Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveling. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 September 2023

Main ke Bojong Karnival Cimanggis

Akhirnya tunai sudah janji pada anak lanang. Sudah lama mengajak mereka untuk datang ke event ini, tapi baru terealisasi hari ini. 

Rencananya kami akan datang di tanggal 4 September, sekaligus merayakan wedding anniversary. Karena masih ada bayi, jadi kami memilih hiburan yang jaraknya dekat dengan rumah. 

Tapi Qodarullah kami berhalangan datang di hari itu. Tanggal 27 Agustus sebelumnya, hari ke-2 pembukaan, kami datang ke sana, tapi ternyata sama sekali belum ada wahana. Hanya ada event senam Ibu-Ibu. 

Untuk masuk ke Bojong Karnival ini, harus menggunakan kartu. Kartu bisa dibeli di kasir. 

Pertama kali datang, akhirnya kami hanya membeli kartu senilai 50 ribu. Kemudian pulang lagi. 

Awalnya petugas perempuan menyebutkan bahwa saldo yang ada dalam kartu bisa direfund, ternyata setelah aku baca, di kartunya ada pernyataan bahwa saldo tidak bisa diuangkan. 

Banyak Wahana yang Belum Siap

Acara karnival ini ada akun khususnya di Ig, dan menggandeng banyak influencers. Iklan di jalan-jalan juga semarak sekali beriringan dengan iklan parpol. 

Tapi ternyata ketika kami datang untuk ke dua kalinya, masih banyak wahana yang belum siap. 

Pintu masuk ada di sebelah tempat loket, masuk ke dalam ruangan akan disambut oleh permainan capit boneka, kemudian games yang ada seperti di Timezone. 

Kemudian diarahkan ke luar, dan kami langsung naik bianglala. Ada juga wahana kereta mini, rumah hantu, kora-kora, ontang anting, mobil aki, playground tempat main pasir ajaib, mewarnai kanvas, kostum profesi, perosotan balon, dll. 

Tidak banyak wahana yang kami naiki, hanya bianglala, mobil aki, dan ontang anting. 

Di bianglala satu room, hanya bisa dinaiki oleh 3 orang. Kemudian kami naik mobil aki. Mobil aki ini paling ramai pengunjungnya, dan antrinya cukup lama. Tapi durasinya cukup panjang sih, sampai anak-anak minta turun karena bosan. 

Ketika naik mobil aki, sebenarnya anak-anak ingin naik kora-kora, tapi wahananya tidak dijalankan, dan ontang anting pun sedang dalam proses setting atau maintenance. 

Untungnya setelah naik mobil aki, kami bisa naik ontang anting. Wahana ini cukup aman dinaiki oleh anak-anak, anakku yang berusia 6 tahun berani menaiki ini sendirian. 


Kecepatannya disesuaikan dengan umur pengunjung yang naik. Kebetulan memang yang naik masih sedikit, jadi ketika anakku naik, hanya ada 3 orang yang naik, dan semuanya anak kecil. Jadi kecepatannya aman. 

Untuk top up saldo, bisa dilakukan di dalam area bermain juga, di sebelah cafetaria. Untuk Muslim Market masih kosong, bahkan sepertinya masih dalam renovasi. Aku juga tidak menemukan (atau karena tidak bertanya) toilet atau mushola. 

Wahana yang masih dalam tahap pembangunan diantaranya Museum Cinta dan Slider warna warni. 

Menurut aku harga di Bojong karnival ini cukup pricey ya. Bianglala 7.5 bk atau Rp 15.000 per orang. Mobil aki 12.5 bk atau Rp 25.000, dan ontang anting 7.5 bk. 

Lebih puas kalau main di dufan dengan panjang antriannya tentu saja hehehe. Tapi kami cukup gembira bisa mengajak anak-anak bermain ke sini. Karena ada semacam rindu dengan suasana pasar malam dengan wahana yang ada di dalamnya. 

Setelah naik ontang anting, anakku mengeluh pusing, akhirnya kami bergegas pulang karena gerimis juga. 

Semoga Event ini sukses, dan mampu membahagiakan hati banyak anak-anak yang datang bermain di sana. 

Continue reading Main ke Bojong Karnival Cimanggis

Sabtu, 02 Januari 2016

Aku Ingin Satu Januari Setiap Hari

Melakukan perjalanan jauh berdua tampak begitu impossible dilakukan sepanjang tahun 2015 kemarin. Jadwal kerja yang berbenturan, sama-sama menjadi karyawan baru yang belum mendapat cuti, dan perasaan lelah yang entah begitu betah menggelayut setiap waktu. Mungkin adaptasi dari sebuah ritme baru di dunia kerja.

Perjalanan di awal tahun 2016 ini seolah mengisi ruang kosong yang kami lewatkan di tahun 2015. Satu setengah jam lamanya dia berada di balik kemudi motornya, tak ada keluhan panas yang tanpa ampun membakar punggung kaki dan muka kami, tak ada keluhan tentang banyaknya lampu merah yang memberikan jeda terlalu lama untuk kami, tak ada keluhan tentang macet yang mengharuskannya mencari celah-celah sempit dari jalanan yang disita ribuan kendaraan dalam waktu bersamaan. Ya, dia begitu pandai menyembunyikan emosinya. Dia menjadi cermin bagiku, betapa kami sangat berbeda, tapi hey, bukankah kutub yang berlawanan akan saling tarik menarik?

Alam terbuka, pemandangan hijau, dan potret indah bumi pertiwi adalah dunia kami. Mungkin itulah salah satu kesamaan yang kami punya. Dan hari ini kerinduan menarik kami ke Depok. Kampung 99 pepohonan, tempat yang (semula) kami tuju.

Jauh, terasa sangat jauh sekali. Terasa jauh bahkan dibandingkan ketika kami melakukan perjalanan Jakarta-Majalengka. Sayangnya, lelah kami tak terobati. Kami tidak menemukan apa yang kami cari di sana. Tidak sampai 10 menit kami berkeliling.

Waktu yang kami miliki begitu sempit, kami memutuskan untuk shalat di awal waktu, dan akhirnya menginjakkan kaki di mesjid kubah mas. Mesjid megah dengan daya magis yang menarik ribuan pengunjung.



Rumput hijau menghampar luas di sepanjang jalan menuju mesjid. Banyak orang yang rehat di sana. Kami pun turut serta. Inilah moment yang paling aku suka. Duduk berdua, bertukar pikiran, berbicara dari hati ke hati. Tapi tak ada canda jenaka darinya hari ini. Aku maklum, dia terlalu memforsir fisiknya, dan manajemen waktunya tak seperti yang seharusnya.



Dia bukan orang yang detail atau terorganisir, tapi dia selalu berusaha memenuhi semua kebutuhanku. Kami mampir di sebuah warung tenda untuk mengisi perut. Sebenarnya aku agak ragu melihat sanitasi di sana tapi aku tetap mengikutinya. Dan terbukti, lalat beragam ukuran, kucing yang terus menerus menjilati kakiku, bahkan sampai karpet meja yang diterbangkan angin mengenai wajahku, semua itu melenyapkan selera makanku, dan sedikit banyak mempengaruhi alam bawah sadarku. Jangan ajak aku makan di pinggir jalan, please!

Seolah mengerti kekecewaanku, alam pun menangis, hujan mengiringi kepulangan kami tapi aku suka.

Aku ingin satu Januari setiap hari, agar aku bisa menghabiskan waktu bersamanya, karena aku suka, benar-benar suka bersamanya.

Lokasi: Mesjid Dian Al Mahri
Continue reading Aku Ingin Satu Januari Setiap Hari

Rabu, 14 Oktober 2015

Perpustakaan Umum Daerah DKI Jakarta

Salah satu tempat yang selalu menarik untuk dikunjungi adalah perpustakaan. Siapa sangka wisata perpustakaan bisa jadi kegiatan yang menyenangkan. Perpustakaan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta salah satunya.




Perpustakaan ini terdiri dari 4 lantai.

1. Ground
Begitu memasuki pintu, kita akan disambut oleh security, dan kita dipersilahkan untuk mengisi buku pengunjung. Uniknya, selain cara manual, di sini juga bisa mengisi buku tamu dengan cara menscanning kartu anggota saja. Praktis dan ga ribet.

Lantai satu ini tak ubahnya sebuah gallery lukisan. Setelah memasuki ruangan pertama, di ruangan kedua, ada tempat untuk pembuatan kartu anggota, dan peminjaman/pengembalian buku.

Untuk menjadi anggota perpustakaan, kita diwajibkan memiliki KTP Jakarta atau menyerahkan surat keterangan yang menyatakan bahwa kita bekerja di Jakarta. Difoto langsung di sana, walaupun saya sudah membawa foto ukuran yang ditentukan tapi pihak perpustakaan lebih menyarankan untuk foto langsung.

Sebelum memasuki ruangan lain, kita diwajibkan untuk menyimpan tas dan barang-barang lainnya di dalam loker, kecuali untuk barang berharga seperti handphone, dompet, dll bisa dibawa dengan menggunakan tas transparan yang disediakan pihak perpustakaan, kita cukup menitipkan ktp.

Akses masing-masing lantai bisa dengan menggunakan tangga ataupun lift, enak kan?

Continue reading Perpustakaan Umum Daerah DKI Jakarta

Senin, 05 Januari 2015

Taman Bunga Nusantara

Entah lebih ekstrim mana, pertama kali ketemu langsung naik gunung Ciremai berdua atau menembus puncak naik motor di malam hari saat hujan lebat berkabut dan angin kencang.

Perjalanan panjang dari Bekasi menuju puncak dengan menggunakan motor merupakan moment yang jadi bukti kesabaran dan ketangguhan abang (disamping perjalanan Jakarta-Bandung atau Jakarta-Majalengka tentunya). 

Di tengah perjalanan, daerah Bogor, ketika macet parah dan hujan lebat, motor kami sempat terpeleset karena rem depan yang terlalu pakem, karena insiden itu, kaca spion kanan motor abang pecah, Alhamdulillah kami tidak melukai ataupun terluka dalam kejadian ini. Mungkin hanya lecet sedikit, kaki kananku sedikit hematoma tapi semuanya baik-baik saja, entah kalau abang, dia samasekali tidak mengeluhkan sakit atau apapun.

Hujan dan terus hujan. Entah pikiran apa yang menghasut kami supaya datang ke puncak malam itu. Mobil-mobil berderet rapi sama sekali tidak bergerak karena macet, maklum masih suasana liburan tahun baru. Aku yang samasekali tidak berencana liburan jarak jauh hanya membawa kaos untuk ganti pakaian. 

Maka karena khawatir terkena flu atau masuk angin, di tengah jalan kami membeli celana jeans untuk aku, dan sikat gigi serta peralatan mandi lainnya. Kami terus melaju di tengah dinginnya malam berkabut, melawan hujan deras yang mencemooh siapa saja yang keluar malam itu. 

Banyak orang yang menawarkan vila dan penginapan sepanjang jalan. Malam semakin larut, perjalanan kami terasa begitu panjang, setelah melewati Masjid At-Ta’awun, suasana menjadi semakin sepi, jarang ada kendaraan yang melintas, baik di jalur kami maupun di jalur sebaliknya. 

Menginap di Basecamp Pendakian Gunung Gede

Taman-Bunga-Nusantara-Cianjur


Alhamdulillah sekitar jam 11 malam, kami sampai di basecamp pendakian Gunung Gede, dan kami menginap di warung Heri, seorang teman Abang. Apakah ada yang tahu suhu di sana ketika malam hari dan hujan deras? Ketika sikat gigi pun rasanya gigi dipaksa mengunyah es batu yang dinginnya luar biasa. 

Kami memesan mie rebus dan kopi untuk menghangatkan badan. Setelah itu kami langsung beristirahat. Beruntung kami menemukan selimut, kami melapisi tubuh kami dengan tiga lapis selimut yang tersedia di sana. Walaupun sudah mengganti pakaian dengan pakaian kering, masih terasa sangat dingin. Benar-benar dingin. Tapi aku tertidur dengan pulas. 

Tidak terasa, pagi ini kembali datang dengan suasana murung. Gerimis terus turun sampai sekitar jam 7 pagi. Setelah mengisi perut dan men-charge jiwa narsis kami dengan selfie bareng, kami pun turun menuju Taman Bunga Nusantara (tanpa mandi dan hanya sikat gigi).

Untuk menemukan bunga-bunga cantik yang tumbuh di berbagai belahan dunia, cukup datang ke Taman Bunga Nusantara yang terletak di Desa Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Cipanas, Kabupaten Cianjur 43254 Jawa Barat, Indonesia (sesudah puncak sebelum cibodas).

Taman-bunga-nusantara-cianjur

Harga Tiket Masuk Taman Bunga Nusantara (2015)

Tiket masuk ke taman bunga nusantara (2015) senilai Rp 30.000,- (berlaku per orang untuk usia 4 tahun ke atas), parkir motor Rp 5.000,- sedangkan mobil Rp 10.000,- cukup mahal ya, tapi ga rugi ko, di sana kita dimanjakan oleh pemandangan yang menyenangkan. Pas di pintu masuk aja, banyak orang yang sudah melakukan foto-foto (termasuk kami) hehehe…

Taman-Bunga-Nusantara-Cianjur

Satu kata yang keluar dari mulut kami ketika melihat suasana di dalam taman bunga tersebut, MAA SYAA ALLAH! Indah nian ciptaan-Mu ya Allah. Berwarna-warni menyejukkan hati, meneduhkan pandangan. Kami pun sambil bergandengan tangan berkeliling ke setiap penjuru taman sampai hujan turun. 

Banyak orang yang semangatnya tidak surut walaupun diguyur hujan yang rintik-rintik, mereka tetap hilir mudik ke sana dan kemari, acuh tak acuh walau kepala dan sekujur mereka basah kuyup. Ada juga pasangan yang sangat memperhitungkan rencana kencan mereka, mereka membawa payung, jadi masih bisa berjalan-jalan sambil berpayung berdua di tengah gerimis, ahh romantis sekali. Detik itu juga aku berniat untuk membeli payung.

Labyrinth-Garden-dari-Observation-Tower
Berlatar Labyrinth Garden dari Observation Tower

Selain warga Indonesia, kami juga melihat ada orang asing yang datang ke sini. Bahkan bersantai ria seolah sedang menikmati bulan madu di tengah hamparan padang Bunga yang menawan.

Taman-Bunga-Nusantara-Cianjur

Sayangnya, karena hujan kami tidak sempat mengunjungi beberapa tempat di taman ini. Dan Abang berkata kurang bisa menikmati keindahan tamannya karena hujan. Tapi bagaimanapun aku bersyukur memiliki pengalaman datang dan menyaksikan sendiri hidden soul taman ini bersama orang terkasih.

First-date-in-Bogor
Our first date filled with laughter, joy, and love

Masih dengan menerobos hujan, jalan yang sedikit kurang bersahabat, becek dan jelek, kami pun memulai lagi perjalanan menuju kosanku. Perjalanan lancar sampai di daerah darmaga km 7, terjadi kemacetan parah dikarenakan ada kebakaran. Macet total. Melelahkan.


Kemacetan tersebut menguapkan isi perut kami, jadi ketika di daerah ciampea kami pun mampir ke warung djembat dan makan dengan lahap. Asupan energy setelah menempuh ratusan kilometer. Yummy yippi yip!!!

Dan tiba di kosan abang pun menghemat waktu, segera pulang tanpa singgah di kosan. Ah, detik ketika melepasmu pun sudah menyisakan kerinduan, bagaimana hariku malam ini?
Continue reading Taman Bunga Nusantara

Selasa, 04 November 2014

Aku, Kau, dan Gede

Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk naik gunung lagi. Rasanya seperti burung yang lepas dari sangkar emas kali ya hehe… Seneeeeeengg!!! Tapi pendakian kali ini sedikit berbeda, karena menggunungnya harapan akan cerita bahagia sepasang karib. Gunung Gede mungkin jadi tempat yang bersejarah untuk Bang Anyuk dan Kak Uki, pasalnya di tempat inilah kuncup-kuncup cinta mereka merekah dengan indah. Lucky you, kak! ^^ ♥

Menurutku keputusan untuk mengajak wanita mendaki gunung adalah sebuah keputusan yang sangat berani.
Ketika punggungmu sakit, ada dia yang merelakan punggungnya untuk menanggung bebanmu,

ketika semua orang melangkah cepat di depanmu dan meninggalkanmu, ada dia yang menjejeri langkahmu,

ketika nafasmu mulai terasa sulit, ada dia yang menemanimu istirahat menstabilkan nafas,

ketika kerongkonganmu terasa kering, ada dia yang menyodorkan air untuk menghapus dahagamu,

ketika kamu merasa ragu dan takut untuk melangkah, ada dia yang mengulurkan tangan, meyakinkan dan memberimu rasa aman untuk melangkah,

ketika kamu mulai mengeluh, dalam lelah dia tetap tersenyum dan menyemangatimu,

ketika kamu lengah, ekor mata dan kesigapannya tak pernah lengah menjagamu,

ketika yang lain terlelap dalam kehangatan, dia rela menerobos dingin hanya untuk mengantar dan menungguimu buang air,

ketika kamu kedinginan, ada tangannya yang menggenggam jemarimu dan memberikan jaketnya untuk menghangatkanmu,

Selalu ada dia yang berusaha keras untuk menjaga dan membahagiakanmu.

 

Ketika mendaki gunung, karakter dari masing-masing kepala seolah begitu transparan, dari sanalah keterikatan hati mudah terjalin. Hahaha… jadi mellow gini. Abang, I love you!

Matahari pagi Surya Kencana

Well, menurut banyak orang, Gunung Gede adalah tempat yang sangat memukau, tapi bagiku, Gunung Ciremai tetap menempati deretan teratas karena di sanalah langkah awal perjalananku sebagai penikmat (atau Pencinta?) alam dimulai dan chemistry antara aku & abang mulai terjalin :p


Perjalanan ke Gede, jika boleh aku ingin mengulangnya. :(

Jam 6.30 a.m. aku berangkat dari Majalengka dan sampai sekitar pukul 2 p.m. di Jakarta, kemudian sebelum packing ulang kami menghabiskan waktu di tempat bang Sugy. Dengan berjalan kaki, jam 10 p.m. lewat sekian menit kami menjadi orang paling terakhir yang datang ke PMI Jakbar. Aku bertemu wajah-wajah baru. Tanpa memperkenalkanku, abang langsung tenggelam dalam euphoria sahabat-sahabat karib. Aku sendirian. Abang Jahat!!! :( *Cuma bang Anyuk dan kak Leha yang menjabat tanganku*

Dengan menggunakan mobil tronton yang disediakan oleh panitia, perjalanan menuju Gede pun dimulai. Belum sempat istirahat dari pagi, rasa kantuk pun menyerang, tapi karena ga bisa tidur kepala pun sedikit pusing, tapi hal tersebut tidak mengurangi sukacitaku, orang-orang baru di sekelilingku begitu talkactive dan menyenangkan. Ada saja tingkah mereka yang membuatku ngakak dalam hati.

Bogor di depan mata, Jakarta pun perlahan tertinggal di belakang. Aku ga suka medan licin, aku gamau menyusahkan abang, maka sepanjang perjalanan yang kadang diselingi oleh gerimis dan hujan lebat, aku mengetuk pintu langit, mengudarakan do’aku supaya perjalanan kami lancar dan hari cerah.

Sekitar pukul 2 a.m. kami tiba di daerah pemukiman warga (entah apa namanya) jalur Gunung Putri. Kesan pertama? Dingiiiiiiiiiin… sedikit gerimis. Kak Kiki memberiku permen, dan aku sedikit berbincang dengan orang-orang yang ada di dekatku saat itu, mereka ramah, itu menjadi perintang hati yang sedikit menenangkan perasaanku.

Pendakian dimulai pukul 4 a.m. tepat setelah adzan shubuh berkumandang, dimulai dengan do’a, kami telah menyiapkan hati kami untuk menyapa salah satu keagungan-Nya.

Gunung Gede termasuk yang agak ribet perizinannya (tapi karena panitia yang ngurus, aku gatau gimana ribetnya hehehe) dan termasuk gunung favorit para pendaki. Ketika sampai di GPO kami dicek, harus memakai sepatu, tidak boleh membawa barang-barang yang mengandung bahan kimia seperti shampoo, pasta gigi, sabun, dan entah apa lagi.

Entah bagaimana awalnya, mungkin pengaruh hormon juga (hari itu aku sedang menstruasi hari ke-2), emosi menguasai diriku, aku ga terlalu suka jika abang terlalu memperhatikan wanita lain. Aku memang tipikal pencemburu hahaha but love is nothing without jealousy, isn’t it? :p

Perasaan negatif itulah yang membunuh konsep-konsep yang sudah dipersiapkan sebagai hadiah untuk pasangan yang sedang berbahagia, dan juga kenikmatan yang seharusnya menemani perjalanan kami. Aku dan abang ditemani kebisuan, awan hitam yang biasanya setia menemani langit kota hujan itu seakan berpindah ke pelupuk mataku, berat sekali rasanya.


Setelah melewati pos pertama kami terpisah dari rombongan, mendamaikan hati yang bahkan tak berselisih. Dan berdamai setelah semua akar masalah diutarakan.

Dalam hidup ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah, tapi dasar dari semua itu adalah keterbukaan dan keberanian untuk mengeluarkan “kata”. Dan jangan pernah mencoba berbohong dengan mengatakan jika kamu baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak!

Entah siapa yang berpendapat, hati menjadi lapang ketika melihat hal yang lapang. Ketika sampai di suryakencana, mata, hati, pikiran, rasanya semua inderaku dimanjakan oleh keindahan ciptaan-Nya. Kebahagiaan itu terasa lengkap, karena dia di sisiku. Semua perasaan negatif  yang sebelumnya muncul, sirna sudah. Kami pun terus menyusuri padang edelweiss menuju sumber mata air mencari mas Daus dan bang supri yang telah lebih dulu sampai. Setelah bertemu, sambil menunggu rombongan, kami menggelar tenda dan mengisi perut. Tapi kami tak menemukan satu orang pun dari rombongan sampai penutupan hari.

Berjalan beriringan menyusuri padang Edelweiss


Ada dua hal yang abang ingkari, pertama ketika aku mengajak foto di padang edelweiss, abang menawarkan untuk berfoto dengan edelweiss yang dihiasi cantiknya embun pagi, tapi kami tak pernah melakukan itu. Kedua, aku mengajak keluar untuk melihat sunset, abang menawarkan untuk melihat sunrise tapi esoknya, abang kedinginan dan gamau bangun :(

Surya Kencana ketika masih sepi

Setelah bercengkrama menikmati dinginnya pagi sambil menyeruput susu, makan mie dan roti bakar, kami berbagi tugas, bang supri dan mas daus mengambil air, abang bikin kopi, beresin tenda, sedangkan aku mencari anggota rombongan yang lain. Tapi sayang aku tidak menemukan mereka.

Canda Tawa menghangatkan suasana pagi

Akhirnya kami pun muncak dan di tengah perjalanan menuju puncak, kami bertemu dengan rombongan. Waaaah, haru biru mewarnai pertemuan kami hehehehe bang Jajang bercerita tentang bagaimana khawatirnya beliau karena berkali-kali mencari kami tapi tak jua bertemu. Kami pun merasakan hal yang sama ditambah perasaan bersalah karena membuat yang lain khawatir. Tapi setelah itu kami berpisah lagi. Zzzzz…

Aku belum pernah bertemu orang banyak di puncak gunung lain, selain di Gede dan Tangkuban Parahu. (jelas lah orang jarang naik gunung hahaha). Satu hal yang aku sesali, kami tidak sempat menjadi saksi romantisme lamaran bang Anyuk untuk kak Uki. :(

Kami turun melalui jalur Cibodas, mengulur-ulur waktu sepanjang perjalanan, menghabiskan waktu untuk sekedar menyeduh kopi dan menyantap mie di tengah perjalanan, mengambil air dan beristirahat lama di tempat camp tapi rombongan tak juga menyusul. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan berempat. Beberapa meter sebelum sampai basecamp (bada maghrib), turunlah hujan lebat. Aku membayangkan rombongan, dan semakin kagum lah aku pada mereka yang menghandle barang sekaligus menjaga para wanita.




[caption id="attachment_1512" align="aligncenter" width="300"]"I am Proud of being d'black g'black's Family," said Abang "I am Proud of being d'black g'black's Family," said Abang[/caption]

Sekitar jam 11 malam, kami pun berkumpul dan bersiap untuk kembali ke Jakarta.




Terima kasih untuk pengalaman hebat bersama orang-orang hebat. Mohon maaf untuk semua yang hal yang tidak berkenan, semoga kita bisa berjalan bersama lagi di waktu, Tempat, dan keadaan yang lebih baik.


Continue reading Aku, Kau, dan Gede

Rabu, 15 Oktober 2014

Curug Muara Jaya

Ketika browsing tempat wisata di Majalengka, kebanyakan yang keluar adalah wisata curug/air terjun, dan yang paling beken adalah curug Muara Jaya. Awalnya saya pikir Curug Muara Jaya, Curug Maja, dan Curug Apuy itu adalah curug yang berbeda, ternyata sama. Curug ini terletak di Kampung Apuy, Desa Argamukti, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.

Dari Majalengka, jalan terus menuju Maja, sampai di terminal Maja, ada jalan kecil di sampingnya, maka ikuti jalan itu lurus terus sampai menemukan papan petunjuk menuju Curug Muara Jaya.

Buat yang suka tantangan boleh deh main ke sini, jalannya mangstap. Bagus sih, tapi turunan, tanjakan, tikungannya itu loh, udah 4 hari badan masih pegel-pegel sepulang dari sana (ketahuan jarang gerak hehe). Jalannya kecil, tapi bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Agak susah memang kalau ada dua mobil yang papasan.

Tips pertama dari saya:

Dalam mengemudikan kendaraan harus ekstra hati-hati, pas tanjakan jangan telat ngoper gigi (buat yang motor bebek), kalau bisa jangan ada di belakang motor lain, nanti pas motor depan kita engap, kita jadi ikutan engap :p , kalau pas turunan, hati-hati tekor, jangan gegayaan deh, jangan mentang-mentang tracknya asyik jadi ceroboh. (ini berdasarkan pengalaman ya hehe)

Buat yang naik angkutan umum, dari Majalengka bisa naik elf turun di terminal maja, terus nanti nyewa mobil bak terbuka (kol gundul), atau bisa juga naik ojeg.

Tiket masuk ke tempat wisata ini yaitu Rp 8.000,- per orang (dewasa), dan Rp 3.000 untuk anak-anak, camping Rp 10.000,- per orang, parkir Rp 2.000,- tapi di dalam curug nanti ditagih lagi Rp 2.000,- mungkin untuk biaya kebersihan. (mahaaaaal…)

Dari tempat parkir, jalan lagi menuju jalan setapak yang dipaving blok kemudian akan ada banyak warung penjual makanan dan minuman, toilet, mushola, ruang pertemuan, dll untuk ke curug harus turun lagi melalui jalan berundak.

Hmm… kami datang terlalu pagi jadi masih sangat sepi, hanya kami bertiga, dan petugas setempat.

Tips yang kedua:
Pilihlah teman yang enak buat diajak jalan. 
Wisata curug itu menyenangkan, damai, sejuk, tenang, tapi kalau keadaannya terlalu sepi dan teman jalan kita juga pendiam, serem juga kaan? :(

Masih pagi, jadi kami memutuskan hanya bermain air, dingin… awalnya airnya jernih tapi sekitar jam 11 lewat tiba-tiba airnya berubah kecoklatan, jadi kek susu cokelat. Ketika kami pulang, baru banyak orang yang datang berkunjung, kasian mereka datang di saat airnya sudah keruh. Ckckck

Dibandingkan dengan rasa lelahnya, keindahan alam yang disajikan kurang memuaskan mungkin karena ditambah faktor teman jalan yang kurang ekspresif kali ya…
Continue reading Curug Muara Jaya

Jumat, 12 September 2014

Siapa yang Tak Tahu Monas?

Siapa yang tak tahu monas? Monumen nasional ini merupakan icon kota Jakarta. Bagi yang belum pernah mengunjungi kota Jakarta, pastilah sering melihatnya di televisi atau media informasi lainnya.

Di sini pernah terjadi peristiwa penting, yakni berkumpulnya seluruh rakyat Indonesia pada 19 September 1945 dalam rangka untuk menguatkan Kemerdekaan Indonesia yang baru diproklamasikan. Oleh karena itu, dulu monas dikenal dengan nama Lapangan IKADA.
Pemandangan Kota Jakarta dari Puncak Monas
 
Pernah beberapa kali ke tempat ini, tapi baru kemarin berkesempatan untuk masuk ke tugu monas. Biasanya kami hanya santai di tamannya, sekedar untuk berteduh. Dulu pernah bertanya-tanya, bagaimana caranya orang-orang masuk ke dalam tugu monas? Tugu dikelilingi oleh pagar dan tidak ada pintu masuk. 

Ternyata, untuk masuk ke dalam kita harus melalui terowongan, dari depan bisa berjalan ke arah kanan, nanti akan ada penunjuk arah menuju terowongan. Cirinya banyak pedagang kaki lima yang berjualan di sana. Di ujung terowongan terletak loket tiket. Monas ini dibuka setiap hari dari pukul 08.00-15.00. Tarif tiketnya bermacam-macam diklasifikasikan sesuai umur (yaitu anak-anak, mahasiswa dan dewasa) dan apakah anda hanya berkunjung ke cawan atau juga ke puncak. Kemarin kami yang akan berkunjung ke puncak dikenakan tarif mahasiswa sebesar Rp 8.000,-.



Bagi para pengunjung yang akan berkunjung ke puncak, diberikan gelang karet berwarna sebagai tiket masuk. Gelang ini ada beberapa warna disesuaikan dengan waktu kunjungan. Tapi sayangnya, karena kurangnya sosialisasi tentang gelang ini, maka aturan waktu kunjungan tersebut tidak berlaku.

Tugu monas ini dibagi beberapa bagian, lantai paling dasar yaitu museum sejarah nasional (3 meter di bawah permukaan tanah). Dari loket tiket, untuk menuju lantai dasar tugu, kita harus berjalan lagi beberapa meter sampai bertemu dengan penjual makanan ringan. Di museum ini terdapat banyak sekali diorama yang menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah sampai masa orde baru. 

Diorama tersebut benar-benar keren, ditambah keterangan bilingual di bagian luarnya. Di sini juga terdapat toilet wanita dan laki-laki yang dipisah oleh deretan diorama. Masing-masing toilet tersebut berdekatan dengan mushola. Kita perlu ke toilet untuk mengambil air wudlu, jadi bisa dipastikan bagi suami istri akan shalat terpisah. Bagi perempuan yang lupa membawa mukena, jangan khawatir karena di mushola wanita disediakan mukena. Hp lowbatt? Lupa bawa powerbank tapi bawa charger? Di sini juga ada tempat buat ngecharge (cari aja! Hehehe biasanya dibalik tiang-tiang tinggi, ada banyak ko yang tiduran sekedar nunggu baterai hp penuh).

Diorama Ibu Kartini

Setelah puas berputar-putar di museum, saya sarankan untuk langsung naik ke puncak (ketinggian 115 meter), karena semakin siang, antrian akan semakin panjang. Untuk mencapai puncak kita harus naik lift dengan kapasitas 11 orang. Setelah mengantri sekian panjang, ketika sampai di puncak anda akan disambut oleh pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. 

Tempatnya kecil beda jauh dibandingkan dengan lantai dasar, puncak ini hanya mampu menampung 1/10 dari kapasitas di lantai dasar yakni 50 orang. Di sini juga disediakan teropong untuk melihat panorama kota Jakarta secara lebih dekat. 

Puncak Monas

Di papan informasi katanya harus menggunakan koin untuk memakai teropong tersebut, tapi sepertinya aturan tersebut sudah tidak berlaku, karena teropongnya bisa langsung digunakan. Memang benar gedung-gedung jadi terlihat begitu dekat, tapi sayangnya blur, menurut saya pemandangannya lebih cantik dilihat tanpa menggunakan teropong.

Untuk turun, kita harus mengantri di depan lift yang sama seperti pertama naik, hanya saja diturunkan di lantai dua atau biasa disebut cawan, anda bisa keluar dan menikmati angin yang berhembus kencang ditemani pemandangan indah berlatar gedung-gedung pencakar langit, masjid istiqlal dan pemandangan lainnya. Di cawan ini, kami diminta foto bersama oleh turis mancanegara dari Jepang (kapan lagi jadi artis? Hehehe). Kami tidak perlu menggunakan bahasa Jepang, karena salah satu dari turis tersebut ada yang sangat fasih sekali berbahasa Indonesia (wah keren ya, I Love Indonesia!).

Cawan

Kemudian kami turun menggunakan tangga, karena lift di lantai 2 tidak diperbolehkan untuk digunakan. Nah, kembali ke tempat antrian menuju puncak, anda bisa mengunjungi ruang kemerdekaan ke arah kanan. Di ruangan ini terdapat burung Garuda sebagai lambang Negara Indonesia, dan katanya ada naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, peta kepulauan NKRI, Bendera Sang Saka Merah Putih, dan dinding yang bertulis naskah proklamasi kemerdekaan RI. Walaupun tempatnya redup dan hening, menurut saya tempat ini cocok untuk mengerjakan TA (loh..?!!)

Ruang Kemerdekaan 

Tidak hanya orang Indonesia yang datang ke sini, tapi juga banyak turis mancanegara. Tidak heran karena seperti yang dikatakan oleh The head of Jakarta City Government Tourism and Culture Office:
Jakarta guarantees your unforgettable and memorable experiences of pleasure. Arie Budhiman

Turis Jepang. Awalnya minta difotoin terus minta foto bareng



Wah, jadi ga sabar buat jadi warga Jakarta! ^^


Alamat monas:
Jl. Taman Silang Monas, Gambir, Jakarta Pusat


Referensi:








Continue reading Siapa yang Tak Tahu Monas?

Minggu, 07 September 2014

Kebun Teh Majalengka Sensasi Lembang

Di sini rumah kita
Yang terindah di dunia
Tanah yang merdeka, Negeri Indonesia
Karena ku tahu di sini ada cinta
Yang kan ku jaga selamanya
(Twentyfirst Night, Selamanya Indonesia)

Majalengka Menawan, tagline yang tepat untuk menggambarkan kecantikan Majalengka. Majalengka selain merupakan kabupaten yang identik dengan kecap dan anginnya yang aduhai, ternyata memiliki objek wisata menarik yang sayang kalau dilewatkan. Salah satunya adalah panorama perkebunan teh.



Bagaimana cara menuju ke lokasi kebun teh ini?

Perkebunan teh ini terletak di Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih Majalengka. Menurut informasi dari web Kabupaten Majalengka, letaknya sekitar 59 Km dari pusat kabupaten Majalengka, berarti sekitar 74 Km dari Kasokandel (Desaku tercinta). Alurnya dari Pusat Majalengka - Maja - Bantarujeg - pas polsek Bantarujeg belok kiri - Desa Lemah Putih (cirinya ada warung sate Citra Buana belok kiri) - Borogojol - Cipasung - jalan terus sampai ada sebuah tanjakan yang berujung pada dua jalur, nah ambil jalur kanan.

Perjalanan menuju kebun teh ini sangat memakan waktu, kami yang berangkat pukul 11 dari Kasokandel, baru sampai di lokasi sekitar jam 14.00 (sebenarnya bisa lebih cepat kalau tidak nyasar dan foto-foto di jalan). Tapi dijamin anda tidak akan menyesal karena sepanjang perjalanan, mata anda akan dimanjakan oleh tanaman-tanaman hijau dan cuaca yang sejuk, jalanannya pun enak.

Apakah Tempat Wisata ini Gratis?

Kebun teh dengan luas ±58 Ha ini dikelola oleh Koperasi Buana Mukti dan untuk masuk ke sini kita dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 2.500,- per orang, parkir gratis).




Apa ada tempat parkir?

Berhubung kami yang baru pertama kali datang ke sini, jadi awalnya bingung mencari tempat parkir. Anda hanya perlu mengikuti jalan setapak sampai bertemu dengan warung pertama, nanti akan ada banyak motor pengunjung lain yang terparkir di sana dan orang yang memberikan tiket. Sebenarnya motor boleh dibawa naik ke atas selama anda yakin dengan keselamatan anda.

Apa saja fasilitas yang kita dapatkan di Kebun Teh ini?

Selain panorama perkebunan teh yang sejuk (walaupun tengah hari tetap sejuk), hijau, di sini juga ada warung yang menjual makanan-makanan ringan dan minuman, jadi anda tidak perlu takut kelaparan. Ada juga mushola kecil yang bersih.



Menikmati secangkir kopi dan jalakotek (perbekalan sendiri) dengan disuguhi pemandangan cantik, angin yang berhembus ramah, bersama dengan orang tercinta, merupakan sensasi tersendiri yang membuat anda akan betah berlama-lama di tempat ini.

Saran sebelum menuju ke perkebunan teh:

1. Naiklah kendaraan beroda dua. Pastikan kendaraan tersebut dalam keadaan prima. Usahakan jangan naik motor tua :p pengalaman kami memakai motor bebek s*pra eks benar-benar engap, jalannya ngos-ngosan karena medannya berkelok-kelok dan naik turun (daerah sekitar Maja - Lemahsugih), pastikan ban kendaraan anda tidak gundul, karena jalanan di sekitar tempat wisata masih kurang bagus.

2. Datanglah ramai-ramai, khususnya buat anda yang single, di sini bukan tempat yang pas untuk menggalau, karena yang datang ke tempat ini rata-rata kek sandal jepit, pasangan semua, otomatis anda akan bertambah galau :p

3. Jika anda berdomisili jauh dari tempat ini, usahakan datang pagi-pagi. Selain untuk keamanan (perumahan masih jarang), juga untuk mendapatkan view yang maksimal dari tempat wisata ini.




Note:
1.Dokumentasi berupa gambar hanya sedikit, hal tersebut ditujukan agar anda merasa penasaran dan datang langsung ke TKP.
2.Dokumentasi berupa gambar diambil oleh amatir menggunakan kamera hp sungsang lil’g dengan sedikit sentuhan sotosop. (ada juga yang diambil dalam keadaan bergerak di atas motor).
3.Model bernama Ari Rinaldi Iskandar :p


Referensi:
Continue reading Kebun Teh Majalengka Sensasi Lembang

Kamis, 14 Agustus 2014

Taman Fotografi

Berhubung galau TA, jadi saya memutuskan untuk mengunjungi semua taman tematik yang ada di Bandung, setelah taman lansia dan taman pustaka bunga, kemudian taman music, kini saya mengunjungi taman fotografi. Taman cempaka atau yang lebih popular dengan nama taman fotografi ini ada di Jalan Cempaka.

2014-05-18 16.17.36

2014-05-18 16.18.18

Saya jalan kaki dari taman Musik ke sini broo..!! Kirain deket, ternyataaa :D

2014-05-18 16.19.25

2014-05-18 16.20.14

Waktu itu saya sempet nyasar, patokannya dari Riau (kalau dari BIP ke arah kanan) lurus terus melewati berapa lampu merah kemudian ketika menemukan Resto Suis Butcher belok ke kanan, sebenarnya kalau belok ke kiri juga ada taman Anggrek tapi masih belum dikembangkan seperti taman Cempaka.
Continue reading Taman Fotografi

Taman Lansia dan Taman Pustaka Bunga, Rasakan Sensasinya!

Berbeda dengan Taman Pustaka Bunga yang sesuai namanya di sana terdapat berbagai macam jenis tanaman atau aneka bunga, taman lansia ini walaupun namanya untuk lanjut usia tapi pengunjungnya tidak hanya para orang tua kok.

2014-05-18 13.38.58

2014-05-18 13.31.49

Baik di taman lansia dan taman pustaka bunga, masing-masing disediakan free wifi. Jadi tempatnya asik banget kalau dipake untuk acara sharing komunitas/club, buat kongkow-kongkow, atau semacamnya lah bahkan dulu saya mengerjakan TA di sana (lumayan wifinya kenceng :D ). Taman Pustaka Bunga juga bisa dijadikan wisata edukasi, karena tanaman yang ada di sana disertai dengan nama ilmiahnya.
Continue reading Taman Lansia dan Taman Pustaka Bunga, Rasakan Sensasinya!

Jomblo? Mampir Ke Sini!

Entah kenapa dinamakan taman jomblo tapi yang jelas semenjak diresmikan oleh walikota Bandung juara pada tanggal 4 Januari 2014 lalu, taman jomblo alias taman Pasupati ini jadi ramai dikunjungi. Dari yang mulai kongkow, istirahat, pacaran, sampai yang hanya numpang foto-foto.

2014-01-17 15.34.13
Letaknya di bawah jembatan Pasupati, dekat (pinggirnya) Baltos (Balubur Town Square). Designnya sama kaya di Majalengka loh, hanya kalau di Bandung berupa balok-balok sedangkan di Majalengka daerah Sawala itu merupakan lahan kosong yang diisi besi-besi aneka ukuran seperti di taman jomblo. (Sayang belum ada dokumentasinya, in syaa Allah nanti kalau dapet langsung diupdate :D )

2014-01-17 15.34.39

2014-01-17 15.37.33

Di belakang Taman Jomblo ini juga ada arena skate board yang selalu ramai oleh anak muda.

2014-01-17 15.35.57

Gimana akses menuju taman jomblo?
1.Dari Terminal Cicaheum bisa naik angkot Cicaheum-Ledeng. Kalau dari Wastu Kencana bisa naik Caringin-Sadang Serang. Selain itu banyak angkot lain yang lewat sini seperti Cisitu Tegalega, Caringin – Dago, Panghegar – Dipati Ukur.
2.Naik Taksi :D
3.Kalau naik motor sih dari jembatan pasupati tinggal turun aja, atau dari Wastu tinggal ke arah Taman Sari.
Continue reading Jomblo? Mampir Ke Sini!

Sabtu, 19 April 2014

Kawah Putih Bandung

Pulang dari Gunung Tangkuban Parahu aku dan abang melanjutkan perjalanan menuju kawah putih. Kami berencana bertemu bang Iwan dan Eka di sana. Tapi ternyata di perjalanan mereka memutuskan untuk langsung pulang ke Jakarta dan datang ke taman bunga di Bogor. Walaupun bang Iwan dan Eka batal pergi ke kawah putih, kami tetap melanjutkan perjalanan ke sana.

Mengambil rute yang berbeda dari perjalanan awal, kami melewati daerah Parongpong, Nanjung, dan akhirnya Soreang. Cukup sulit untuk sampai di  Soreang, berhubung kami sama-sama belum pernah ke sini, beberapa kali kami sempat tersasar. Namun orang-orang di Bandung memang begitu hangat kepada para pendatang, hal tersebut membuat kami tidak sungkan untuk bertanya.

Ketika sampai di depan Stadion Jalak Harupat, abang begitu excited. Dia yang selalu meledekku narsis malah bermetamorfosis jadi makhluk photogenic. Kami berhenti sebentar di luar gerbang stadion karena pintu masuk ditutup dan sepertinya tidak dibuka untuk umum kecuali ketika ada pertandingan.


Aksi kami rupanya mengundang penasaran orang. Bahkan ada pasangan yang juga ikut berfoto ria dengan background stadion jalak harupat. Kami melanjutkan perjalanan, sekitar pukul 12.29 perut kami mulai keroncongan dan kami pun singgah di Rumah Jamur (Pasir Jambu, Soreang). 

Setali tiga koin kami juga numpang ngecharge hp yang hampir sekarat. Sepi. Padahal rumah makan tersebut lumayan menarik, dari jendela kita bisa melihat kolam ikan yang dikeliling oleh kebun. Kami duduk lesehan di tempat paling ujung (berhubung cuma di sini yang ada colokan) sambil menonton TV. Kami memesan daging ayam bakar dan teh manis ditambah pencuci mulut jamur crispy. Sebenarnya menu yang ditawarkan sangat beragam dan banyak varian masakan jamur. Namun harganya juganya lumayan. Jadi kami memilih yang ramah di dompet.

Terhipnotis oleh cita rasa makanan yang disajikan kami sampai lupa mengabadikan moment di sana. Makanannya emang enak-enak, tapi porsinya kecil dan harganya mahal. Baru ketika hendak pulang, kami baru teringat akan kamera. Dan kami pun selfie dengan muka ngantuk karena kekenyangan.

Ketika dikonfirmasi ke penjaga rumah makan tersebut, jarak ke kawah putih masih sangat jauh, berkilo-kilo meter lagi. Dan jam 17.00 tempat wisata tersebut sudah ditutup karena gasnya yang mulai beracun.

Bingung antara terus jalan atau kembali pulang. Tapi setelah sejauh ini perjalanan rasanya sayang kalau lelah ini tidak terbayar. Oleh karena itu kami memutuskan untuk KEEP GOING!

Percayalah, mencapai kawah putih sangat melelahkan, entah itu perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum.

Cuaca mendung, dan ketika kami hampir tiba di kawasan kawah putih, gerimis pun turun. Seketika itu pun kami berbalik arah dan mencari penginapan. Kami memutuskan untuk berbalik arah karena khawatir di atas tidak ada penginapan dan kalaupun ada pasti harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan penginapan di bawah. Kami pun singgah di penginapan yang paling dekat.

Pondok Gembyang, Jl. Patengan km. 38. Desa Baru Tunggul, Alam Endah. Telp. (022)5928998, 087824622244 Ciwidey, Bandung.

Kami membooking satu unit penginapan standar seharga 200k. Fasilitas yang didapat cukup memuaskan, kamar dengan seprai wangi dan bersih rapi, sebuah tv, kamar mandi dengan air hangat, alat shalat, kolam air hangat, rak-rak tempat menyimpan pakaian, roti panggang untuk sarapan, kopi, teh, dan masih banyak lagi.

Malam harinya kami turun untuk mencari makanan dan kami singgah di Rumah Makan Bebek dan Ayam Unti, Jl. Raya Ciwidey Rancabali Telp. (022) 85920555.

Pagi di Pondok Gembyang

Ceritanya candle light dinner, suasananya romantis, ditemani gemericik air dari kolam, kaki kami pun bisa berselonjor menyentuh air kolam, karena tempat makannya disetting sedemikian rupa sehingga kami di bawah meja makan tersebut terhubung dengan kolam.
Kami makan enak malam itu, benar-benar moment yang jarang. Terima kasih buat Yayu yang sudah jadi sponsor setia kebahagiaan kami.

Candle Light Dinner di RM Bebek dan Ayam Unti

Kami tidak langsung angkat kaki setelah menyikat bersih makanan yang ada. Menikmati malam yang diciptakan begitu romantis dengan segala suguhan kekuasaan-Nya.
Insiden lucu di penginapan ini adalah ketika pagi-pagi kami kelaparan, kami pun menagih fasilitas roti bakar yang tertulis di brosur, memalukan tapi butuh hahaha. Ternyata jauh dari ekspektasi kami, roti tawar + susu coklat yang dipanggang. Tapi lumayan lah untuk mengganjal perut.
We are ready to go! Yeay! Kawah putih we are coming..

Kami menggunakan kendaraan pribadi dengan tujuan bisa meminimalisir budget, ternyata sesampainya di sana, pihak pengelola tempat wisata ternyata begitu komersil. Pertama kami parkir motor seharga Rp 5.000 dan helm tidak boleh disimpan di motor, harus dititipkan, biaya penitipannya sebesar Rp 5.000.

Kemudian tiket masuknya Rp 28.000 per orang biaya tersebut sudah termasuk tiket masuk dan kendaraan ontang anting yang akan mengantar ke tempat wisatanya. Kami diberikan kartu untuk membuka palang pintu yang menghubungkan ke tempat ontang anting.

Ontang anting ini mobil serupa angkot dengan kapasitas penumpang 12 orang ditambah sopir. Kami menunggu lumayan lama karena mobil baru berangkat apabila sudah terisi penuh.
Menurut informasi pihak pengelola sudah tiga tahun melarang adanya kendaraan pribadi yang langsung masuk ke tempat wisata. Tapi apabila hendak membawa mobil pribadi, maka akan dikenakan biaya Rp 150.000 per mobil ditambah Rp 15.000 per orang. Ckckckck
Tapi hal positif dengan diberlakukan peraturan tersebut adalah bisa memberdayakan warga yang berdomisili di sekitar tempat wisata, mereka jadi punya mata pencaharian.

Entah memakan waktu berapa lama, akhirnya sampai di kawasan kawah putih. Banyak yang menyodorkan masker. Ingat! Bawalah masker sendiri. Di sini, harga masker dispossible yang umumnya dijual Rp 500 - Rp 1.000 dijual dengan harga Rp 5.000. Luar biasaaaa...
Di depan area masuk sudah banyak orang yang mengantri untuk foto di tugu bacaan kawah putih. Keadaan di sana ramai sekali, dari beragam usia, tua muda semuanya tumpah ruah.





Kami harus menuruni tangga yang lumayan panjang. Tapi tidak sepanjang great wall China. :D




Sesampainya di bawah aku langsung terbatuk-batuk tidak kuat menahan bau belerang. Tapi hal tersebut tidak berlangsung lama, aku pun mulai terbiasa. 




Ada banyak fotografer yang menawarkan jasanya. Hanya Rp 10.000 tapi kami memilih untuk menggunakan kamera sendiri.

Tempatnya cantik, sesuai namanya hampir semua berwarna putih, air, pasir. Banyak juga orang yang melakukan prewedding di sini.




Tapi entah kenapa aku kurang puas terhadap perjalanan ke tempat ini, selain biaya yang mahal, tempat ini walaupun suhunya terasa dingin tapi matahari menyengat langsung. Dan jarang ada yang jualan makanan, mungkin khawatir terkontaminasi racun.




Tadinya kami hendak melanjutkan ke situ patenggang. Tapi berhubung waktu sudah siang dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Majalengka, dengan berat hati kami pun pulang.

Oia dalam perjalanan pulang, sempat berdiskusi dengan sopir ontang anting. Katanya apabila kita mau masuk gratis, cukup bawa motor tapi jangan pakai helm. Biasanya para pengelola mengizinkan masuk gratis orang-orang yang tinggal di sekitar sana.

Ada insiden lucu juga ketika pulang, kami melewati orang-orang yang berjualan, hampir setiap toko meneriakkan hal yang sama, stroberinya teh. Rp 5.000 dua. Ketika aku menoleh, terlihatlah buah stroberi segar, merah merona sangat menggoda. Sempat tidak percaya, kemasan sebesar itu hanya Rp 5.000 dapet dua pula. Aku pun tertarik untuk menghampiri, ternyataaaaa.... ZONK! kemasan stroberi yang dipajang harganya Rp 25.000 sedangkan yang ditawarkan seharga Rp 5000 itu kemasan kecil. dasar, marketing yang bagus hahaha. Hati-hati jangan tertipu ya!



Continue reading Kawah Putih Bandung

Reuni di Gunung Tangkuban Perahu Bandung

Otanjoubi Omedetou, abang...
Sebenarnya ultah abang jatuh pada 2 Maret kemarin tapi berhubung saya sedang PKL di Tasik, jadi kami menangguhkan pertemuan kami. Niat awalnya abang akan menjemput saya di Bandung dan mengantar saya di Majalengka, esoknya kami akan berjalan-jalan di Majalengka. Tapi planning itu pun gagal karena kebetulan Eka dan bang Iwan juga berencana ke Bandung dan ingin berlibur bersama ke kawah putih. Jadi kami menunda keberangkatan ke Majalengka.

Ternyata setelah ditunggu sekian lama ternyata mereka memutuskan untuk menginap di rumah temannya Eka kawasan kampung daun. Hhhh...

Esoknya sambil menunggu kabar dari Eka dan bang Iwan kami memutuskan untuk ke Tangkuban Perahu terlebih dahulu. Jam 6.00 kami berangkat dari kostan dan sarapan lontong kari di Gunung Batu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Lembang via Setraduta, Sarijadi menggunakan motor. 

Abang memberikan kepercayaan penuh pada saya untuk mengemudikan motor sampai ke Tangkuban Perahu. Sempat nyasar di daerah Sarijadi alhamdulillah akhirnya kami sampai di daerah Bandung Utara. Kami mengikuti petunjuk jalan dan instruksi dari orang yang kami tanya (berhubung kami sama sekali belum pernah ke daerah ini).

Sekitar Mushola dan tempat parkir

Sampai di gerbang utama kami langsung foto-foto tapi sayang fotonya ga kesimpen. Kemudian dari gerbang depan kami meneruskan perjalanan dan ngantri untuk membeli karcis, keadaannya cukup ramai walaupun masih pagi. Tiket masuknya yaitu Rp 17.000/orang dan tiket masuk kendaraan Rp 5.000 untuk sepeda motor.

Perjalanan menuju kawah masih jauh dari tempat awal membeli karcis. Sepanjang perjalanan itu, kita bisa melihat betapa hijaunya pemandangan di sana. Semua dikelilingi oleh pepohonan. Di tengah jalan kami menemukan plang bertuliskan kawah (lupa namanya) tapi orang-orang yang istirahat di sana menginstruksikan kami untuk terus jalan. Akhirnya kami jalan terus dan welcome! Kami sampai dan langsung kebelet pipis. Udaranya segar sekali dan bbbrrrrrr....



Tangkuban perahu yang terkenal dengan Legenda Sangkuriang ini memiliki tinggi 2.084 meter. Kawah menjadi spot paling banyak digandrungi untuk foto-foto.




Saya dan abang berjalan bergandengan menyusuri setiap senti dari jalan setapak di Tangkuban Perahu. Di sini banyak sekali pedagang yang dengan ramahnya menawarkan dagangan mereka. Ada jagung bakar, pop mie, kopi, dan lain sebagainya. 

Kami tidak sempat mampir di warung karena perut kami masih dalam keadaan penuh setelah diisi lontong kari. Jadi kami hanya menghabiskan waktu untuk berjalan, foto-foto ketika melihat spot yang menarik dan bercerita riang selayaknya sepasang kekasih. Senangnya menjadi muda, dan senangnya bisa merasakan cinta. ^^

Kami pulang sekitar jam 9.30 dan ternyata ditagih lagi uang parkir motor Rp 5.000. Menjelang siang keadaan menjadi sudah sangat ramai, kemacetan pun tak bisa dihindari. Banyak mobil berlalu lalang ditambah pengemudi sepeda motor yang tidak mau tertib. Jadi kalau mau ke Tangkuban Perahu usahakan datang pagi deh, jadi niat refreshing kita bisa terkabul dan ga terjebak macet :)






Continue reading Reuni di Gunung Tangkuban Perahu Bandung