Selasa, 05 Mei 2015

Job Seeking

Bagi para fresh graduate mungkin job seeking menjadi dilemma. Bekerja sesuai passion, beban kerja tidak terlalu berat, dan gajinya besar, siapa yang tidak mau? Semua orang pasti berharap demikian.

Dilemma tersebut juga akhirnya aku rasakan. Kebanyakan dari teman-teman sangat antusias untuk mengirimkan lamaran ke sana dan kemari. Berbeda denganku, aku hanya mengapply lamaran ke tempat yang memang sedang membutuhkan. Browsing di internet, banyak sekali lowongan kerja tapi kebanyakan tidak sesuai dengan hati. Akhirnya hanya berbekal informasi loker dari group angkatan, status job seeker pun dimulai.

  1. F-Ciputat, Tangsel. Data di internet tentang klinik tersebut masih sangat kurang bahkan tidak ada. Aku memutuskan untuk melamar ke sana hanya dengan alasan, ada beberapa kakak tingkat yang juga bekerja di sana, aku berharap di samping bekerja, aku juga bisa lebih meningkatkan kualitas diri dan kepribadianku jika bersama mereka. Aku mengirimkan berkas lamaran dan persyaratan lainnya melalui email. Sekitar beberapa hari kemudian aku dipanggil untuk interview. Yang menarik adalah interview dilakukan secara informal yakni dilakukan di Yoghurt Cisangkuy, Bandung, bahkan aku ditraktir. WOW!Hanya ada tiga orang yang juga diinterview. Ketika review jawaban interview waktu itu rasanya pengen ngakak, fresh graduate yang masih polos, menjawab jujur dan samasekali tidak ada compliment ke target perusahaan.

    Ketika ditanya kenapa ingin bergabung dengan kami? Aku menjawab karena lokasinya. Mbake menjawab karena ingin membahagiakan orang tua hahahaha.

    Tapi dari tiga orang yang diseleksi akhirnya, aku dan mbake lolos dengan catatan pertimbangkan kembali karena lab tempat kami bergabung masih sangat berkembang jadi harus tahan mental dan fisik. Setelah diumumkan bahwa kami lolos ternyata beberapa hari kemudian kami ditelpon dan dikabarkan bahwa lab tersebut akan direnovasi jadi kami harus menunggu selama tiga bulan. Ah…

  2. P-Kramat, Jakarta Pusat. Perusahaan ini merupakan salah satu laboratorium klinik terbesar di Indonesia dengan anak cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Lamaran aku kirimkan via email. No response.

  3. P-Pluit, Jakarta Utara. Laboratorium klinik ini merupakan cabang dari P yang di Kramat. Aku mengirimkan lamaran serta persyaratan lain via pos berdasarkan informasi dari grup angkatan. Berikut rincian kegiatan bersama labklin P di Pluit ini:


Continue reading Job Seeking

Minggu, 26 April 2015

Medical Laboratory Professional Week

Dalam rangka memperingati ulang tahun PATELKI yang ke-29 yakni jatuh pada 26 April maka diselenggarakanlah Pekan Teknologi Laboratorium Medik. Acara ini bersifat nasional dan dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia selama sepekan dari 20-26 April 2015.

Tugu Proklamasi 

Di acara puncak Pekan Teknologi Laboratorium Medik (26 April 2015) yang dilaksanakan di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Bapak Entuy Kurniawan selaku ketua umum DPP PATELKI menyampaikan bahwa acara Pekan TLM ini bertujuan untuk mensosialisasikan perubahan nomenklatur Analis Kesehatan menjadi Ahli Tenaga Laboratorium Medik (ATLM). Hal ini sesuai dengan UU Nomor 36 Tahun 2014 pasal 11 ayat 1 dan 12.
Jenis Tenaga Kesehatan yang termasuk dalam kelompok tenaga teknik biomedika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf k terdiri atas radiografer, elektromedis, ahli teknologi labratorium medik, radioterapis, dan ortotik prostetik.
Lomba foto, donor darah, stands dari DPC PATELKI se-Jabodetabek, pentas seni, senam, dan jalan sehat mewarnai kemeriahan acara puncak Pekan TLM, Tidak hanya orang dewasa tapi para kader muda PATELKI juga turut berpartisipasi dengan menampilkan ragam tarian tradisional bahkan adat Melayu. 

Antusiasme ATLM ini terlihat dari jumlah peserta yang mencapai ribuan orang. Acara yang diliput oleh stasiun televisi nasional ini juga dimeriahkan oleh doorprizes, seperti mug cantik anti dehidrasi, peralatan elektronik, peralatan check up, sampai grand prize berupa motor.

Semoga dengan usia PATELKI yang hampir mencapai kepala tiga ini, bisa mengiring para ATLM seluruh Indonesia dalam menghadapi tantangan global dengan profesionalitasnya, dan semakin sejahtera para tenaga kesehatan di Indonesia.

Salam ATLM,
Continue reading Medical Laboratory Professional Week

Senin, 05 Januari 2015

Taman Bunga Nusantara

Entah lebih ekstrim mana, pertama kali ketemu langsung naik gunung Ciremai berdua atau menembus puncak naik motor di malam hari saat hujan lebat berkabut dan angin kencang.

Perjalanan panjang dari Bekasi menuju puncak dengan menggunakan motor merupakan moment yang jadi bukti kesabaran dan ketangguhan abang (disamping perjalanan Jakarta-Bandung atau Jakarta-Majalengka tentunya). 

Di tengah perjalanan, daerah Bogor, ketika macet parah dan hujan lebat, motor kami sempat terpeleset karena rem depan yang terlalu pakem, karena insiden itu, kaca spion kanan motor abang pecah, Alhamdulillah kami tidak melukai ataupun terluka dalam kejadian ini. Mungkin hanya lecet sedikit, kaki kananku sedikit hematoma tapi semuanya baik-baik saja, entah kalau abang, dia samasekali tidak mengeluhkan sakit atau apapun.

Hujan dan terus hujan. Entah pikiran apa yang menghasut kami supaya datang ke puncak malam itu. Mobil-mobil berderet rapi sama sekali tidak bergerak karena macet, maklum masih suasana liburan tahun baru. Aku yang samasekali tidak berencana liburan jarak jauh hanya membawa kaos untuk ganti pakaian. 

Maka karena khawatir terkena flu atau masuk angin, di tengah jalan kami membeli celana jeans untuk aku, dan sikat gigi serta peralatan mandi lainnya. Kami terus melaju di tengah dinginnya malam berkabut, melawan hujan deras yang mencemooh siapa saja yang keluar malam itu. 

Banyak orang yang menawarkan vila dan penginapan sepanjang jalan. Malam semakin larut, perjalanan kami terasa begitu panjang, setelah melewati Masjid At-Ta’awun, suasana menjadi semakin sepi, jarang ada kendaraan yang melintas, baik di jalur kami maupun di jalur sebaliknya. 

Menginap di Basecamp Pendakian Gunung Gede

Taman-Bunga-Nusantara-Cianjur


Alhamdulillah sekitar jam 11 malam, kami sampai di basecamp pendakian Gunung Gede, dan kami menginap di warung Heri, seorang teman Abang. Apakah ada yang tahu suhu di sana ketika malam hari dan hujan deras? Ketika sikat gigi pun rasanya gigi dipaksa mengunyah es batu yang dinginnya luar biasa. 

Kami memesan mie rebus dan kopi untuk menghangatkan badan. Setelah itu kami langsung beristirahat. Beruntung kami menemukan selimut, kami melapisi tubuh kami dengan tiga lapis selimut yang tersedia di sana. Walaupun sudah mengganti pakaian dengan pakaian kering, masih terasa sangat dingin. Benar-benar dingin. Tapi aku tertidur dengan pulas. 

Tidak terasa, pagi ini kembali datang dengan suasana murung. Gerimis terus turun sampai sekitar jam 7 pagi. Setelah mengisi perut dan men-charge jiwa narsis kami dengan selfie bareng, kami pun turun menuju Taman Bunga Nusantara (tanpa mandi dan hanya sikat gigi).

Untuk menemukan bunga-bunga cantik yang tumbuh di berbagai belahan dunia, cukup datang ke Taman Bunga Nusantara yang terletak di Desa Kawungluwuk, Kecamatan Sukaresmi, Cipanas, Kabupaten Cianjur 43254 Jawa Barat, Indonesia (sesudah puncak sebelum cibodas).

Taman-bunga-nusantara-cianjur

Harga Tiket Masuk Taman Bunga Nusantara (2015)

Tiket masuk ke taman bunga nusantara (2015) senilai Rp 30.000,- (berlaku per orang untuk usia 4 tahun ke atas), parkir motor Rp 5.000,- sedangkan mobil Rp 10.000,- cukup mahal ya, tapi ga rugi ko, di sana kita dimanjakan oleh pemandangan yang menyenangkan. Pas di pintu masuk aja, banyak orang yang sudah melakukan foto-foto (termasuk kami) hehehe…

Taman-Bunga-Nusantara-Cianjur

Satu kata yang keluar dari mulut kami ketika melihat suasana di dalam taman bunga tersebut, MAA SYAA ALLAH! Indah nian ciptaan-Mu ya Allah. Berwarna-warni menyejukkan hati, meneduhkan pandangan. Kami pun sambil bergandengan tangan berkeliling ke setiap penjuru taman sampai hujan turun. 

Banyak orang yang semangatnya tidak surut walaupun diguyur hujan yang rintik-rintik, mereka tetap hilir mudik ke sana dan kemari, acuh tak acuh walau kepala dan sekujur mereka basah kuyup. Ada juga pasangan yang sangat memperhitungkan rencana kencan mereka, mereka membawa payung, jadi masih bisa berjalan-jalan sambil berpayung berdua di tengah gerimis, ahh romantis sekali. Detik itu juga aku berniat untuk membeli payung.

Labyrinth-Garden-dari-Observation-Tower
Berlatar Labyrinth Garden dari Observation Tower

Selain warga Indonesia, kami juga melihat ada orang asing yang datang ke sini. Bahkan bersantai ria seolah sedang menikmati bulan madu di tengah hamparan padang Bunga yang menawan.

Taman-Bunga-Nusantara-Cianjur

Sayangnya, karena hujan kami tidak sempat mengunjungi beberapa tempat di taman ini. Dan Abang berkata kurang bisa menikmati keindahan tamannya karena hujan. Tapi bagaimanapun aku bersyukur memiliki pengalaman datang dan menyaksikan sendiri hidden soul taman ini bersama orang terkasih.

First-date-in-Bogor
Our first date filled with laughter, joy, and love

Masih dengan menerobos hujan, jalan yang sedikit kurang bersahabat, becek dan jelek, kami pun memulai lagi perjalanan menuju kosanku. Perjalanan lancar sampai di daerah darmaga km 7, terjadi kemacetan parah dikarenakan ada kebakaran. Macet total. Melelahkan.


Kemacetan tersebut menguapkan isi perut kami, jadi ketika di daerah ciampea kami pun mampir ke warung djembat dan makan dengan lahap. Asupan energy setelah menempuh ratusan kilometer. Yummy yippi yip!!!

Dan tiba di kosan abang pun menghemat waktu, segera pulang tanpa singgah di kosan. Ah, detik ketika melepasmu pun sudah menyisakan kerinduan, bagaimana hariku malam ini?
Continue reading Taman Bunga Nusantara

Minggu, 04 Januari 2015

Imam, kamu di mana?

Halaman ke-empat tahun 2015. Kencan pertama kami di tahun baru ini. Semoga lembaran-lembaran baru ini bisa diisi oleh catatan manis.

Cerita ini dimulai dengan perjalanan kami menuju rumah salah seorang teman kuliah abang di Bekasi, Imam namanya. 
Sejak abang lulus kuliah, Imam tidak bisa dihubungi, bahkan social medianya pun tidak ada yang aktif. Berbekal informasi lowongan kerja di tempat abang bekerja dan juga solidaritas atas nama SIMBA, maka abang pun di sela-sela kesibukannya mencari waktu kosong untuk menyempatkan diri bersilaturahmi langsung ke rumah Imam. 
Imam tinggal di kampung cerewet. Semasa kuliah dulu abang pernah beberapa kali main ke rumahnya, tapi karena waktu itu menggunakan angkutan umum, jadi kami sedikit meraba-raba alamat tersebut berdasarkan GPS.
Continue reading Imam, kamu di mana?

Rabu, 26 November 2014

Jumat, 21 November 2014

Speak less, Write more

Terjaga di sepertiga malam. Menscroll handphone yang ditinggal terlalu dini malam tadi. Ada 55 pesan wa. Mereka yang membahas tentang cara pengenceran LED 1:4, diff count, cara menghitung Hb, dan bahkan sampai harga untuk reagen Fe. 

Tiba-tiba seperti ada benda keras yang menghantam dada. Oksigen yang masuk ke rongga pernafasan terasa seperti memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya. Dan ada jeda di setiap hembusan nafas seolah mencoba menikmati oksigen yang sedari tadi diperebutkan oleh jutaan manusia pun tumbuhan. Apakah ketika dini hari tumbuhan masih menghirup oksigen? Oh ayolah... mengalihkan perhatian tidak membuatmu terasa lebih baik.

Selain wa, ada juga 1 pesan di bbm. Dia berkata, "Maaf, semalam aku ketiduran."
Tidak masalah mengingat aku tertidur dengan pulas karena mata yang lelah menghadapi monitor laptop seharian. Manga Bleach chapter 500 sekian mengalihkan duniaku belakangan ini. 

Ketika menengok home, ada yang berkata kalau tumblrnya dihack.
Seperti tergelitik, tangan langsung membuka akun tumblr dan di dashboard aku menemukan seseorang yang sangat dekat bahkan seperti saudara walaupun kami tidak terlalu sering chit-chat memposting "Letter for scholarship". Terharu dengan cita-cita dan passionnya yang kuat untuk menjadi future leadership bagi Indonesia. Semoga Allah memudahkan dan menuntun jalanmu menuju mimpi-mimpimu, sahabatku! Aku bangga--sekaligus iri--. Mendesah. Sekali lagi, mengalihkan perhatian tidak membuat segalanya terasa lebih baik. Apakah diam lebih baik?

Ketika menscroll lebih jauh, ada seseorang nun jauh di sana, seseorang yang aku ketahui telah menjadi sahabat dari seseorang yang aku kenal. Dia berterimakasih karena temanku begitu perhatian padanya, dan akan mengajaknya jalan-jalan pekan ini.

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Sebenarnya bukan perasaan iri yang menggerogoti ketenanganku di pagi yang damai ini, melainkan sebuah kesadaran, apa yang akan aku lakukan untuk membuat hidupku lebih produktif, di saat semua orang menggeluti passion mereka, perlahan menjejaki tangga yang lebih tinggi menjadi semakin dekat dengan mimpi mereka, di sini aku hanya bingung dan berpikir, "apa yang harus aku lakukan?"

Ketika menscroll tumblr tadi ada seseorang yang memposting image quote.
"Browse less and read more, think less and try more"
Aku tidak terlalu mengerti dengan quote tersebut. Dengan hal apa aku harus memulai "act"-ku? Aku tidak mau terlena oleh zona nyaman. Tapi apa yang harus aku lakukan, sekarang, detik ini? Teringat caption foto seorang sahabat, "Jika detik yang akan datang adalah masa depan, jangan sia-siakan waktu, semangat untuk mengejar mimpi-mimpimu!" (Kurang lebih demikian).

Aku tidak terlalu fasih dalam mengungkap kegundahan hati dalam bentuk lisan, tapi setidaknya aku merasa lebih baik setelah menulis tulisan tak jelas ini. Walaupun tidak mendapat jawaban, dan aku menulis bukan bermaksud untuk mengabadikannya, tapi dengan cara seperti ini terkadang membuatku merasa lebih baik seolah semua kegelisahan yang memenuhi otakku tersedot ke dalam tulisan ini.
Thank you my blog, you are my another string to my bow.
Continue reading Speak less, Write more

Senin, 17 November 2014

Hidup itu Materi

Telinganya seperti terasa terbakar ketika mendengar kata materi. Dari kecil dia dibesarkan dengan penuh cinta dari orang-orang di sekelilingnya. Namun dunia berubah menjadi kejam ketika dia beranjak dewasa, semua orang berpegang pada pundaknya.

Life changed. Seperti tersentak dia kembali berpijak. Earth is not cruel, but people are. Dia tiba-tiba tersenyum ketika melihat handphone jadul di tangannya. Getir. N**ia 18o0c hp pertama ayahnya yang penuh kenangan. Sekilas terlintas kembali beberapa peristiwa yang dia alami baru-baru ini.

Department store yang selama beberapa tahun tak pernah dijamahnya terlihat begitu asing. Dia terlihat sesak tapi tetap angkuh. Di tempat itulah dia hendak mereparasi handphonenya. Dan alih-alih normal seperti sediakala, dia malah mendapat cacian dan pandangan rendah. Orang macam apa yang mau mereparasi hp yang biaya reparasinya setengah dari harga beli handphone tersebut saat itu? Dia kembali tersenyum. People never respect memory.

Dia terus menerawang, menikmati rasa sakitnya. She hates when her mind become wilder. Tapi tak bisa ditolak, pikirannya memutar rekaman memori jauh sebelum insiden reparasi hp itu terjadi.

Dia menghadiri annual meeting keluarganya di Depok. Pada kesempatan itu, didatangkanlah seorang ustadz kondang yang terkenal karena manisnya lesung pipitnya. Setelah tausyiah dan rangkaian acara selesai, tibalah sesi foto-foto. Semua orang begitu excited. Mereka berbaris rapi di samping kanan dan kiri ustadz tersebut. Tuan rumah menyediakan kamera slr, dan entah manajer atau siapanya (kaki tangan ustadz tersebut) menawarkan untuk mengambil foto. 

Dia yang juga terlena oleh suasana tersebut meminta tolong kepada orang yang sama untuk mengambil foto menggunakan hp lil'g yang sekarang sudah tidak diproduksi. Hp yang selama tiga tahun terakhir begitu setia menemaninya dalam suka ataupun duka, bahkan ketika poop. Namun orang itu menggeleng dan menolak secara halus sambil tertawa.

Hp yang canggih pada zamannya kini sudah tidak dilirik. Teknologi begitu dinamis, apakah manusia juga harus menjadi budak teknologi? Ketika hp jadul bisa digunakan semaksimal mungkin, bisa dibilang bisa mengikuti teknologi walaupun tertatih-tatih atau bahkan hp jadul yang sudah tidak setara untuk disandingkan dengan jenis hp canggih baru, apakah mereka harus disingkirkan?

People respects richmen.
Continue reading Hidup itu Materi

Selasa, 04 November 2014

Aku, Kau, dan Gede

Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk naik gunung lagi. Rasanya seperti burung yang lepas dari sangkar emas kali ya hehe… Seneeeeeengg!!! Tapi pendakian kali ini sedikit berbeda, karena menggunungnya harapan akan cerita bahagia sepasang karib. Gunung Gede mungkin jadi tempat yang bersejarah untuk Bang Anyuk dan Kak Uki, pasalnya di tempat inilah kuncup-kuncup cinta mereka merekah dengan indah. Lucky you, kak! ^^ ♥

Menurutku keputusan untuk mengajak wanita mendaki gunung adalah sebuah keputusan yang sangat berani.
Ketika punggungmu sakit, ada dia yang merelakan punggungnya untuk menanggung bebanmu,

ketika semua orang melangkah cepat di depanmu dan meninggalkanmu, ada dia yang menjejeri langkahmu,

ketika nafasmu mulai terasa sulit, ada dia yang menemanimu istirahat menstabilkan nafas,

ketika kerongkonganmu terasa kering, ada dia yang menyodorkan air untuk menghapus dahagamu,

ketika kamu merasa ragu dan takut untuk melangkah, ada dia yang mengulurkan tangan, meyakinkan dan memberimu rasa aman untuk melangkah,

ketika kamu mulai mengeluh, dalam lelah dia tetap tersenyum dan menyemangatimu,

ketika kamu lengah, ekor mata dan kesigapannya tak pernah lengah menjagamu,

ketika yang lain terlelap dalam kehangatan, dia rela menerobos dingin hanya untuk mengantar dan menungguimu buang air,

ketika kamu kedinginan, ada tangannya yang menggenggam jemarimu dan memberikan jaketnya untuk menghangatkanmu,

Selalu ada dia yang berusaha keras untuk menjaga dan membahagiakanmu.

 

Ketika mendaki gunung, karakter dari masing-masing kepala seolah begitu transparan, dari sanalah keterikatan hati mudah terjalin. Hahaha… jadi mellow gini. Abang, I love you!

Matahari pagi Surya Kencana

Well, menurut banyak orang, Gunung Gede adalah tempat yang sangat memukau, tapi bagiku, Gunung Ciremai tetap menempati deretan teratas karena di sanalah langkah awal perjalananku sebagai penikmat (atau Pencinta?) alam dimulai dan chemistry antara aku & abang mulai terjalin :p


Perjalanan ke Gede, jika boleh aku ingin mengulangnya. :(

Jam 6.30 a.m. aku berangkat dari Majalengka dan sampai sekitar pukul 2 p.m. di Jakarta, kemudian sebelum packing ulang kami menghabiskan waktu di tempat bang Sugy. Dengan berjalan kaki, jam 10 p.m. lewat sekian menit kami menjadi orang paling terakhir yang datang ke PMI Jakbar. Aku bertemu wajah-wajah baru. Tanpa memperkenalkanku, abang langsung tenggelam dalam euphoria sahabat-sahabat karib. Aku sendirian. Abang Jahat!!! :( *Cuma bang Anyuk dan kak Leha yang menjabat tanganku*

Dengan menggunakan mobil tronton yang disediakan oleh panitia, perjalanan menuju Gede pun dimulai. Belum sempat istirahat dari pagi, rasa kantuk pun menyerang, tapi karena ga bisa tidur kepala pun sedikit pusing, tapi hal tersebut tidak mengurangi sukacitaku, orang-orang baru di sekelilingku begitu talkactive dan menyenangkan. Ada saja tingkah mereka yang membuatku ngakak dalam hati.

Bogor di depan mata, Jakarta pun perlahan tertinggal di belakang. Aku ga suka medan licin, aku gamau menyusahkan abang, maka sepanjang perjalanan yang kadang diselingi oleh gerimis dan hujan lebat, aku mengetuk pintu langit, mengudarakan do’aku supaya perjalanan kami lancar dan hari cerah.

Sekitar pukul 2 a.m. kami tiba di daerah pemukiman warga (entah apa namanya) jalur Gunung Putri. Kesan pertama? Dingiiiiiiiiiin… sedikit gerimis. Kak Kiki memberiku permen, dan aku sedikit berbincang dengan orang-orang yang ada di dekatku saat itu, mereka ramah, itu menjadi perintang hati yang sedikit menenangkan perasaanku.

Pendakian dimulai pukul 4 a.m. tepat setelah adzan shubuh berkumandang, dimulai dengan do’a, kami telah menyiapkan hati kami untuk menyapa salah satu keagungan-Nya.

Gunung Gede termasuk yang agak ribet perizinannya (tapi karena panitia yang ngurus, aku gatau gimana ribetnya hehehe) dan termasuk gunung favorit para pendaki. Ketika sampai di GPO kami dicek, harus memakai sepatu, tidak boleh membawa barang-barang yang mengandung bahan kimia seperti shampoo, pasta gigi, sabun, dan entah apa lagi.

Entah bagaimana awalnya, mungkin pengaruh hormon juga (hari itu aku sedang menstruasi hari ke-2), emosi menguasai diriku, aku ga terlalu suka jika abang terlalu memperhatikan wanita lain. Aku memang tipikal pencemburu hahaha but love is nothing without jealousy, isn’t it? :p

Perasaan negatif itulah yang membunuh konsep-konsep yang sudah dipersiapkan sebagai hadiah untuk pasangan yang sedang berbahagia, dan juga kenikmatan yang seharusnya menemani perjalanan kami. Aku dan abang ditemani kebisuan, awan hitam yang biasanya setia menemani langit kota hujan itu seakan berpindah ke pelupuk mataku, berat sekali rasanya.


Setelah melewati pos pertama kami terpisah dari rombongan, mendamaikan hati yang bahkan tak berselisih. Dan berdamai setelah semua akar masalah diutarakan.

Dalam hidup ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah, tapi dasar dari semua itu adalah keterbukaan dan keberanian untuk mengeluarkan “kata”. Dan jangan pernah mencoba berbohong dengan mengatakan jika kamu baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak!

Entah siapa yang berpendapat, hati menjadi lapang ketika melihat hal yang lapang. Ketika sampai di suryakencana, mata, hati, pikiran, rasanya semua inderaku dimanjakan oleh keindahan ciptaan-Nya. Kebahagiaan itu terasa lengkap, karena dia di sisiku. Semua perasaan negatif  yang sebelumnya muncul, sirna sudah. Kami pun terus menyusuri padang edelweiss menuju sumber mata air mencari mas Daus dan bang supri yang telah lebih dulu sampai. Setelah bertemu, sambil menunggu rombongan, kami menggelar tenda dan mengisi perut. Tapi kami tak menemukan satu orang pun dari rombongan sampai penutupan hari.

Berjalan beriringan menyusuri padang Edelweiss


Ada dua hal yang abang ingkari, pertama ketika aku mengajak foto di padang edelweiss, abang menawarkan untuk berfoto dengan edelweiss yang dihiasi cantiknya embun pagi, tapi kami tak pernah melakukan itu. Kedua, aku mengajak keluar untuk melihat sunset, abang menawarkan untuk melihat sunrise tapi esoknya, abang kedinginan dan gamau bangun :(

Surya Kencana ketika masih sepi

Setelah bercengkrama menikmati dinginnya pagi sambil menyeruput susu, makan mie dan roti bakar, kami berbagi tugas, bang supri dan mas daus mengambil air, abang bikin kopi, beresin tenda, sedangkan aku mencari anggota rombongan yang lain. Tapi sayang aku tidak menemukan mereka.

Canda Tawa menghangatkan suasana pagi

Akhirnya kami pun muncak dan di tengah perjalanan menuju puncak, kami bertemu dengan rombongan. Waaaah, haru biru mewarnai pertemuan kami hehehehe bang Jajang bercerita tentang bagaimana khawatirnya beliau karena berkali-kali mencari kami tapi tak jua bertemu. Kami pun merasakan hal yang sama ditambah perasaan bersalah karena membuat yang lain khawatir. Tapi setelah itu kami berpisah lagi. Zzzzz…

Aku belum pernah bertemu orang banyak di puncak gunung lain, selain di Gede dan Tangkuban Parahu. (jelas lah orang jarang naik gunung hahaha). Satu hal yang aku sesali, kami tidak sempat menjadi saksi romantisme lamaran bang Anyuk untuk kak Uki. :(

Kami turun melalui jalur Cibodas, mengulur-ulur waktu sepanjang perjalanan, menghabiskan waktu untuk sekedar menyeduh kopi dan menyantap mie di tengah perjalanan, mengambil air dan beristirahat lama di tempat camp tapi rombongan tak juga menyusul. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan berempat. Beberapa meter sebelum sampai basecamp (bada maghrib), turunlah hujan lebat. Aku membayangkan rombongan, dan semakin kagum lah aku pada mereka yang menghandle barang sekaligus menjaga para wanita.




[caption id="attachment_1512" align="aligncenter" width="300"]"I am Proud of being d'black g'black's Family," said Abang "I am Proud of being d'black g'black's Family," said Abang[/caption]

Sekitar jam 11 malam, kami pun berkumpul dan bersiap untuk kembali ke Jakarta.




Terima kasih untuk pengalaman hebat bersama orang-orang hebat. Mohon maaf untuk semua yang hal yang tidak berkenan, semoga kita bisa berjalan bersama lagi di waktu, Tempat, dan keadaan yang lebih baik.


Continue reading Aku, Kau, dan Gede

Rabu, 15 Oktober 2014

Curug Muara Jaya

Ketika browsing tempat wisata di Majalengka, kebanyakan yang keluar adalah wisata curug/air terjun, dan yang paling beken adalah curug Muara Jaya. Awalnya saya pikir Curug Muara Jaya, Curug Maja, dan Curug Apuy itu adalah curug yang berbeda, ternyata sama. Curug ini terletak di Kampung Apuy, Desa Argamukti, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.

Dari Majalengka, jalan terus menuju Maja, sampai di terminal Maja, ada jalan kecil di sampingnya, maka ikuti jalan itu lurus terus sampai menemukan papan petunjuk menuju Curug Muara Jaya.

Buat yang suka tantangan boleh deh main ke sini, jalannya mangstap. Bagus sih, tapi turunan, tanjakan, tikungannya itu loh, udah 4 hari badan masih pegel-pegel sepulang dari sana (ketahuan jarang gerak hehe). Jalannya kecil, tapi bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Agak susah memang kalau ada dua mobil yang papasan.

Tips pertama dari saya:

Dalam mengemudikan kendaraan harus ekstra hati-hati, pas tanjakan jangan telat ngoper gigi (buat yang motor bebek), kalau bisa jangan ada di belakang motor lain, nanti pas motor depan kita engap, kita jadi ikutan engap :p , kalau pas turunan, hati-hati tekor, jangan gegayaan deh, jangan mentang-mentang tracknya asyik jadi ceroboh. (ini berdasarkan pengalaman ya hehe)

Buat yang naik angkutan umum, dari Majalengka bisa naik elf turun di terminal maja, terus nanti nyewa mobil bak terbuka (kol gundul), atau bisa juga naik ojeg.

Tiket masuk ke tempat wisata ini yaitu Rp 8.000,- per orang (dewasa), dan Rp 3.000 untuk anak-anak, camping Rp 10.000,- per orang, parkir Rp 2.000,- tapi di dalam curug nanti ditagih lagi Rp 2.000,- mungkin untuk biaya kebersihan. (mahaaaaal…)

Dari tempat parkir, jalan lagi menuju jalan setapak yang dipaving blok kemudian akan ada banyak warung penjual makanan dan minuman, toilet, mushola, ruang pertemuan, dll untuk ke curug harus turun lagi melalui jalan berundak.

Hmm… kami datang terlalu pagi jadi masih sangat sepi, hanya kami bertiga, dan petugas setempat.

Tips yang kedua:
Pilihlah teman yang enak buat diajak jalan. 
Wisata curug itu menyenangkan, damai, sejuk, tenang, tapi kalau keadaannya terlalu sepi dan teman jalan kita juga pendiam, serem juga kaan? :(

Masih pagi, jadi kami memutuskan hanya bermain air, dingin… awalnya airnya jernih tapi sekitar jam 11 lewat tiba-tiba airnya berubah kecoklatan, jadi kek susu cokelat. Ketika kami pulang, baru banyak orang yang datang berkunjung, kasian mereka datang di saat airnya sudah keruh. Ckckck

Dibandingkan dengan rasa lelahnya, keindahan alam yang disajikan kurang memuaskan mungkin karena ditambah faktor teman jalan yang kurang ekspresif kali ya…
Continue reading Curug Muara Jaya