Jumat, 23 Mei 2014

Need more Revisi!

Setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbing, beliau menyarankan saya untuk mencari prosedur standar pemeriksaan Antioksidan dengan menggunakan DPPH di BPOM atau dosen farmasi Poltekkes Bandung.

Akhirnya saya memutuskan detik itu juga untuk mengunjungi BPOM. Saya baru tahu bahwa BPOM berada dalam satu kawasan dengan Dinas Kesehatan yaitu di Jalan Pasteur No. 25 Bandung 40171.

image

Sesampainya di sana saya langsung menuju gedung BPOM, ternyata sepi karena kebetulan saya datang di jam istirahat. Ada seseorang yang menyambut kedatangan saya dan beliau memberi arahan tentang proses birokrasi di sana. Saya diarahkan ke bagian SERLIK.

image

Untuk melakukan kunjungan ke BPOM saya harus membawa surat pengantar dari kampus. Datang dengan tangan kosong tanpa surat pengantar terpaksa saya harus kembali lagi di lain waktu.

Setelah dari BPOM saya bergegas mengunjungi Pak Indro dosen Farmasi dengan maksud untuk berkonsultasi. Setelah berdiskusi panjang lebar (tidak hanya tentang penelitian, tapi juga tentang mind mapping, personal life, politik, karir, dsb sampai kami terhanyut suasana dan menangis bersama) ternyata penelitian antioksidan pada kecap sulit untuk dilaksanakan. Mengingat warna DPPH yang ungu gelap dan kecap yang berwarna hitam, maka akan sulit dibaca oleh spektrofotometer. Beliau menyarankan untuk meneliti langsung dari kedelai.

Maka berbekal saran dari beliau saya kembali ke kampus bermaksud untuk kembali konsultasi dengan pembimbing saya, namun sebelumnya saya mengunjungi bagian administrasi untuk meminta surat pengantar ke BPOM. Ternyata di sana saya bertemu dengan pembimbing, kebetulan sekali, jadi berdasarkan obrolan singkat, pada dasarnya pembimbing saya setuju untuk mengubah sampel penelitian. Masih belum jelas seperti apa nanti, mudah-mudahan Allah senantiasa menunjukkan jalan yang terbaik.


Continue reading Need more Revisi!

Selasa, 20 Mei 2014

Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bandung

Hallo, masih bingung mau melanjutkan kuliah kemana? Mungkin Poltekkes Bandung bisa jadi salah satu option. Berhubung banyak yang bertanya tentang Analis Kesehatan, maka berikut akan saya bahas secara garis besarnya.


1. Apa sih Analis Kesehatan itu?


Buat yang masih asing tentang profesi analis kesehatan, saya sarankan baca tulisan salah seorang alumni dari Analis Kesehatan Poltekkes Bandung. Click Here! Err... sedikit perkenalan tentang penulis artikel tersebut, kang Rizal adalah ketua himpunan mahasiswa Analis Kesehatan tahun 2011-2012 (AKB Angkatan 25).


Masih belum terbayang analis kesehatan seperti apa? Simplenya, apakah teman-teman pernah datang ke rumah sakit? Pernah mengunjungi laboratorium klinik Rumah Sakit? Pernah dengar nama Prodia, Pramita, atau laboratorium klinik lainnya? Nah, pasti teman-teman akan menemukan sosok Analis Kesehatan di sana.


Continue reading Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bandung

Jumat, 16 Mei 2014

Sabtu, 19 April 2014

Kawah Putih Bandung

Pulang dari Gunung Tangkuban Parahu aku dan abang melanjutkan perjalanan menuju kawah putih. Kami berencana bertemu bang Iwan dan Eka di sana. Tapi ternyata di perjalanan mereka memutuskan untuk langsung pulang ke Jakarta dan datang ke taman bunga di Bogor. Walaupun bang Iwan dan Eka batal pergi ke kawah putih, kami tetap melanjutkan perjalanan ke sana.

Mengambil rute yang berbeda dari perjalanan awal, kami melewati daerah Parongpong, Nanjung, dan akhirnya Soreang. Cukup sulit untuk sampai di  Soreang, berhubung kami sama-sama belum pernah ke sini, beberapa kali kami sempat tersasar. Namun orang-orang di Bandung memang begitu hangat kepada para pendatang, hal tersebut membuat kami tidak sungkan untuk bertanya.

Ketika sampai di depan Stadion Jalak Harupat, abang begitu excited. Dia yang selalu meledekku narsis malah bermetamorfosis jadi makhluk photogenic. Kami berhenti sebentar di luar gerbang stadion karena pintu masuk ditutup dan sepertinya tidak dibuka untuk umum kecuali ketika ada pertandingan.


Aksi kami rupanya mengundang penasaran orang. Bahkan ada pasangan yang juga ikut berfoto ria dengan background stadion jalak harupat. Kami melanjutkan perjalanan, sekitar pukul 12.29 perut kami mulai keroncongan dan kami pun singgah di Rumah Jamur (Pasir Jambu, Soreang). 

Setali tiga koin kami juga numpang ngecharge hp yang hampir sekarat. Sepi. Padahal rumah makan tersebut lumayan menarik, dari jendela kita bisa melihat kolam ikan yang dikeliling oleh kebun. Kami duduk lesehan di tempat paling ujung (berhubung cuma di sini yang ada colokan) sambil menonton TV. Kami memesan daging ayam bakar dan teh manis ditambah pencuci mulut jamur crispy. Sebenarnya menu yang ditawarkan sangat beragam dan banyak varian masakan jamur. Namun harganya juganya lumayan. Jadi kami memilih yang ramah di dompet.

Terhipnotis oleh cita rasa makanan yang disajikan kami sampai lupa mengabadikan moment di sana. Makanannya emang enak-enak, tapi porsinya kecil dan harganya mahal. Baru ketika hendak pulang, kami baru teringat akan kamera. Dan kami pun selfie dengan muka ngantuk karena kekenyangan.

Ketika dikonfirmasi ke penjaga rumah makan tersebut, jarak ke kawah putih masih sangat jauh, berkilo-kilo meter lagi. Dan jam 17.00 tempat wisata tersebut sudah ditutup karena gasnya yang mulai beracun.

Bingung antara terus jalan atau kembali pulang. Tapi setelah sejauh ini perjalanan rasanya sayang kalau lelah ini tidak terbayar. Oleh karena itu kami memutuskan untuk KEEP GOING!

Percayalah, mencapai kawah putih sangat melelahkan, entah itu perjalanan dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun umum.

Cuaca mendung, dan ketika kami hampir tiba di kawasan kawah putih, gerimis pun turun. Seketika itu pun kami berbalik arah dan mencari penginapan. Kami memutuskan untuk berbalik arah karena khawatir di atas tidak ada penginapan dan kalaupun ada pasti harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan penginapan di bawah. Kami pun singgah di penginapan yang paling dekat.

Pondok Gembyang, Jl. Patengan km. 38. Desa Baru Tunggul, Alam Endah. Telp. (022)5928998, 087824622244 Ciwidey, Bandung.

Kami membooking satu unit penginapan standar seharga 200k. Fasilitas yang didapat cukup memuaskan, kamar dengan seprai wangi dan bersih rapi, sebuah tv, kamar mandi dengan air hangat, alat shalat, kolam air hangat, rak-rak tempat menyimpan pakaian, roti panggang untuk sarapan, kopi, teh, dan masih banyak lagi.

Malam harinya kami turun untuk mencari makanan dan kami singgah di Rumah Makan Bebek dan Ayam Unti, Jl. Raya Ciwidey Rancabali Telp. (022) 85920555.

Pagi di Pondok Gembyang

Ceritanya candle light dinner, suasananya romantis, ditemani gemericik air dari kolam, kaki kami pun bisa berselonjor menyentuh air kolam, karena tempat makannya disetting sedemikian rupa sehingga kami di bawah meja makan tersebut terhubung dengan kolam.
Kami makan enak malam itu, benar-benar moment yang jarang. Terima kasih buat Yayu yang sudah jadi sponsor setia kebahagiaan kami.

Candle Light Dinner di RM Bebek dan Ayam Unti

Kami tidak langsung angkat kaki setelah menyikat bersih makanan yang ada. Menikmati malam yang diciptakan begitu romantis dengan segala suguhan kekuasaan-Nya.
Insiden lucu di penginapan ini adalah ketika pagi-pagi kami kelaparan, kami pun menagih fasilitas roti bakar yang tertulis di brosur, memalukan tapi butuh hahaha. Ternyata jauh dari ekspektasi kami, roti tawar + susu coklat yang dipanggang. Tapi lumayan lah untuk mengganjal perut.
We are ready to go! Yeay! Kawah putih we are coming..

Kami menggunakan kendaraan pribadi dengan tujuan bisa meminimalisir budget, ternyata sesampainya di sana, pihak pengelola tempat wisata ternyata begitu komersil. Pertama kami parkir motor seharga Rp 5.000 dan helm tidak boleh disimpan di motor, harus dititipkan, biaya penitipannya sebesar Rp 5.000.

Kemudian tiket masuknya Rp 28.000 per orang biaya tersebut sudah termasuk tiket masuk dan kendaraan ontang anting yang akan mengantar ke tempat wisatanya. Kami diberikan kartu untuk membuka palang pintu yang menghubungkan ke tempat ontang anting.

Ontang anting ini mobil serupa angkot dengan kapasitas penumpang 12 orang ditambah sopir. Kami menunggu lumayan lama karena mobil baru berangkat apabila sudah terisi penuh.
Menurut informasi pihak pengelola sudah tiga tahun melarang adanya kendaraan pribadi yang langsung masuk ke tempat wisata. Tapi apabila hendak membawa mobil pribadi, maka akan dikenakan biaya Rp 150.000 per mobil ditambah Rp 15.000 per orang. Ckckckck
Tapi hal positif dengan diberlakukan peraturan tersebut adalah bisa memberdayakan warga yang berdomisili di sekitar tempat wisata, mereka jadi punya mata pencaharian.

Entah memakan waktu berapa lama, akhirnya sampai di kawasan kawah putih. Banyak yang menyodorkan masker. Ingat! Bawalah masker sendiri. Di sini, harga masker dispossible yang umumnya dijual Rp 500 - Rp 1.000 dijual dengan harga Rp 5.000. Luar biasaaaa...
Di depan area masuk sudah banyak orang yang mengantri untuk foto di tugu bacaan kawah putih. Keadaan di sana ramai sekali, dari beragam usia, tua muda semuanya tumpah ruah.





Kami harus menuruni tangga yang lumayan panjang. Tapi tidak sepanjang great wall China. :D




Sesampainya di bawah aku langsung terbatuk-batuk tidak kuat menahan bau belerang. Tapi hal tersebut tidak berlangsung lama, aku pun mulai terbiasa. 




Ada banyak fotografer yang menawarkan jasanya. Hanya Rp 10.000 tapi kami memilih untuk menggunakan kamera sendiri.

Tempatnya cantik, sesuai namanya hampir semua berwarna putih, air, pasir. Banyak juga orang yang melakukan prewedding di sini.




Tapi entah kenapa aku kurang puas terhadap perjalanan ke tempat ini, selain biaya yang mahal, tempat ini walaupun suhunya terasa dingin tapi matahari menyengat langsung. Dan jarang ada yang jualan makanan, mungkin khawatir terkontaminasi racun.




Tadinya kami hendak melanjutkan ke situ patenggang. Tapi berhubung waktu sudah siang dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Majalengka, dengan berat hati kami pun pulang.

Oia dalam perjalanan pulang, sempat berdiskusi dengan sopir ontang anting. Katanya apabila kita mau masuk gratis, cukup bawa motor tapi jangan pakai helm. Biasanya para pengelola mengizinkan masuk gratis orang-orang yang tinggal di sekitar sana.

Ada insiden lucu juga ketika pulang, kami melewati orang-orang yang berjualan, hampir setiap toko meneriakkan hal yang sama, stroberinya teh. Rp 5.000 dua. Ketika aku menoleh, terlihatlah buah stroberi segar, merah merona sangat menggoda. Sempat tidak percaya, kemasan sebesar itu hanya Rp 5.000 dapet dua pula. Aku pun tertarik untuk menghampiri, ternyataaaaa.... ZONK! kemasan stroberi yang dipajang harganya Rp 25.000 sedangkan yang ditawarkan seharga Rp 5000 itu kemasan kecil. dasar, marketing yang bagus hahaha. Hati-hati jangan tertipu ya!



Continue reading Kawah Putih Bandung

Reuni di Gunung Tangkuban Perahu Bandung

Otanjoubi Omedetou, abang...
Sebenarnya ultah abang jatuh pada 2 Maret kemarin tapi berhubung saya sedang PKL di Tasik, jadi kami menangguhkan pertemuan kami. Niat awalnya abang akan menjemput saya di Bandung dan mengantar saya di Majalengka, esoknya kami akan berjalan-jalan di Majalengka. Tapi planning itu pun gagal karena kebetulan Eka dan bang Iwan juga berencana ke Bandung dan ingin berlibur bersama ke kawah putih. Jadi kami menunda keberangkatan ke Majalengka.

Ternyata setelah ditunggu sekian lama ternyata mereka memutuskan untuk menginap di rumah temannya Eka kawasan kampung daun. Hhhh...

Esoknya sambil menunggu kabar dari Eka dan bang Iwan kami memutuskan untuk ke Tangkuban Perahu terlebih dahulu. Jam 6.00 kami berangkat dari kostan dan sarapan lontong kari di Gunung Batu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Lembang via Setraduta, Sarijadi menggunakan motor. 

Abang memberikan kepercayaan penuh pada saya untuk mengemudikan motor sampai ke Tangkuban Perahu. Sempat nyasar di daerah Sarijadi alhamdulillah akhirnya kami sampai di daerah Bandung Utara. Kami mengikuti petunjuk jalan dan instruksi dari orang yang kami tanya (berhubung kami sama sekali belum pernah ke daerah ini).

Sekitar Mushola dan tempat parkir

Sampai di gerbang utama kami langsung foto-foto tapi sayang fotonya ga kesimpen. Kemudian dari gerbang depan kami meneruskan perjalanan dan ngantri untuk membeli karcis, keadaannya cukup ramai walaupun masih pagi. Tiket masuknya yaitu Rp 17.000/orang dan tiket masuk kendaraan Rp 5.000 untuk sepeda motor.

Perjalanan menuju kawah masih jauh dari tempat awal membeli karcis. Sepanjang perjalanan itu, kita bisa melihat betapa hijaunya pemandangan di sana. Semua dikelilingi oleh pepohonan. Di tengah jalan kami menemukan plang bertuliskan kawah (lupa namanya) tapi orang-orang yang istirahat di sana menginstruksikan kami untuk terus jalan. Akhirnya kami jalan terus dan welcome! Kami sampai dan langsung kebelet pipis. Udaranya segar sekali dan bbbrrrrrr....



Tangkuban perahu yang terkenal dengan Legenda Sangkuriang ini memiliki tinggi 2.084 meter. Kawah menjadi spot paling banyak digandrungi untuk foto-foto.




Saya dan abang berjalan bergandengan menyusuri setiap senti dari jalan setapak di Tangkuban Perahu. Di sini banyak sekali pedagang yang dengan ramahnya menawarkan dagangan mereka. Ada jagung bakar, pop mie, kopi, dan lain sebagainya. 

Kami tidak sempat mampir di warung karena perut kami masih dalam keadaan penuh setelah diisi lontong kari. Jadi kami hanya menghabiskan waktu untuk berjalan, foto-foto ketika melihat spot yang menarik dan bercerita riang selayaknya sepasang kekasih. Senangnya menjadi muda, dan senangnya bisa merasakan cinta. ^^

Kami pulang sekitar jam 9.30 dan ternyata ditagih lagi uang parkir motor Rp 5.000. Menjelang siang keadaan menjadi sudah sangat ramai, kemacetan pun tak bisa dihindari. Banyak mobil berlalu lalang ditambah pengemudi sepeda motor yang tidak mau tertib. Jadi kalau mau ke Tangkuban Perahu usahakan datang pagi deh, jadi niat refreshing kita bisa terkabul dan ga terjebak macet :)






Continue reading Reuni di Gunung Tangkuban Perahu Bandung

Minggu, 13 April 2014

Info Trayek Tasikmalaya – Majalengka ?

Tidak banyak yang tahu tentang rute perjalanan dari Tasikmalaya menuju Majalengka. Pasalnya memang tidak ada mobil yang langsung menuju majalengka. Berikut rute perjalanan saya ketika Praktik Kerja lapang di Tasikmalaya menuju Majalengka.

Via Bandung:

      *Dari Rumah Sakit Umum dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya - pool Primajasa, naik angkot 05 tarifnya Rp 3.000,-;


 

      *Kemudian naik bis Primajasa.sampai Cileunyi;


AC jurusan Tasik – Bekasi set 2-2

      , tarif sampai CIcalengka, Rancaekek, maupun Cileunyi harganya sama yaitu Rp 18.000,-.


AC jurusan Tasik – Bekasi set 2-3

      kemudian turun di Dangdeur, tarifnya Rp 10.000,-.


 

      Dangdeur – Cileunyi, naik angkot Majalaya – Gedebage, tarifnya Rp 2.000,-


 

      Dangdeur – Jatinangor, naik angkot Majalaya – Gedebage, tarifnya Rp 5.000,-


Ekonomi jurusan Tasik – Bekasi

      , tarif sampai Cicalengka/Rancaekek yaitu 7.000, dan menuju Cileunyi Rp 10.000,-.


 
    *Cileunyi – Majalengka, naik elf jurusan Bandung – Cirebon (untuk arah ke Cirebon) atau elf BUHE/Rukun Wargi jurusan Cikijing – Bandung (untuk arah ke Majalengka pusat), tarifnya Rp 20.000,- sampai Kadipaten.

Continue reading Info Trayek Tasikmalaya – Majalengka ?

Selasa, 04 Februari 2014

Yeay, Akhirnya BBM untuk Gingerbread


Sekarang BlackBerry Messenger bisa diinstall di cell phone dengan sistem operasi Android 2.3 Gingerbread. Sebelumnya BBM ini hanya bisa digunakan oleh Android versi Ice Cream Sandwich, JellyBean, dan KitKat. Tapi berhubung Indonesia merupakan negara yang masih berkembang dengan sekitar 21% dari keseluruhan Android User masih menggunakan versi Gingerbread, maka BlackBerry melebarkan bisnisnya untuk menyaingi platform messaging lain seperi WhatsApp, Line, Facebook, dll.
Bagi anda para user roti jahe, bisa download aplikasi BBM tersebut di sini.
Setelah sekian lama,akhirnya selamat menikmati! ^^
Continue reading Yeay, Akhirnya BBM untuk Gingerbread

Sabtu, 21 Desember 2013

Pendakian Cinta – Merbabu

Setelah penetapan tanggal keberangkatan yang labil akhirnya diputuskan perjalanan kami dimulai tanggal 21 Desember 2013. Aku berangkat pagi dari kosan di Bandung menuju Jakarta Barat, dan sesampainya di terminal Kalideres, sudah berdiri di sana seseorang dengan senyumnya yang hangat menyambut uluran tanganku. Dialah kekasihku, bang Majid. 

Dia menunggu terlalu lama, sebelum masuk tol Tangerang bahkan dia sudah standby untuk menjemputku, walau disengat teriknya matahari Jakarta, dan sumpeknya atmosfer terminal tapi dia masih bergairah untuk tersenyum kepadaku. Mendengar perutku yang keroncongan dia menawarkan diri untuk mengisi perut dengan mie ayam pedas-manis di sekitar minimarket, rasanya nuampol rek, enak tenan… karena kebetulan sedang lapar.

Kemudian kami mengunjungi lapak bang Sugy yang berada tidak jauh dari tempat kami makan. Beliau sedang menganyam tali untuk dijadikan gelang, kreatif sekali. Di lapaknya tersedia berbagai macam aksesoris untuk anak muda, seperti gelang yang beraneka ragamnya, kaos, kalung, dan lain-lain. Dari lapak inilah perjalanan panjang kami dimulai.

Lapak Bang Sugy

Jadwal pemberangkatan yang ditargetkan pukul 3 pm akhirnya molor 3 jam. Jadi kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu di rumah abang. Seperti biasa kami disambut oleh 3 bocah keponakan abang yang selalu heboh dan kompak. Rasanya kangen sekali, senang bisa bertemu mereka lagi. 

Ada hal yang membuat aku terharu, ketika aku dan abang sedang tilawah, dua keponakan abang yang paling besar, Faiz dan Caca rebutan ikut tilawah dengan membaca surat Yasin, An-Naba dan surat-surat pendek lain di juz 30.

Ikhsan juga bocah paling kecil tidak mau kalah. Tapi kemudian ketika mamangnya (bang Majid) membawa bola untuk mengalihkan perhatian ikhsan, seketika itu juga bocah-bocah ikut move on dan akhirnya kami bermain bersama. Setelah kelelahan bermain sambil teriak-teriak, kami menonton film 5cm yang sebenarnya telah ditonton berulang-ulang sampai kami semua ketiduran. 

Sekitar pukul 5 pm aku dibangunkan dan disuruh mandi, tapi karena nyawa belum terkumpul semua, aku ogah-ogahan. Kemudian kami menuju lapak bang sugy untuk mempacking ulang semua bawaan kami. Settingannya sinting, tinggi carriernya hampir menyaingi tinggi badanku, beratnya? Jangan ditanya bahkan untuk sekedar menyeretnya pun aku membutuhkan kekuatan super. :D

Para Pendalung

Di perjalanan menuju terminal kami terjebak macet, abang ditelpon terus menerus, tapi ketika sampai di sana ternyata kami ketinggalan mobil. Kami terlambat 12 menit. Dan orang yang memakai baju orange dan orang yang memakai topi dengan seenaknya memaki-memaki abang, bahkan dengan gaya yang sangat norak, tinggi badannya tidak lebih dari tinggi badanku, dan dia berusaha menegap-negapkan badannya ketika berhadapan dengan abang, mereka juga memasang tampang garang. 

Hal yang lebih menjijikkan lagi, tiket bis AC kami yang harganya 120k ditukar dengan tiket bis ekonomi sumber alam dan harus nambah 10k untuk masing-masing tiket. Benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka termasuk orang yang tertawa ketika orang lain menangis. Walaupun begitu kami tidak bisa menampik bahwa kami yang salah karena datang terlambat, dan apabila tidak ditukar dengan tiket lain maka uang kami akan hangus.

Akhirnya perjalanan kami yang seharusnya berangkat pukul 6 pm kembali molor. Hari itu bertepatan dengan pertandingan final Indonesia vs Thailand. Sekitar jam 7 lewat kami baru bisa naik bis dan memulai perjalanan bertiga, aku, bang Majid, dan Bang Sugy. Bang iwan dan Eka menyusul keesokan harinya, sedangkan teman abang yang lain membatalkan untuk ikut. Perjalanan kami lancar, sopir bisnya juga terampil mengemudikan mobilnya, sehingga aku pun terlelap. Aku terbangun di daerah Cikampek karena udara panas, macet membuat tidak ada angin yang berhembus ke dalam mobil. Seketika itu juga aku langsung mandi keringat.

Entah di daerah mana, kami mampir di rest area, kebelet pipis dan antrian toiletnya subhanallah, kami memutuskan untuk membeli pop mie, dan ketika antrian sudah tidak terlalu panjang ternyata air toiletnya kosong, perasaan kecewa memuncak tapi akhirnya Alhamdulillah ada yang menyediakan air walaupun harus diangkut sendiri. Lega sudah dan tepat jadwal istirahat kami berakhir. Di sini tas kecil punyaku yang dititipkan ke bang majid hampir ketinggalan, karena dia terus-terusan main hp, Alhamdulillah Allah sayang pada kami, kalau sampai tertinggal, entah bagaimana nasib kami, semua dompet, handphoneku, dan barang-barang berharga lainnya ada di sana.

Banjir di Kebumen

Sampai di daerah kebumen ada kabar kalau jalur yang kami lewati terjadi kemacetan panjang dikarenakan banjir. Oleh karena itu sopir memutuskan untuk berbalik arah dan mengambil jalur alternative melalui jalan tikus. Ketika di daerah desa Ambalresmi kami berhenti lagi, para sopir kembali galau karena ternyata di jalur itu pun terjadi kemacetan karena ada mobil teronton yang mogok. 

Desa Ambalresmi

Setelah jeda yang cukup panjang, akhirnya kami kembali ke jalur semula dan terjebak kemacetan parah. Kebanyakan para penumpang memilih transit atau berjalan kaki, hanya tinggal 5 orang yang bertahan. 2 orang dengan tujuan Yogyakarta, dan kami bertiga dengan tujuan Magelang. Pilihan yang sulit, transit pun tidak berefek banyak, dan malah membuat biaya yang keluar semakin bengkak, maka kami memutuskan untuk bertahan. Berjam-jam kami menunggu, mobil samasekali tidak bergerak maju. Pada kesempatan itu, aku memutuskan untuk tilawah, berharap Allah akan lebih memudahkan perjalanan kami.

Bang Sugy

Walaupun perlahan akhirnya mobil bisa bergerak maju, dan dengan keberanian sopir, mobil kami mengambil jalur kanan untuk menyalip mobil-mobil lain, kalau tidak begitu mungkin kami akan sampai di terminal keesokan harinya. Ternyata banjir yang terjadi tersebut setinggi lutut orang dewasa, di tengah musibah tersebut, ada orang yang mengais rezeki dengan mengangkut motor dan penumpangnya, banyak juga anak-anak kecil yang bermain air bersama teman-temannya. 

Sawah yang tergenang, sepanjang mata memandang hanya ada air, semoga Allah mengangkat derajat para korban karena kesabarannya, dimudahkan rezekinya, digantikan dengan berlipat ganda, semoga cepat surut dan tidak ada korban jiwa, amin.




Sampai di pool daerah sekitar Kutoarjo kalau tidak salah, kami disuruh untuk transit tapi kami menolak karena tiket yang kami pegang sampai terminal Magelang, jadi kami dioper ke bis lain yang katanya akan membawa kami sampai terminal Magelang tapi ternyata bis tersebut hanya membawa kami sampai terminal Purworejo. Di sini kami beristirahat sampai mobil arah Magelang datang.




Di terminal Magelang kami tidak punya banyak waktu, begitu turun dari mobil yang kami tumpangi, kami langsung naik mobil yang menuju Wekas, dan mobil tersebut merupakan pemberangkatan terakhir hari itu. 

Awalnya sempet heran karena mobil tersebut tidak menunggu sampai penumpangnya penuh, ternyata di jalan ada banyak penumpang yang rela berdiri dan berdesak-desakan, menurutku mobil yang kami tumpangi melebihi kapasitas. Jalurnya sempit, dan sopir mengemudikannya dengan ekstrim. 

Di tengah jalan, mobil yang kami tumpangi mogok, katanya ada masalah dengan radiatornya. Jadi semua penumpang yang berdiri disuruh turun, tapi Alhamdulillah setelah beberapa menit akhirnya mobil jalan seperti sediakala. Dan abang hampir kehilangan handphonenya, hpnya jatuh, Alhamdulillah Allah menunjuk orang yang baik untuk menemukan hp abang yang jatuh dan mengembalikannya, semoga kejujuran beliau dibalas pahala yang berlipat-lipat amin..

Mobil mogok

Basecamp Gunung Merbabu jalur Wekas terdapat di Dusun Kedakan, RT.01/RW.04, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Kami turun di gapura desa kenalan. Gapura ini terletak di sebelah kanan jalan apabila naik mobil jurusan Magelang- Salatiga. Di gapura ini ada ojeg yang menawarkan jasanya dengan tarif 25k. 

Kami sampai di gapura sekitar pukul 6pm. Kami memutuskan untuk berjalan kaki walaupun cuaca agak sedikit gerimis, seandainya kami datang lebih siang, mungkin kami bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan di sini. Di tengah jalan ada hajatan yang menampilkan tari topeng ireng. Kami berhenti sebentar untuk menghangatkan tubuh dengan menyantap bakso. Kemudian kami berhenti di sebuah masjid dengan niat untuk beristirahat sejenak tapi sayangnya lantainya basah, jadi kami memutuskan untuk mempacking ulang carrier.

Bang Ambon, Mas Adit, dan Mas Tedy

Perjalanan menuju basecamp sekitar 3 jam jika ditempuh dengan jalan kaki. Di basecamp ada banyak orang tua yang sedang menonton wayang kulit, dan ada tiga orang yang sedang menghangatkan badannya di tungku. Mereka adalah bang Ambon, Mas Tedy dan Mas Adit dari Bogor. Mereka berbincang panjang sambil menyeduh kopi, sedangkan aku mengajak abang untuk shalat kemudian langsung tertidur pulas. Saking dinginnya kami harus memakai sleeping bag untuk tidur.



Esok harinya kami berbincang sambil menikmati sarapan ringan. Gerimis seolah tak bosan menemani hari kami. Sempat ragu apakah Bang Iwan dan Eka jadi menyusul atau tidak karena sampai siang itu masih belum ada kabar dari mereka. 

Hari itu 23 Desember bertepatan dengan ulang tahun basecamp Merbabu. Dan ada pertunjukkan reggae dan gending. Sayang kami tidak bisa menonton. Alhamdulillah semua keragu-raguan terhapus ketika melihat dua ojeg membawa penumpang yang mukanya familiar, Bang Iwan dan Eka. Ini adalah kali pertama aku bertemu karo bojone bang Iwan. Ayu khas gadis Jawa dan sepertinya lebih dewasa dari aku walaupun usia kami terpaut jauh ahaha :)

Eka calon istri Bang Iwan

Merbabu dengan ketinggian 3142 mdpl merupakan salah satu gunung yang sangat indah di Indonesia, tapi saranku datanglah di musim kemarau supaya bisa mendapatkan view yang optimal. Ada 4 jalur pendakian yaitu jalur pendakian Thekelan, Selo, Wekas, dan jalur Chuntel. Sekitar jam 3 kami memulai pendakian menuju pos 2 melalui jalur Wekas.




Kami melalui jalan pintas yang ditunjukkan oleh bang Ambon. kami menemukan makam dan beristirahat sejenak, tidak berapa lama kemudian kami menemukan mata air dan berpapasan dengan para pendaki dari Yogya yang sedang dalam perjalanan turun.

Sampai di pos 2, juga kami menemukan pipa berisi mata air, suaranya bisa terdengar sampai jalur pendakian. Di jalur ini banyak sekali pendaki dari daerah lain. Perjalanan jadi terasa sangat menyenangkan. Berpapasan, saling menyapa, bertukar makanan, sekedar foto bareng, pokoknya menyenangkan. 

Ketika sampai di pos 2 kami disambut hujan deras, jadi kami tidak bisa menikmati pemandangan malam. Kami langsung mendirikan tenda. Di tenda kami menghangatkan diri dengan memasak mie dan menyeduh kopi.

Setelah perut penuh, kami mencoba memejamkan mata walaupun sepanjang pinggir tenda basah dan ada air yang menetes dari atas tenda. Aku dan bang Sugy langsung terlelap. Sekitar pukul 1 aku terbangun dan mendengar keributan di luar, berdasarkan cerita dari abang, katanya bang iwan di tenda sebelah menggigil dan Eka berteriak memanggil-manggil abang karena ketakutan, kemudian mereka jadi bahan ledekan bang Ambon hehehe. 



Ketika aku bangun, mas Tedy bergabung dengan bang Ambon, makin hebohlah mereka. Dan terdengar ada seorang wanita yang berteriak memanggil abang, ternyata Desti, temen abang di PMI. Kemudian aku tertidur lagi. Sekitar pukul 4 bang sugy bangun dan menyeduh susu, aku bergantian memakai sleeping bag dengan abang karena sleeping bag yang abang pakai dipakai untuk menghangatkan bang Iwan. Aku bangun menemani bang Sugy (sebenarnya merecokin soalnya laper hehehe). Waktu subuh, abang yang baru sejenak berbaring terpaksa harus diganggu untuk shalat berjama’ah.

Udara pagi yang menyenangkan di Gunung Merbabu, embun menetes segar menggelitik kerongkongan yang kering. Aku berkeliling menikmati pemandangan. Kemudian mengambil air bersama mas Tedy. Airnya subhanallah, dingin banget.

Agak siang kami akhirnya mulai memuncak, kecuali bang Ambon, beliau karena sudah terlalu sering muncak jadi tinggal di pos 2 sekaligus menjaga camp dan barang-barang kami. Terima kasih bang Ambon. Gatau kenapa di sini aku diem-dieman sama abang, bête. Tapi abang mendokumentasikan perjalanan kami melalui video.  Aku tidak terlalu hafal apa saja yang kami temui di jalur, yang jelas jalurnya mantap, berbatu dan menanjak, *iyalah* sekeliling kami adalah hutan tropis, indah sekali, hijau dan segar di mata.


Tidak lama kemudian setelah menemukan tugu, kami bertemu dengan seorang gadis asal Kediri yang mengajak kami berkenalan dan foto bersama, mba ini talkactive sekali. Ada satu hal lucu ketika kami melewati jembatan setan, aku dan mas Tedy sampai merangkak melewati jalan ini, jalannya sempit dan licin. God, Help Me! Akhirnya dibantu oleh bang Sugy akhirnya aku bisa melewati jalan ini. Sedangkan Eka dengan begitu lancarnya, jalan seperti dia jalan di jalur biasa, jelas aku diledek habis-habisan oleh abang ckck.

Di sebelah kiri itu jurang 

Entah di daerah mana, perutku seolah-olah menanggung beban berkilo-kilo yang akhirnya mendesak ingin dikeluarkan. Akhirnya keluarlah dengan penjagaan dari bang Majid di jalur bawah dan teman-teman yang lain di jalur atas, sembari istirahat dan menunggu bang Iwan dan Eka yang sibuk berfoto-foto ria sepanjang jalur pendakian. Menurut cerita Eka, dia disuruh bawa long dress untuk foto prewed di puncak bersama bang Iwan ahahahaha.

Akhirnya setelah entah berapa lama perjalanan kami sampai juga di puncak Kentengsanga, setelah mengambil foto, kami beristirahat di sekitar daerah makam ranger Merbabu yang meninggal bulan April 2013 yang lalu. Aku lihat bang Sugy sedikit terisak menahan harunya. Kami makan mie mentah di sini, persediaan air kami habis. Aku, Eka, dan bang Iwan tetap beristirahat di sana sementara abang dan yang lain meneruskan perjalanan ke puncak Trianggulasi yang hanya sekitar 5 menit dari kentengsanga.

Puncak Kentengsanga

Setelah puas menikmati pemandangan puncak, kami pun turun melewati jalur yang sama. Hehehe dalam perjalanan turun, yang lain turun duluan, hanya tersisa aku, abang, eka, dan bang iwan. Awalnya aku di depan kemudian disalip dan abang terus berjalan ke depan tanpa mengindahkanku yang ada di belakangnya, jalanan licin parah karena disertai gerimis, kami yang tidak memakai raincoat terpaksa memakai plastic sebagai pelindung kepala dari mas Adit. 

Aku kesal melihat tingkah si abang, dia juga samasekali tidak mengajakku ngobrol. Di tengah kekesalan itu aku terpeleset, aku makin kesal dan malu hahaha, jadi nangis sepanjang jalan sambil marah ke abang :p setiap berpapasan dengan pendaki yang baru naik pasti matanya tidak lepas melihat ke arahku. Pasti abang malu banget bawa aku. 

sampai di basecamp aku bercermin. Oh God! Mukakuuuuu, hidung merah dan mata bengkak, jelek sekali. Hehe tapi lucu tiap inget peristiwa itu. Katanya setelah kejadian itu, abang ga bakal ngajak aku naik gunung lagi kalau musim hujan, jahat banget ih. 

Kami sampai di basecamp menjelang Maghrib. Aku yang masih marah sama abang menghabiskan waktu 3 jam di masjid untuk tilawah menenangkan hati, meredam emosi yang entah dari mana datangnya padahal abang sama sekali ga salah. Ketika hendak kembali ke basecamp, ternyata sedaritadi abang menungguku di luar ditemani temannya Desti yang berasal dari Jawa Tengah. Kami pun kembali sambil berpayung bertiga, hatiku pun luluh. I love you abang :*

Ketika sampai di basecamp, ternyata bang sugy, bang iwan, dan eka sudah terlelap. Kemudian aku mengambil posisi di sebelah Eka.

Pulang dari Rumah Eka di Wonosobo bawa pulang salak masing-masing 1 karung

Esok harinya bang Iwan dan bang Majid bernostalgia tentang kenangan mereka di SMA. Kemudian ada pendaki cowo dari Bandung dengan pakaian seksi yang menyapa dan mengajak kami untuk bergotongan menyewa mobil dari basecamp sampai Magelang. Kami pun menuju perjalanan hati yang tidak akan terlupakan ^^

Continue reading Pendakian Cinta – Merbabu

Minggu, 25 Agustus 2013

Pendakian ke Gunung Sumbing

Make a trip along strangers and being the only girl maybe was my craziest thing i ever did. My sweetheart invited me to go on vacation with him. I came along, even though i just close with some of them. It was irritating when i am thinking how come I could go?

Our trip embarked on Wednesday, August 14th, 2013. But I went to Bandung on Sunday with my relatives. I stayed for two days at my boarding house. Everything settled rapidly and all i need to do just to follow my sweetheart's rules. He was worried i would be tired so i am asked to go earlier and stay at his home. I have no choice but agree it. :p

I spent about a week for vacation with them. Bang Noonk as the driver, bang Iwan as guide leader, Bang Dani, Bang Eky, bang Rey (rosani), and also my sweetheart. At first we fetched bang Roy (another my sweetheart's friend) at Bumi Ayu. He is the most handsome among the other. Then we were heading Desa Saradan, Pemalang, Central Java to attend bang Bakray's wedding. Bang Bakray is one of abang's friend who is in Virapala (Pinggir Rawa Pecinta Alam) too. Unfortunately, I, abang, and bang Noonk couldn't see their akad/ijab qabul cause i heard that the headman (penghulu) was in hurry. He started it without waiting for the whole family get together.

Bang Bakray's Wedding - Left to Right, Up to Bottom: (Bang Eky, Bang Rey, Bang Majid, Me, Bang Bakray, Bang Bakray's Wife, Bang Roy, Bang Noonk, idk, Bang Jabenk, Bang Iwan, Bang Dani)


Then our member increased. Bang Jabenk who has stayed at bang Bakray's house few days ago join us to go to Mount. Sumbing. We arrived at 7 sharp. We are greeted friendly by the people at the basecamp "Green Grass". They were so amusing. The most i love from climbers is their hospitality. We called the rangers of Mount Sumbing, Mas Kris. He is a half old man and how surprisingly, he can speaks Sundanese. Whole people got excited, me too :*

We started climbing at 9 pm but abang as the leader got astray, so we spent about an hour to get to first pos. Finally, We camp there. Cold, Stars in the sky are the right time to exchange the stories with a glass of tea or a cup a coffee. Romantic!

 The first pos

Later on, the boys is really hard to be awakened and we just started the adventure(?) at 9 am. We arrived at second pos about 4.5 hours and our waters was running out. Thanks to God near by Second pos (Petai China) there is beautiful savana and water saver. After refilled waters we camp again. There is flurry here. 

Bang Iwan and Bang Roy decided not to go to the Top. I was a bit dissapointed because i don't know when i could be in Sumbing again, and I prepared something to celebrate Whina's Birthday at the top. hiks. But if I continue the trip, we'll got there at night and we had to back to the basecamp in that night too. Finally we decided to rest for a little time and poop, eat, take pictures, blablabla...



At 7 pm we pursued to go down and we got confusion again. we got astray. Moreover, There are people who got hurt so it was impossible to go down at that night. We camp again in the second pos. There is funny story when we got astray, Bang Iwan with his confidence said to bang Jabeng "This is my opinion, i think you just have to throw out the edelweis!" said him sound convincing because the mystical was still convincing bang jabeng threw it out LOL and finally we saved by bang Jabeng's poop (i won't tell the detail) LOL.




The reason why we are imposing to go down at that night because we want to go to Dieng too. It will be too late if we go at noon but unfortunately times was still mocking us.

In the basecamp, we were queuing for taking a bath cause the water reached to the limit. Oh, yeaa.. my ankle be sprained here hiks..

At Basecamp "Si Petung" with Mas Agus and Mas Kris

Then we paid bang Roy and bang EKy's dream since in the mountain. They looked for mie ongklok. So we came to Alun-alun Wonosobo, ate mie ongklok, and also watched ceremony of HUT RI.

Mie Ongklok

After we're full, times for Dieng. We just came to Arjuna temple. It was funtastic but a bit scary. aaaaa when you get here, don't miss to try "PURWACENG"! a cup of coffee purwaceng can warm you up and make you"GRENG" and spiritful :p But I and abang Majid have no chance to try it :D In this place you can also buy souvenir such as Edelweis, purwaceng, Gruby (in west java it called keremes), Carica (buahnya para dewa dari dataran tinggi Dieng), etc.

Candi Arjuna

We are late came here, so we just came to that temple then pursued to Bumi Ayu, Bang Roy's home and back to Jakarta in the day after. Thanks for the trip. We are stranger but i got bunch of blissness. I love you all, i wish there will be next time. See You!


Continue reading Pendakian ke Gunung Sumbing