Dulu, aku berpikir bahwa penyakit itu ada kastanya. Misal cacingan, atau masalah kulit hanya terjadi pada orang yang ekonominya kurang, kalau kanker dan segala penyakit yang aneh atau tidak umum hanya terjadi pada orang kaya. Sungguh naif.
Kemungkinan besar orang yang ekonominya kurang hanya tidak terdeteksi karena mereka jarang melakukan medical check up. Jangankan untuk melakukan medical check up yang harganya tidak murah, terkadang untuk makan bergizi "seimbang" pun belum tentu ada.
Jadi, setelah pulang dari rawat inap kemarin, dua minggu kemudian Bapak melakukan kontrol ke poli dalam RSUD Cideres. Diambil darah untuk pemeriksaan laboratorium yaitu hematologi rutin dan Gambaran Darah Tepi.
Melihat hasil dan diagnosisnya, hati seolah-olah terseret ombak dan terhantam karang. Perih dan menyesakkan.
Pihak RS akhirnya merujuk Bapak ke RS Gunung Djati Cirebon. Diagnosisnya seperti yang terlihat di gambar yaitu Susp. Leukimia dd AML, Anemia, Dyspepsia, Acute on CKD. Jadi bukan hanya ginjal, bukan hanya anemia, tapi Leukimia atau kanker darah. Sel darah putihnya empat kali lipat batas atas nilai normalnya. Astaghfirullah.
Awalnya Bapak berkonsultasi denganku tentang hasil lab dan pemeriksaan apa yang akan dilakukan berdasarkan hasil dari RS Cideres. Mendengar penjelasanku, Bapak menciut, tidak mau melakukan check up ke RS Gunung Djati. Mamah sempat menegurku karena mengutarakan fakta (padahal aku tidak berkata kalau Bapak sakit kanker). Suamiku juga bilang "kamu menyampaikan hal yang terlalu teknis, seharusnya cukup menyampaikan hal yang humanis."
Aku bingung bagaimana menghadapi segalanya, rasanya seperti ditampar dipaksa menghadapi kenyataan, padahal otak ini baru saja memproses berita tersebut.
RS Gunung Djati
Selang berlalu, Mamah menelpon bahwa Bapak mau untuk diajak check up ke RS Gunung Djati, tapi perlu digarisbawahi "hanya check up". Mamah mengkonfirmasi ke poli apa nanti datangnya, dan juga memintaku memastikan jadwal dokternya.
Pada 22 April 2026, Bapak dan Mamah berdua ke RS Gunung Djati Poli Hematologi dan Onkologi (HOT). Tanpa tahu letaknya dimana, aku bersyukurnya kemudahan transportasi sekarang, bisa memesan ojek online, jadi orang tuaku bisa dijemput dan diantar langsung ke tujuan tanpa harus transit kesana kemari. Jarak dari rumah ke RS Gunung Djati sekitar dua jam lebih. Ongkos ojek online sekitar Rp 300.000 sekali jalan.
Hati sedih sekali membayangkan mereka berdua melakukan perjalanan yang jauh, tanpa ditemani anak-anaknya. Melakukan proses pendaftaran dan segala prosedur di RS yang jauh dari kata sederhana. Semoga Allah berikan kesehatan dan panjang umur untuk Mamah dan Bapak aamiin.
Pemeriksaan yang dilakukan di RS Gunung Djati yaitu Darah Rutin, Diff count, retikulosit, dan morfologi darah tepi.
Dan kabar baik lainnya adalah Diagnosis Bapak Susp. CLL (Chronic Lymphocytic Leukemia) jika sebelumnya adalah AML (Acute Myeloid Leukemia). CLL Ini tipe yang lebih lambat berkembang, tidak se-darurat leukemia akut.
Tapi diagnosisnya masih belum final, masih dibutuhkan pemeriksaan lanjutan yaitu flow cytometry dan bone marrow. Nah, setelah dua kali ke RS Gunung Djati di hari yang berbeda, (pertemuan pertama untuk pemeriksaan lab, pertemuan ke-dua untuk konsultasi hasil dengan dokter), menurut Dokter Sutiadi Kusuma, Sp. PD., KHOM, Bapak harus melakukan pemeriksaan bone marrow.
Mamah dan Bapak diberikan pilihan, jika akan menggunakan BPJS maka akan dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung, tapi jika bersedia membayar sendiri maka pemeriksaan tersebut bisa dilakukan ke Prodia Cirebon. Kami diberikan waktu seminggu untuk mempertimbangkan hal tersebut.
Masalahnya adalah Bapak tidak mau diambil cairan sumsum tulang belakangnya, karena banyak hal yang jadi pertimbangan, belum lagi pengalaman dari temannya yang juga terkena leukimia.
Setelah berdiskusi panjang tentang prosedur, dampak, dan lain sebagainya, akhirnya Bapak memutuskan untuk tidak melanjutkan pemeriksaan. Bapak benar-benar sudah pasrah mengembalikan perihal maut kepada pencipta-Nya.
Sebenarnya ending yang sudah bisa kutebak dari awal alur ini dimulai. Dari awal Bapak sudah memberikan statement tidak mau diambil sumsum tulang belakang ataupun kemoterapi. Jadi ketika RSUD Cideres mengusulkan untuk dirujuk ke RS Gunung Djati Cirebon, sebenarnya aku ingin menyampaikan bahwa ujungnya pasti ke sana (Pemeriksaan bone marrow dan kemoterapi).
Tapi berharap ada keajaiban, aku mendukung apapun keputusan Bapak dan Mamah. Aku hanya tidak ingin Bapak merasa stress, lelah fisik dengan perjalanan jauh, lelah secara emosional karena pasti prosedur RS itu berbelit-belit, antrinya, dan sebagainya. Aku hanya ingin mari kita buat akhir yang indah, tanpa rasa sakit atau lelah.
Aku berharap, Bapak masih sanggup bertahan dalam waktu yang panjang, diberikan kesehatan dan umur yang panjang. Bisa membuat banyak kenangan indah bersama pasangan, anak cucunya, bisa fokus mendekatkan diri dengan beribadah pada Allah Swt. Semoga Allah mengijabah do'a kami semua. Stay strong, Bapak! Maafkan karena anakmu ini jauh dan tidak bisa menemanimu setiap hari.





















