata materi. Dari kecil dia dibesarkan dengan penuh cinta dari orang-orang di sekelilingnya. Namun dunia berubah menjadi kejam ketika dia beranjak dewasa, semua orang berpegang pada pundaknya.

Life changed. Seperti tersentak dia kembali berpijak. Earth is not cruel, but people are. Dia tiba-tiba tersenyum ketika melihat handphone jadul di tangannya. Getir. N**ia 18o0c hp pertama ayahnya yang penuh kenangan. Sekilas terlintas kembali beberapa peristiwa yang dia alami baru-baru ini.

Department store yang selama beberapa tahun tak pernah dijamahnya terlihat begitu asing. Dia terlihat sesak tapi tetap angkuh. Di tempat itulah dia hendak mereparasi handphonenya. Dan alih-alih normal seperti sediakala, dia malah mendapat cacian dan pandangan rendah. Orang macam apa yang mau mereparasi hp yang biaya reparasinya setengah dari harga beli handphone tersebut saat itu? Dia kembali tersenyum. People never respect memory.

Dia terus menerawang, menikmati rasa sakitnya. She hates when her mind become wilder. Tapi tak bisa ditolak, pikirannya memutar rekaman memori jauh sebelum insiden reparasi hp itu terjadi.

Dia menghadiri annual meeting keluarganya di Depok. Pada kesempatan itu, didatangkanlah seorang ustadz kondang yang terkenal karena manisnya lesung pipitnya. Setelah tausyiah dan rangkaian acara selesai, tibalah sesi foto-foto. Semua orang begitu excited. Mereka berbaris rapi di samping kanan dan kiri ustadz tersebut. Tuan rumah menyediakan kamera slr, dan entah manajer atau siapanya (kaki tangan ustadz tersebut) menawarkan untuk mengambil foto. 

Dia yang juga terlena oleh suasana tersebut meminta tolong kepada orang yang sama untuk mengambil foto menggunakan hp lil'g yang sekarang sudah tidak diproduksi. Hp yang selama tiga tahun terakhir begitu setia menemaninya dalam suka ataupun duka, bahkan ketika poop. Namun orang itu menggeleng dan menolak secara halus sambil tertawa.

Hp yang canggih pada zamannya kini sudah tidak dilirik. Teknologi begitu dinamis, apakah manusia juga harus menjadi budak teknologi? Ketika hp jadul bisa digunakan semaksimal mungkin, bisa dibilang bisa mengikuti teknologi walaupun tertatih-tatih atau bahkan hp jadul yang sudah tidak setara untuk disandingkan dengan jenis hp canggih baru, apakah mereka harus disingkirkan?

People respects richmen.

Selasa, 04 November 2014

Aku, Kau, dan Gede

Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk naik gunung lagi. Rasanya seperti burung yang lepas dari sangkar emas kali ya hehe… Seneeeeeengg!!! Tapi pendakian kali ini sedikit berbeda, karena menggunungnya harapan akan cerita bahagia sepasang karib. Gunung Gede mungkin jadi tempat yang bersejarah untuk Bang Anyuk dan Kak Uki, pasalnya di tempat inilah kuncup-kuncup cinta mereka merekah dengan indah. Lucky you, kak! ^^ ♥

Menurutku keputusan untuk mengajak wanita mendaki gunung adalah sebuah keputusan yang sangat berani.
Ketika punggungmu sakit, ada dia yang merelakan punggungnya untuk menanggung bebanmu,

ketika semua orang melangkah cepat di depanmu dan meninggalkanmu, ada dia yang menjejeri langkahmu,

ketika nafasmu mulai terasa sulit, ada dia yang menemanimu istirahat menstabilkan nafas,

ketika kerongkonganmu terasa kering, ada dia yang menyodorkan air untuk menghapus dahagamu,

ketika kamu merasa ragu dan takut untuk melangkah, ada dia yang mengulurkan tangan, meyakinkan dan memberimu rasa aman untuk melangkah,

ketika kamu mulai mengeluh, dalam lelah dia tetap tersenyum dan menyemangatimu,

ketika kamu lengah, ekor mata dan kesigapannya tak pernah lengah menjagamu,

ketika yang lain terlelap dalam kehangatan, dia rela menerobos dingin hanya untuk mengantar dan menungguimu buang air,

ketika kamu kedinginan, ada tangannya yang menggenggam jemarimu dan memberikan jaketnya untuk menghangatkanmu,

Selalu ada dia yang berusaha keras untuk menjaga dan membahagiakanmu.

 

Ketika mendaki gunung, karakter dari masing-masing kepala seolah begitu transparan, dari sanalah keterikatan hati mudah terjalin. Hahaha… jadi mellow gini. Abang, I love you!

Matahari pagi Surya Kencana

Well, menurut banyak orang, Gunung Gede adalah tempat yang sangat memukau, tapi bagiku, Gunung Ciremai tetap menempati deretan teratas karena di sanalah langkah awal perjalananku sebagai penikmat (atau Pencinta?) alam dimulai dan chemistry antara aku & abang mulai terjalin :p


Perjalanan ke Gede, jika boleh aku ingin mengulangnya. :(

Jam 6.30 a.m. aku berangkat dari Majalengka dan sampai sekitar pukul 2 p.m. di Jakarta, kemudian sebelum packing ulang kami menghabiskan waktu di tempat bang Sugy. Dengan berjalan kaki, jam 10 p.m. lewat sekian menit kami menjadi orang paling terakhir yang datang ke PMI Jakbar. Aku bertemu wajah-wajah baru. Tanpa memperkenalkanku, abang langsung tenggelam dalam euphoria sahabat-sahabat karib. Aku sendirian. Abang Jahat!!! :( *Cuma bang Anyuk dan kak Leha yang menjabat tanganku*

Dengan menggunakan mobil tronton yang disediakan oleh panitia, perjalanan menuju Gede pun dimulai. Belum sempat istirahat dari pagi, rasa kantuk pun menyerang, tapi karena ga bisa tidur kepala pun sedikit pusing, tapi hal tersebut tidak mengurangi sukacitaku, orang-orang baru di sekelilingku begitu talkactive dan menyenangkan. Ada saja tingkah mereka yang membuatku ngakak dalam hati.

Bogor di depan mata, Jakarta pun perlahan tertinggal di belakang. Aku ga suka medan licin, aku gamau menyusahkan abang, maka sepanjang perjalanan yang kadang diselingi oleh gerimis dan hujan lebat, aku mengetuk pintu langit, mengudarakan do’aku supaya perjalanan kami lancar dan hari cerah.

Sekitar pukul 2 a.m. kami tiba di daerah pemukiman warga (entah apa namanya) jalur Gunung Putri. Kesan pertama? Dingiiiiiiiiiin… sedikit gerimis. Kak Kiki memberiku permen, dan aku sedikit berbincang dengan orang-orang yang ada di dekatku saat itu, mereka ramah, itu menjadi perintang hati yang sedikit menenangkan perasaanku.

Pendakian dimulai pukul 4 a.m. tepat setelah adzan shubuh berkumandang, dimulai dengan do’a, kami telah menyiapkan hati kami untuk menyapa salah satu keagungan-Nya.

Gunung Gede termasuk yang agak ribet perizinannya (tapi karena panitia yang ngurus, aku gatau gimana ribetnya hehehe) dan termasuk gunung favorit para pendaki. Ketika sampai di GPO kami dicek, harus memakai sepatu, tidak boleh membawa barang-barang yang mengandung bahan kimia seperti shampoo, pasta gigi, sabun, dan entah apa lagi.

Entah bagaimana awalnya, mungkin pengaruh hormon juga (hari itu aku sedang menstruasi hari ke-2), emosi menguasai diriku, aku ga terlalu suka jika abang terlalu memperhatikan wanita lain. Aku memang tipikal pencemburu hahaha but love is nothing without jealousy, isn’t it? :p

Perasaan negatif itulah yang membunuh konsep-konsep yang sudah dipersiapkan sebagai hadiah untuk pasangan yang sedang berbahagia, dan juga kenikmatan yang seharusnya menemani perjalanan kami. Aku dan abang ditemani kebisuan, awan hitam yang biasanya setia menemani langit kota hujan itu seakan berpindah ke pelupuk mataku, berat sekali rasanya.


Setelah melewati pos pertama kami terpisah dari rombongan, mendamaikan hati yang bahkan tak berselisih. Dan berdamai setelah semua akar masalah diutarakan.

Dalam hidup ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah, tapi dasar dari semua itu adalah keterbukaan dan keberanian untuk mengeluarkan “kata”. Dan jangan pernah mencoba berbohong dengan mengatakan jika kamu baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak!

Entah siapa yang berpendapat, hati menjadi lapang ketika melihat hal yang lapang. Ketika sampai di suryakencana, mata, hati, pikiran, rasanya semua inderaku dimanjakan oleh keindahan ciptaan-Nya. Kebahagiaan itu terasa lengkap, karena dia di sisiku. Semua perasaan negatif  yang sebelumnya muncul, sirna sudah. Kami pun terus menyusuri padang edelweiss menuju sumber mata air mencari mas Daus dan bang supri yang telah lebih dulu sampai. Setelah bertemu, sambil menunggu rombongan, kami menggelar tenda dan mengisi perut. Tapi kami tak menemukan satu orang pun dari rombongan sampai penutupan hari.

Berjalan beriringan menyusuri padang Edelweiss


Ada dua hal yang abang ingkari, pertama ketika aku mengajak foto di padang edelweiss, abang menawarkan untuk berfoto dengan edelweiss yang dihiasi cantiknya embun pagi, tapi kami tak pernah melakukan itu. Kedua, aku mengajak keluar untuk melihat sunset, abang menawarkan untuk melihat sunrise tapi esoknya, abang kedinginan dan gamau bangun :(

Surya Kencana ketika masih sepi

Setelah bercengkrama menikmati dinginnya pagi sambil menyeruput susu, makan mie dan roti bakar, kami berbagi tugas, bang supri dan mas daus mengambil air, abang bikin kopi, beresin tenda, sedangkan aku mencari anggota rombongan yang lain. Tapi sayang aku tidak menemukan mereka.

Canda Tawa menghangatkan suasana pagi

Akhirnya kami pun muncak dan di tengah perjalanan menuju puncak, kami bertemu dengan rombongan. Waaaah, haru biru mewarnai pertemuan kami hehehehe bang Jajang bercerita tentang bagaimana khawatirnya beliau karena berkali-kali mencari kami tapi tak jua bertemu. Kami pun merasakan hal yang sama ditambah perasaan bersalah karena membuat yang lain khawatir. Tapi setelah itu kami berpisah lagi. Zzzzz…

Aku belum pernah bertemu orang banyak di puncak gunung lain, selain di Gede dan Tangkuban Parahu. (jelas lah orang jarang naik gunung hahaha). Satu hal yang aku sesali, kami tidak sempat menjadi saksi romantisme lamaran bang Anyuk untuk kak Uki. :(

Kami turun melalui jalur Cibodas, mengulur-ulur waktu sepanjang perjalanan, menghabiskan waktu untuk sekedar menyeduh kopi dan menyantap mie di tengah perjalanan, mengambil air dan beristirahat lama di tempat camp tapi rombongan tak juga menyusul. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan berempat. Beberapa meter sebelum sampai basecamp (bada maghrib), turunlah hujan lebat. Aku membayangkan rombongan, dan semakin kagum lah aku pada mereka yang menghandle barang sekaligus menjaga para wanita.




[caption id="attachment_1512" align="aligncenter" width="300"]"I am Proud of being d'black g'black's Family," said Abang "I am Proud of being d'black g'black's Family," said Abang[/caption]

Sekitar jam 11 malam, kami pun berkumpul dan bersiap untuk kembali ke Jakarta.




Terima kasih untuk pengalaman hebat bersama orang-orang hebat. Mohon maaf untuk semua yang hal yang tidak berkenan, semoga kita bisa berjalan bersama lagi di waktu, Tempat, dan keadaan yang lebih baik.