Kamis, 29 Juni 2023

,

Melahirkan Anak Ke-tiga

Waktu berlalu dengan cepat, fase kehidupan menjadi Ibu Tiga orang anak akan segera datang. Membayangkannya membuat kupu-kupu beterbangan di dalam perut, tapi terkadang juga membuatku menghela nafas panjang.

Beberapa waktu lalu, kami sempat kebingungan ketika mendapat kabar bahwa obgynku cuti untuk waktu yang tidak ditentukan. Ternyata obgynku terkendala oleh penerbitan SIPnya yang terlambat. 

Aku langsung membuat planning A, B, C. Di tengah kekalutan itu, beberapa hari kemudian Dokter mengabarkan bahwa SIPnya sudah selesai dan aku bisa melakukan kontrol rutin dua hari lebih cepat dari yang dijadwalkan. Alhamdulillah. 

Membuat Birth Plan

Di tanggal 20 Juni 2023, akhirnya kami bisa check up rutin sekaligus menentukan tanggal tindakan. 

Mengingat waktu yang mepet dengan hari raya Idul Adha, kami sepakat untuk melakukan tindakan di hari Jumat, tanggal 23 Juni 2023.

Setelah mengantongi jadwal, kami naik ke lantai tiga menuju laboratorium. Untuk melakukan pemeriksaan hematologi rutin, BT, CT, Gol. Darah & Rh. Hasil akan langsung online ke dokter, jadi kami langsung pulang tanpa menunggu hasil keluar. 

Janji Temu Dokter Anestesi

21 Juni 2023

Ketika menunggu dipanggil, aku menemani Abang yang ingin ke toilet. Selama berdiri, tiba-tiba merasa kurang enak badan, telinga berdenging, pandangan mulai buram, gejala mau pingsan, aku menelan ludah dan langsung duduk. 

Suami sedang menyimpan tas di ruangannya. Jadi kami hanya bertiga. Alhamdulillah, keadaan mulai membaik setelah aku kembali duduk. 

Janji-temu-dokter-anestesi
Bertemu Dokter Anestesi

Ketika suami datang, kami langsung menemui perawat dan melakukan pendaftaran. Mengisi informed consent, dan beberapa berkas lainnya. Baru kemudian bertemu dengan dokter. 

Proses ini benar-benar memakan banyak waktu, antrian yang panjang terasa begitu menyiksa bagi bumil yang harus duduk lama. 

Dokter menanyakan obat yang rutin aku konsumsi selain vitamin hamil. Aku tidak mengonsumsi apapun secara rutin. 

Selain itu dokter menanyakan apakah ada alergi terhadap obat tertentu, tidak begitu yakin karena tidak pernah secara sengaja melakukan tes, tapi pengalaman anak-anak sebelumnya, rasanya aku tidak ada alergi obat apapun. 

Dokter menyoroti nilai Hb-ku yang rendah yaitu 8.8 g/dL.

Anestesi yang akan dipakai sama seperti dua anak sebelumnya, bius lokal, setengah sadar tapi tidak diinformasikan apa nama obatnya dan berapa dosisnya, aku pun tidak bertanya. 

Dikabarkan Harus Transfusi

Sore hari ketika aku dan anak-anak sedang makan di luar, suami memforward chat yang menginfokan bahwa aku harus menjalani transfusi darah karena Hb yang rendah. 

"Aku takut, beb." 

Responku terhadap info tersebut. 

"Banyakin do'a dan shalawat aja, beb."

Bismillah ya, berdo'a dan ingat saja bahwa nanti setelah proses panjang ini, akan ada bayi perempuan cantik, menggemaskan yang menjadi pelipur lara, penyejuk hati dan mata. 

Mulai Rawat Inap

22 Juni 2023

Kami sampai di RS Pelni jauh lebih lama dari yang direncanakan, karena macetnya jalanan. Kami langsung menuju admission center dan menunggu untuk masuk ruangan. 

Sekitar pukul 15.00, aku diantar oleh petugas menuju ruangan NB VIP kamar no. 106. Sebenarnya fasilitas yang didapat oleh suami yang bekerja di RS Pelni adalah Kamar Utama, tapi kami upgrade ruangan dengan membayar selisih biaya. 

New-bougenville-vip-rs-pelni

Tujuan dari upgrade ruangan ini adalah supaya privasi kami lebih terjaga, dan anak-anak lebih terpantau. 

Pukul 17.00 aku melakukan pemeriksaan EKG, dan menandatangani informed consent untuk pelaksanaan transfusi darah. 

Seorang petugas baru, mengecek tekanan darah, suhu, kadar oksigen, denyut nadi dll. Beliau juga mencoba memasang infus di punggung tangan kananku.

Tanpa sarung tangan, beliau terlihat mempertimbangkan akan menggunakan jarum biru atau pink, awalnya beliau memilih yang pink dan menusuknya, "ah, sakit ga, Bu? Ini bengkak, kita coba tangan kiri, ya, Bu."

Dan dengan menggunakan jarum berwarna biru, beliau menusuk pinggir kanan punggung tangan kiriku. Tanpa instruksi untuk menarik nafas, terasa jarum menembus kulitku, dan dia mencoba menyuntikan syringe berisi cairan, rasanya sakit sekali. Dan perawat tersebut berkata, "Ibu tegang, ya?"

Aku rasanya ingin marah, tapi kuredam dengan do'a, "ya Allah aku ikhlaskan semua rasa sakit ini, aku maafkan petugas ini, tolong mudahkan proses persalinanku dan jadikan anakku menjadi anak yang sholehah."

Sampai saat aku menulis ini (7 hari post op) tanganku masih bengkak dan kehitaman akibat pemasangan infus yang gagal. 

Setelah dua kali gagal memasang infus, perawat tersebut menyuruh aku untuk beristirahat dulu. 

Pukul 19.04 datang perawat lain, bertanya di tangan yang mana, infus yang gagal tadi. Aku tunjukkan kedua tanganku yang bengkak.

Beliau memasang infus di punggung tangan kiriku. Walaupun agak tremor, tapi terlihat perawat tersebut cukup berpengalaman, APD lengkap, jarum yang diletakkan dengan aman dari pasien, ada komunikasi dengan pasien, dan yang terpenting, proses pemasangan infusnya berhasil. 

Pukul 19.57

Kembali datang perawat untuk mengambil darah, kali ini di vena untuk pemeriksaan crossed match persiapan sebelum transfusi. 

Alih-alih mengambil darah di bagian median cubity, perawat tersebut mengambil di sisi sebelah kanannya, dan hematoma. 

Pukul 20.46

Datang beberapa perawat menginfokan bahwa dokter obgynku mengcancel proses transfusi, dan sebagai gantinya menyiapkan 2 labu darah. 

Masuk Ruangan Operasi

Dijadwalkan jam 9 untuk operasi, aku baru dijemput oleh seorang petugas ISS wanita jam 10.30.

Di ruang persiapan operasi, belum ada bed yang kosong. Aku menunggu beberapa saat, sembari petugas mencari bed yang kosong. 

Kemudian aku diminta pindah ke bed secara mandiri. Ketika menunggu instruksi selanjutnya, datang pasien lain, akhirnya aku jadi tidak sendiri di ruangan itu. 

Datang bergantian petugas bertanya pasien siapa, dan untuk tindakan apa. Aku dipegang oleh seorang perawat wanita, beliau menyuruhku mengganti kerudung dengan head cap berwarna kuning, dan juga melepas seluruh pakaian. Beliau mencari waliku, tapi ternyata tidak ada di luar ruangan. 

Aku dibawa masuk ke sebuah ruangan, suhunya lebih dingin dibanding di luar. Perawat di sini sangat perhatian, mereka memberikan kain yang lebih tebal untuk menutupi tubuhku. 

Akhirnya tiba waktu masuk ruang operasi, aku tidak bisa mengecek jam berapa saking gugupnya. Walaupun ini adalah SC ke-tigaku tetap ada perasaan takut, waswas, dll. 

Perawat mempersiapkan segala sesuatu berpacu dengan nadiku yang sudah tak karuan. Tiba saat pemicu trauma melahirkanku yang kedua setelah infus yaitu anestesi. 

Alhamdulillah, proses anestesi kali ini jauh lebih tidak menyakitkan dibanding dua operasi yang pertama. 

Setelah anestesi, perutku bergolak hebat, rasa mual tidak tertahan tiba-tiba muncul, dan perawat dengan sigap mengonfirmasi, apakah aku mual, kemudian langsung memberikan obat anti mual. 

Suasana operasi cukup kondusif, para perawat yang biasanya berbincang, terdengar hanya berbisik. Suasana hatiku mulai terkendali terutama setelah dokter obgynku menyapa dan memimpin operasi dengan do'a. 

Dokter berkata, selamat ya, Bu, bayinya perempuan, gemoy banget ini, bibirnya sexy. Tapi aku tidak mendengar suara tangisan. Dokter berkata, ketika keluar, anakku bersin dan langsung dibawa ke ruangan sebelah, menangis di sana. 

Inisiasi Menyusu Dini

Setelah bayiku dibersihkan, dibawa kembali ke ruang operasi, dipertemukan denganku. Kehangatan memenuhi relung hatiku. Syukur tak terkira melihat wajah putriku untuk pertama kalinya. Sambil dipegangi oleh suster dari bagian atas kepala, karena dokter masih membereskan jahitan perutku, kami melakukan IMD (Inisiasi Menyusu Dini). 

Aku berbisik dalam hati, Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Mari berjuang bersama ya, Dek, ibu akan berusaha memenuhi hakmu sampai dua tahun, semoga Allah ridho. 

Proses IMD ini tidak dilaksanakan ketika persalinan pertama dan keduaku. Makanya perasaanku ketika persalinan ketiga ini begitu campur aduk. Bonding Ibu dan anak tepat setelah persalinan rasanya intim sekali. 

Belajar Bergerak Miring

Setelah beres, para perawat membawaku ke ruang observasi. Sambil menunggu dijemput oleh pihak ruangan, mereka melengkapi berkasku. 

Aku hanya menutup mata, berusaha mengistirahatkan mata yang terlalu lama menatap cahaya. 

Perawat datang silih berganti. Di ruangan tersebut hanya ada dua pasien, tidak sepenuh ketika persalinan kedua kakaknya dulu. 

Akhirnya aku dijemput oleh dua perawat cantik dari ruanganku. 

Di ruangan, aku diminta untuk belajar bergerak, terutama miring kanan dan kiri, agar bayi bisa segera dipindahkan ke ruanganku dan disusui. 

Kekhawatiranku, asiku masih belum keluar, pengalaman kakak-kakaknya dulu, asiku baru keluar di hari ke-tiga. 

Sebelum masuk Rumah Sakit, aku sudah mulai untuk memompa, walaupun yang keluar hanya angin. Di rumah sakit pun, aku melakukan pijat laktasi dibantu oleh suami. 

Alhamdulillah rezeki putriku, di hari kedua kebersamaan kami, asiku keluar, terasa moment let down reflex yang memenuhi payudaraku. Atas izin Allah, putriku ini memang rajin sekali meminta susu. Walaupun masih lebih banyak tidur. Ketika tidur, benar-benar tidak bisa dipaksa untuk menyusu, mulutnya terkunci rapat, tapi ketika dia sendiri yang meminta, langsung menangis tak sabar. Lucu sekali ma syaa Allah. 

Diizinkan Pulang

Setelah diobservasi, tekanan darahku yang selalu rendah, tapi Alhamdulillah Hbku naik jadi 9.3 g/dL. Dokter memutuskan untuk tidak transfusi. Alhamdulillah nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan? 

4 hari menjalani rawat inap, suka duka berada di sini, aku bersyukur dan berterima kasih sekali dengan pelayanan Rumah Sakit tempatku bersalin. 

Ruangan yang nyaman, makanan yang enak, petugas yang ramah, dokter yang berkualitas. Aku bersyukur atas semuanya. 

Kami diizinkan pulang setelah obgynku melakukan visit. Dibekali beberapa nasihat dan ilmu merawat newborn oleh perawat, kami diantar menuju pintu dan pulang. Alhamdulillah. 

Semoga anak cantikku ini menjadi anak yang sholehah, penyejuk hati dan mata orang tuanya, penyelamat di akhirat nanti, penuh cinta dan dicintai oleh banyak orang, menjadi sebaik-baik makhluk dengan memberi kebermanfaatan yang luas di dunia maupun di akhirat. Selamat datang dan semoga kamu selalu bersinar anakku, do'a Ibu mengiringi setiap langkah perjalanan hidupmu. Bismillah, mari berjuang bersama di Bumi Allah ini. 

0 komentar:

Posting Komentar