Check up yang berujung dirawat berhari-hari di Rumah Sakit. Mungkin itulah yang akan dikatakan oleh orang awam.
Self Diagnosis
Bapak mengeluh jadi mudah capek ketika bekerja di ladang, ditambah berat badan yang turun drastis. Bapak mengira bahwa beliau terkena Diabetes, karena 5 dari 12 bersaudara meninggal karena Diabetes. Nenek dari pihak Bapak memang meninggal karena Diabetes.
Dengan keyakinan tersebut, Bapak minta dibelikan susu untuk orang yang sakit diabetes, melakukan diet ketat berupa cut gula, kopi, dan Alhamdulillah bisa berhenti merokok juga.
Setiap hari jadi rajin Shalat Subuh ke Masjid, bahkan minta dibelikan sepeda untuk berolahraga.
Perubahan gaya hidupnya menjadi lebih mindful. Tapi satu hal yang disesalkan, Bapak tidak mau diajak berobat ke Dokter. Alasannya karena terakhir Mamah sakit, dokter salah mendiagnosis, mamah sakit maag kronis yang menyebabkan sakit kepala hebat, tapi dokter mendiagnosis terkena jantung atau struk, benar-benar mengerikan.
Medical Check-up
Setelah libur lebaran, tanggal 25 Maret 2026 poli rawat Jalan Rumah Sakit Cideres baru buka kembali. Aku yang sedang mudik, berinisiatif untuk mengajak Bapak MCU. Malamnya Bapak melakukan puasa (boleh minum air putih), terakhir makan sekitar pukul 18.00.
Kami berangkat ke RS Cideres pada pukul 7.00. Langsung ke bagian pendaftaran poli rawat jalan tanpa mengambil antrian, kami mendaftar dengan biaya pribadi. Selanjutnya kami diarahkan ke Poli MCU di Ruang Jatayu lantai 2. Kami menunggu cukup lama, akhirnya setelah bertanya ke perawat yang baru standby di tempatnya, kami disuruh datang ke poli penyakit dalam.
Di poli penyakit dalam, perawat menanyakan parameter yang akan diperiksa, melakukan tensi, mengonfirmasi ulang bahwa biayanya cukup mahal jika tidak ditanggung BPJS. Saya meminta pemeriksaan Hematologi Lengkap, Profil Lipid, Fungsi Hati, Fungsi Ginjal, Urine Lengkap, Rontgen, dan EKG.
Setelah itu kami ke laboratorium untuk pengambilan darah. Tidak menunggu terlalu lama, kami langsung dipanggil, setelah pengambilan darah, Bapak mengambil sampel urine.
![]() |
| MCU - Pengambilan Darah Oleh petugas Laboratorium |
Selanjutnya kami datang ke bagian Radiologi untuk periksa rontgen. Bapak diminta masuk ke ruangan 2, kemudian diminta berbaring. Di sini tidak perlu berganti pakaian atau hanya memakai pakaian yang dipakai dari rumah.
Setelah selesai kami langsung ke ruangan untuk cek EKG, lokasinya berada di ujung dekat dengan poli penyakit dalam. Kami menunggu cukup lama, karena petugas belum berada di tempat.
Aku menyarankan Bapak untuk buka puasa dulu dengan makan dimsum mentai dan buah pepaya potong yang aku beli di kantin.
Sambil menunggu petugas, aku memutuskan untuk ke kasir dahulu, ternyata karena EKG belum diperiksa, jadi invoicenya belum masuk. Aku hanya membayar pemeriksaan laboratorium dan Rontgen dahulu.
Ketika Bapak dicek EKG, aku mendengar namanya dipanggil menggunakan speaker. Aku cukup kaget karena merasa telah melakukan semua pemeriksaan yang dibutuhkan. Aku bertanya pada petugas EKG, menurutnya jika dipanggil menggunakan speaker biasanya itu berasal dari poli penyakit dalam. Oh, ya. Hasil EKG Bapak 107 BPM per menit. Cukup tinggi dibandingkan dengan nilai normal 60-100 BPM per menit dalam keadaan istirahat.
Setelah itu, aku menemui perawat poli penyakit dalam untuk bertanya perihal dipanggil tadi. Dan perawat menyarankan Bapak untuk dirawat karena:
![]() |
| Hasil Laboratorium |
- nilai Hemoglobinnya berada di nilai kritis 6.5 g/dL
- Leukosit (sel darah putihnya) juga berada di nilai kritis 46.420/mm3.
- LED juga sangat tinggi 170 mm.
- Fungsi ginjal menurun ditandai dengan Ureum yang tinggi 72 mg/dL (nilai normalnya 20 - 40 mg/dL), Creatininnya 2.1 mg/dL (nilai normalnya 0.6 - 1.2)
- Glukosa puasa bagus 97 mg/dL.
Masuk IGD
Aku mengonfirmasi informasi dari perawat kepada Bapak. Bapak memutuskan untuk menunggu hasil MCU secara lengkap baru memutuskan untuk dirawat atau tidak. Setidaknya kekhawatiran Bapak soal Diabetes terpatahkan dan itu membuatnya kembali optimis.
Setelah menunggu cukup lama, aku mengambil hasil rontgen dan Laboratorium. Hasil rontgennya diluar dugaan termasuk hasil yang bagus, mengingat riwayat Bapak sebagai Perokok berat. Masalahnya adalah di Laboratorium, penurunan fungsi ginjal dan anemia parah dan juga leukosit yang sangat tinggi.
Aku membujuk Bapak untuk dirawat, aku hanya menekankan bahwa Bapak Anemia, jika terlalu rendah khawatir bisa pingsan kapan saja, jadi lebih baik dirawat. Aku tidak mau merusak optimisme Bapak atau membuatnya stress dengan hasil laboratorium yang lain. Biar dokter saja yang menyampaikan langsung ketika Bapak nanti sudah dirawat.
Akhirnya Bapak mau masuk IGD. Mamah yang sedari tadi khawatir, jadi heran karena katanya hasilnya bagus tapi kenapa harus dirawat. Pas MCU, Bapak lupa membawa identitas dll. Akhirnya ketika hendak daftar ke IGD, adikku mengantarkan KTP dan kartu BPJS Bapak. Kami berada di ruang transit cukup lama. Di IGD Bapak diberikan obat penambah darah yang diminum 1 jam sebelum makan.
![]() |
| Di ruang transit IGD ditemani anak-anaknya |
Menjelang malam, aku pulang bergantian dengan mamah, karena anak-anak hanya dijaga oleh adik iparku (memegang 4 orang anak sendirian).
Sekitar pukul 22.00 Bapak dipindah ke ruang rawat Cendrawasih di lantai 2. Ada A Iwan yang membantu pindahan.
Transfusi
Sekitar pukul 05.34 WIB esok harinya Bapak baru ditransfusi dengan 2 labu darah. Hanya ada Mamah yang menemani Bapak. Mamah diberi informasi untuk melakukan donor darah di PMI, tapi mamah kurang menangkap instruksi dengan jelas. Aku juga tidak mengerti bagaimana alurnya.
![]() |
| Transfusi pertama |
Di hari ke-2 Bapak dirawat aku datang setelah shalat Maghrib, Mamah pulang sebentar untuk mandi. Setelah bersih-bersih di rumah, Mamah kembali ke RS dan aku pulang. Betapa setianya mamah menemani Bapak, bahkan diminta untuk istirahat di rumah pun, Mamah gamau.
Di waktu sore hari ke-2, dokter H. Irwan Haris, Sp.PD, FINASIM (dokter spesialis penyakit dalam) baru melakukan visit. Malamnya Bapak diminta puasa lagi, karena pagi hari akan diambil darah untuk cek lab lagi.
Aku Pulang
Di hari Sabtu, aku harus kembali ke Bogor, dengan keyakinan Bapak akan pulang, hati masih agak berat untuk pergi. Ternyata hasil transfusi, ternyata Hb Bapak masih rendah dan diminta untuk melakukan transfusi lagi. Hasil Asam Uratnya pun tinggi yaitu 11 mg/dL. Bapak diberikan antibiotik, obat lambung, obat mual, penambah darah, dll.
Bapak dan mamah awalnya menyangka akan pulang di hari ke-3. Mendengar keputusan dokter yang tidak mengizinkan pulang dan harus melakukan transfusi lagi, mereka terdengar cukup frustasi. Terlebih karena AC di ruangan sepertinya rusak atau mode fan jadi Bapak sangat kegerahan dan tidak bisa tidur nyenyak.
Dan yang cukup membuat Bapak terguncang adalah pihak Bank Darah yang menyatakan tidak ada stock darah (karena keluarga Bapak belum melakukan donor darah di PMI). Akhirnya Bapak memutuskan untuk pulang saja. Tapi entah bagaimana ceritanya, akhirnya stock darah tersedia dan Bapak Alhamdulillah ditransfusi.
![]() |
| Transfusi ke-2 |
Alhamdulillah buat beet yang aku pesan online sudah datang, adikku inisiatif untuk menggabungkan buah beet dengan buah naga di tukang jus (karena blender di rumah rusak).
Lepas Infus
Alhamdulillah pada hari Minggu, 29 Maret 2026 sore hari setelah visit dokter, selang infus sudah dilepas, tapi masih belum tahu hasil lab sebelumnya, dan untuk bisa pulang masih menunggu visit dokter.
Karena merasa sudah sehat dan kegerahan di dalam, Bapak duduk di depan ruang rawat inap sambil menunggu visit Dokter.
Pulang
Akhirnya setelah menanti visit dokter yang tidak kunjung datang, perawat memberikan pilihan untuk tetap menunggu visit dokter atau langsung pulang. Bapak dan Mamah yang memang sudah tidak sabar untuk pulang, akhirnya memilih langsung pulang.
Pada Senin, 30 Maret 2026, akhirnya Bapak sampai di rumah. Alhamdulillah. Semoga Allah memberikan kesembuhan dengan tiada sakit setelahnya. Aamiin.
Bapak diberikan surat untuk kontrol lagi pada tanggal 7 April 2026.
Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kegelisahan, kesedihan, gangguan, hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari dosa-dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).


























