Selasa, 19 Mei 2026

Update Penyakit Bapak

Dulu, aku berpikir bahwa penyakit itu ada kastanya. Misal cacingan, atau masalah kulit hanya terjadi pada orang yang ekonominya kurang, kalau kanker dan segala penyakit yang aneh atau tidak umum hanya terjadi pada orang kaya. Sungguh naif. 

Kemungkinan besar orang yang ekonominya kurang hanya tidak terdeteksi karena mereka jarang melakukan medical check up. Jangankan untuk melakukan medical check up yang harganya tidak murah, terkadang untuk makan bergizi "seimbang" pun belum tentu ada. 

Jadi, setelah pulang dari rawat inap kemarin, dua minggu kemudian Bapak melakukan kontrol ke poli dalam RSUD Cideres. Diambil darah untuk pemeriksaan laboratorium yaitu hematologi rutin dan Gambaran Darah Tepi. 

Melihat hasil dan diagnosisnya, hati seolah-olah terseret ombak dan terhantam karang. Perih dan menyesakkan. 


Pihak RS akhirnya merujuk Bapak ke RS Gunung Djati Cirebon. Diagnosisnya seperti yang terlihat di gambar yaitu Susp. Leukimia dd AML, Anemia, Dyspepsia, Acute on CKD. Jadi bukan hanya ginjal, bukan hanya anemia, tapi Leukimia atau kanker darah. Sel darah putihnya empat kali lipat batas atas nilai normalnya. Astaghfirullah. 

Awalnya Bapak berkonsultasi denganku tentang hasil lab dan pemeriksaan apa yang akan dilakukan berdasarkan hasil dari RS Cideres. Mendengar penjelasanku, Bapak menciut, tidak mau melakukan check up ke RS Gunung Djati. Mamah sempat menegurku karena mengutarakan fakta (padahal aku tidak berkata kalau Bapak sakit kanker). Suamiku juga bilang "kamu menyampaikan hal yang terlalu teknis, seharusnya cukup menyampaikan hal yang humanis." 

Aku bingung bagaimana menghadapi segalanya, rasanya seperti ditampar dipaksa menghadapi kenyataan, padahal otak ini baru saja memproses berita tersebut. 

RS Gunung Djati

Selang berlalu, Mamah menelpon bahwa Bapak mau untuk diajak check up ke RS Gunung Djati, tapi perlu digarisbawahi "hanya check up". Mamah mengkonfirmasi ke poli apa nanti datangnya, dan juga memintaku memastikan jadwal dokternya. 

Pada 22 April 2026, Bapak dan Mamah berdua ke RS Gunung Djati Poli Hematologi dan Onkologi (HOT). Tanpa tahu letaknya dimana, aku bersyukurnya kemudahan transportasi sekarang, bisa memesan ojek online, jadi orang tuaku bisa dijemput dan diantar langsung ke tujuan tanpa harus transit kesana kemari. Jarak dari rumah ke RS Gunung Djati sekitar dua jam lebih. Ongkos ojek online sekitar Rp 300.000 sekali jalan.

Hati sedih sekali membayangkan mereka berdua melakukan perjalanan yang jauh, tanpa ditemani anak-anaknya. Melakukan proses pendaftaran dan segala prosedur di RS yang jauh dari kata sederhana. Semoga Allah berikan kesehatan dan panjang umur untuk Mamah dan Bapak aamiin.

Pemeriksaan yang dilakukan di RS Gunung Djati yaitu Darah Rutin, Diff count, retikulosit, dan morfologi darah tepi. 




Hasilnya kurang lebih sama dengan di RS Cideres. Kabar baiknya Hemoglobinnya sudah meningkat, jadi Bapak sudah bisa beraktivitas normal seperti menyapu, berkebun dan aktivitas ringan lainnya. 

Dan kabar baik lainnya adalah Diagnosis Bapak Susp. CLL (Chronic Lymphocytic Leukemia) jika sebelumnya adalah AML (Acute Myeloid Leukemia). CLL Ini tipe yang lebih lambat berkembang, tidak se-darurat leukemia akut. 

Tapi diagnosisnya masih belum final, masih dibutuhkan pemeriksaan lanjutan yaitu flow cytometry dan bone marrow. Nah, setelah dua kali ke RS Gunung Djati di hari yang berbeda, (pertemuan pertama untuk pemeriksaan lab, pertemuan ke-dua untuk konsultasi hasil dengan dokter), menurut Dokter Sutiadi Kusuma, Sp. PD., KHOM, Bapak harus melakukan pemeriksaan bone marrow. 

Mamah dan Bapak diberikan pilihan, jika akan menggunakan BPJS maka akan dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung, tapi jika bersedia membayar sendiri maka pemeriksaan tersebut bisa dilakukan ke Prodia Cirebon. Kami diberikan waktu seminggu untuk mempertimbangkan hal tersebut.

Masalahnya adalah Bapak tidak mau diambil cairan sumsum tulang belakangnya, karena banyak hal yang jadi pertimbangan, belum lagi pengalaman dari temannya yang juga terkena leukimia.

Setelah berdiskusi panjang tentang prosedur, dampak, dan lain sebagainya, akhirnya Bapak memutuskan untuk tidak melanjutkan pemeriksaan. Bapak benar-benar sudah pasrah mengembalikan perihal maut kepada pencipta-Nya. 

Sebenarnya ending yang sudah bisa kutebak dari awal alur ini dimulai. Dari awal Bapak sudah memberikan statement tidak mau diambil sumsum tulang belakang ataupun kemoterapi. Jadi ketika RSUD Cideres mengusulkan untuk dirujuk ke RS Gunung Djati Cirebon, sebenarnya aku ingin menyampaikan bahwa ujungnya pasti ke sana (Pemeriksaan bone marrow dan kemoterapi).

Tapi berharap ada keajaiban, aku mendukung apapun keputusan Bapak dan Mamah. Aku hanya tidak ingin Bapak merasa stress, lelah fisik dengan perjalanan jauh, lelah secara emosional karena pasti prosedur RS itu berbelit-belit, antrinya, dan sebagainya. Aku hanya ingin mari kita buat akhir yang indah, tanpa rasa sakit atau lelah. 

Aku berharap, Bapak masih sanggup bertahan dalam waktu yang panjang, diberikan kesehatan dan umur yang panjang. Bisa membuat banyak kenangan indah bersama pasangan, anak cucunya, bisa fokus mendekatkan diri dengan beribadah pada Allah Swt. Semoga Allah mengijabah do'a kami semua. Stay strong, Bapak! Maafkan karena anakmu ini jauh dan tidak bisa menemanimu setiap hari. 

Continue reading Update Penyakit Bapak

Senin, 30 Maret 2026

Bapak Sakit Anemia Gravis Akibat Penurunan Fungsi Ginjal

 Check up yang berujung dirawat berhari-hari di Rumah Sakit. Mungkin itulah yang akan dikatakan oleh orang awam. 

Self Diagnosis 

Bapak mengeluh jadi mudah capek ketika bekerja di ladang, ditambah berat badan yang turun drastis. Bapak mengira bahwa beliau terkena Diabetes, karena 5 dari 12 bersaudara meninggal karena Diabetes. Nenek dari pihak Bapak memang meninggal karena Diabetes. 

Dengan keyakinan tersebut, Bapak minta dibelikan susu untuk orang yang sakit diabetes, melakukan diet ketat berupa cut gula, kopi, dan Alhamdulillah bisa berhenti merokok juga.

Setiap hari jadi rajin Shalat Subuh ke Masjid, bahkan minta dibelikan sepeda untuk berolahraga.

Perubahan gaya hidupnya menjadi lebih mindful. Tapi satu hal yang disesalkan, Bapak tidak mau diajak berobat ke Dokter. Alasannya karena terakhir Mamah sakit, dokter salah mendiagnosis, mamah sakit maag kronis yang menyebabkan sakit kepala hebat, tapi dokter mendiagnosis terkena jantung atau struk, benar-benar mengerikan.

Medical Check-up

Setelah libur lebaran, tanggal 25 Maret 2026 poli rawat Jalan Rumah Sakit Cideres baru buka kembali. Aku yang sedang mudik, berinisiatif untuk mengajak Bapak MCU. Malamnya Bapak melakukan puasa (boleh minum air putih), terakhir makan sekitar pukul 18.00.

Kami berangkat ke RS Cideres pada pukul 7.00. Langsung ke bagian pendaftaran poli rawat jalan tanpa mengambil antrian, kami mendaftar dengan biaya pribadi. Selanjutnya kami diarahkan ke Poli MCU di Ruang Jatayu lantai 2. Kami menunggu cukup lama, akhirnya setelah bertanya ke perawat yang baru standby di tempatnya, kami disuruh datang ke poli penyakit dalam. 

Di poli penyakit dalam, perawat menanyakan parameter yang akan diperiksa, melakukan tensi, mengonfirmasi ulang bahwa biayanya cukup mahal jika tidak ditanggung BPJS. Saya meminta pemeriksaan Hematologi Lengkap, Profil Lipid, Fungsi Hati, Fungsi Ginjal, Urine Lengkap, Rontgen, dan EKG.

Setelah itu kami ke laboratorium untuk pengambilan darah. Tidak menunggu terlalu lama, kami langsung dipanggil, setelah pengambilan darah, Bapak mengambil sampel urine.

MCU - Pengambilan Darah Oleh petugas Laboratorium 

Selanjutnya kami datang ke bagian Radiologi untuk periksa rontgen. Bapak diminta masuk ke ruangan 2, kemudian diminta berbaring. Di sini tidak perlu berganti pakaian atau hanya memakai pakaian yang dipakai dari rumah.

Setelah selesai kami langsung ke ruangan untuk cek EKG, lokasinya berada di ujung dekat dengan poli penyakit dalam. Kami menunggu cukup lama, karena petugas belum berada di tempat.

Aku menyarankan Bapak untuk buka puasa dulu dengan makan dimsum mentai dan buah pepaya potong yang aku beli di kantin.

Sambil menunggu petugas, aku memutuskan untuk ke kasir dahulu, ternyata karena EKG belum diperiksa, jadi invoicenya belum masuk. Aku hanya membayar pemeriksaan laboratorium dan Rontgen dahulu.

Ketika Bapak dicek EKG, aku mendengar namanya dipanggil menggunakan speaker. Aku cukup kaget karena merasa telah melakukan semua pemeriksaan yang dibutuhkan. Aku bertanya pada petugas EKG, menurutnya jika dipanggil menggunakan speaker biasanya itu berasal dari poli penyakit dalam. Oh, ya. Hasil EKG Bapak 107 BPM per menit. Cukup tinggi dibandingkan dengan nilai normal 60-100 BPM per menit dalam keadaan istirahat. 

Setelah itu, aku menemui perawat poli penyakit dalam untuk bertanya perihal dipanggil tadi. Dan perawat menyarankan Bapak untuk dirawat karena:

Hasil Laboratorium

- nilai Hemoglobinnya berada di nilai kritis 6.5 g/dL 

- Leukosit (sel darah putihnya) juga berada di nilai kritis 46.420/mm3. 

- LED juga sangat tinggi 170 mm. 

- Fungsi ginjal menurun ditandai dengan Ureum yang tinggi 72 mg/dL (nilai normalnya 20 - 40 mg/dL), Creatininnya 2.1 mg/dL (nilai normalnya 0.6 - 1.2)

- Glukosa puasa bagus 97 mg/dL. 


Masuk IGD

Aku mengonfirmasi informasi dari perawat kepada Bapak. Bapak memutuskan untuk menunggu hasil MCU secara lengkap baru memutuskan untuk dirawat atau tidak. Setidaknya kekhawatiran Bapak soal Diabetes terpatahkan dan itu membuatnya kembali optimis.

Setelah menunggu cukup lama, aku mengambil hasil rontgen dan Laboratorium. Hasil rontgennya diluar dugaan termasuk hasil yang bagus, mengingat riwayat Bapak sebagai Perokok berat. Masalahnya adalah di Laboratorium, penurunan fungsi ginjal dan anemia parah dan juga leukosit yang sangat tinggi. 

Aku membujuk Bapak untuk dirawat, aku hanya menekankan bahwa Bapak Anemia, jika terlalu rendah khawatir bisa pingsan kapan saja, jadi lebih baik dirawat. Aku tidak mau merusak optimisme Bapak atau membuatnya stress dengan hasil laboratorium yang lain. Biar dokter saja yang menyampaikan langsung ketika Bapak nanti sudah dirawat.

Akhirnya Bapak mau masuk IGD. Mamah yang sedari tadi khawatir, jadi heran karena katanya hasilnya bagus tapi kenapa harus dirawat. Pas MCU, Bapak lupa membawa identitas dll. Akhirnya ketika hendak daftar ke IGD, adikku mengantarkan KTP dan kartu BPJS Bapak. Kami berada di ruang transit cukup lama. Di IGD Bapak diberikan obat penambah darah yang diminum 1 jam sebelum makan.

Di ruang transit IGD ditemani anak-anaknya 

Menjelang malam, aku pulang bergantian dengan mamah, karena anak-anak hanya dijaga oleh adik iparku (memegang 4 orang anak sendirian). 

Sekitar pukul 22.00 Bapak dipindah ke ruang rawat Cendrawasih di lantai 2. Ada A Iwan yang membantu pindahan. 


Transfusi

Sekitar pukul 05.34 WIB esok harinya Bapak baru ditransfusi dengan 2 labu darah. Hanya ada Mamah yang menemani Bapak. Mamah diberi informasi untuk melakukan donor darah di PMI, tapi mamah kurang menangkap instruksi dengan jelas. Aku juga tidak mengerti bagaimana alurnya. 

Transfusi pertama

Di hari ke-2 Bapak dirawat aku datang setelah shalat Maghrib, Mamah pulang sebentar untuk mandi. Setelah bersih-bersih di rumah, Mamah kembali ke RS dan aku pulang. Betapa setianya mamah menemani Bapak, bahkan diminta untuk istirahat di rumah pun, Mamah gamau.

Di waktu sore hari ke-2, dokter H. Irwan Haris, Sp.PD, FINASIM (dokter spesialis penyakit dalam) baru melakukan visit. Malamnya Bapak diminta puasa lagi, karena pagi hari akan diambil darah untuk cek lab lagi. 

Aku Pulang

Di hari Sabtu, aku harus kembali ke Bogor, dengan keyakinan Bapak akan pulang, hati masih agak berat untuk pergi. Ternyata hasil transfusi, ternyata Hb Bapak masih rendah dan diminta untuk melakukan transfusi lagi. Hasil Asam Uratnya pun tinggi yaitu 11 mg/dL. Bapak diberikan antibiotik, obat lambung, obat mual, penambah darah, dll.

Bapak dan mamah awalnya menyangka akan pulang di hari ke-3. Mendengar keputusan dokter yang tidak mengizinkan pulang dan harus melakukan transfusi lagi, mereka terdengar cukup frustasi. Terlebih karena AC di ruangan sepertinya rusak atau mode fan jadi Bapak sangat kegerahan dan tidak bisa tidur nyenyak.

Dan yang cukup membuat Bapak terguncang adalah pihak Bank Darah yang menyatakan tidak ada stock darah (karena keluarga Bapak belum melakukan donor darah di PMI). Akhirnya Bapak memutuskan untuk pulang saja. Tapi entah bagaimana ceritanya, akhirnya stock darah tersedia dan Bapak Alhamdulillah ditransfusi. 

Transfusi ke-2

Alhamdulillah buat beet yang aku pesan online sudah datang, adikku inisiatif untuk menggabungkan buah beet dengan buah naga di tukang jus (karena blender di rumah rusak).

Lepas Infus

Alhamdulillah pada hari Minggu, 29 Maret 2026 sore hari setelah visit dokter, selang infus sudah dilepas, tapi masih belum tahu hasil lab sebelumnya, dan untuk bisa pulang masih menunggu visit dokter. 


Karena merasa sudah sehat dan kegerahan di dalam, Bapak duduk di depan ruang rawat inap sambil menunggu visit Dokter. 

Pulang

Akhirnya setelah menanti visit dokter yang tidak kunjung datang, perawat memberikan pilihan untuk tetap menunggu visit dokter atau langsung pulang. Bapak dan Mamah yang memang sudah tidak sabar untuk pulang, akhirnya memilih langsung pulang. 


Pada Senin, 30 Maret 2026, akhirnya Bapak sampai di rumah. Alhamdulillah. Semoga Allah memberikan kesembuhan dengan tiada sakit setelahnya. Aamiin.

Bapak diberikan surat untuk kontrol lagi pada tanggal 7 April 2026.

Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Continue reading Bapak Sakit Anemia Gravis Akibat Penurunan Fungsi Ginjal