Sabtu, 21 Desember 2013

Pendakian Cinta – Merbabu

Setelah penetapan tanggal keberangkatan yang labil akhirnya diputuskan perjalanan kami dimulai tanggal 21 Desember 2013. Aku berangkat pagi dari kosan di Bandung menuju Jakarta Barat, dan sesampainya di terminal Kalideres, sudah berdiri di sana seseorang dengan senyumnya yang hangat menyambut uluran tanganku. Dialah kekasihku, bang Majid. 

Dia menunggu terlalu lama, sebelum masuk tol Tangerang bahkan dia sudah standby untuk menjemputku, walau disengat teriknya matahari Jakarta, dan sumpeknya atmosfer terminal tapi dia masih bergairah untuk tersenyum kepadaku. Mendengar perutku yang keroncongan dia menawarkan diri untuk mengisi perut dengan mie ayam pedas-manis di sekitar minimarket, rasanya nuampol rek, enak tenan… karena kebetulan sedang lapar.

Kemudian kami mengunjungi lapak bang Sugy yang berada tidak jauh dari tempat kami makan. Beliau sedang menganyam tali untuk dijadikan gelang, kreatif sekali. Di lapaknya tersedia berbagai macam aksesoris untuk anak muda, seperti gelang yang beraneka ragamnya, kaos, kalung, dan lain-lain. Dari lapak inilah perjalanan panjang kami dimulai.

Lapak Bang Sugy

Jadwal pemberangkatan yang ditargetkan pukul 3 pm akhirnya molor 3 jam. Jadi kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu di rumah abang. Seperti biasa kami disambut oleh 3 bocah keponakan abang yang selalu heboh dan kompak. Rasanya kangen sekali, senang bisa bertemu mereka lagi. 

Ada hal yang membuat aku terharu, ketika aku dan abang sedang tilawah, dua keponakan abang yang paling besar, Faiz dan Caca rebutan ikut tilawah dengan membaca surat Yasin, An-Naba dan surat-surat pendek lain di juz 30.

Ikhsan juga bocah paling kecil tidak mau kalah. Tapi kemudian ketika mamangnya (bang Majid) membawa bola untuk mengalihkan perhatian ikhsan, seketika itu juga bocah-bocah ikut move on dan akhirnya kami bermain bersama. Setelah kelelahan bermain sambil teriak-teriak, kami menonton film 5cm yang sebenarnya telah ditonton berulang-ulang sampai kami semua ketiduran. 

Sekitar pukul 5 pm aku dibangunkan dan disuruh mandi, tapi karena nyawa belum terkumpul semua, aku ogah-ogahan. Kemudian kami menuju lapak bang sugy untuk mempacking ulang semua bawaan kami. Settingannya sinting, tinggi carriernya hampir menyaingi tinggi badanku, beratnya? Jangan ditanya bahkan untuk sekedar menyeretnya pun aku membutuhkan kekuatan super. :D

Para Pendalung

Di perjalanan menuju terminal kami terjebak macet, abang ditelpon terus menerus, tapi ketika sampai di sana ternyata kami ketinggalan mobil. Kami terlambat 12 menit. Dan orang yang memakai baju orange dan orang yang memakai topi dengan seenaknya memaki-memaki abang, bahkan dengan gaya yang sangat norak, tinggi badannya tidak lebih dari tinggi badanku, dan dia berusaha menegap-negapkan badannya ketika berhadapan dengan abang, mereka juga memasang tampang garang. 

Hal yang lebih menjijikkan lagi, tiket bis AC kami yang harganya 120k ditukar dengan tiket bis ekonomi sumber alam dan harus nambah 10k untuk masing-masing tiket. Benar-benar mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka termasuk orang yang tertawa ketika orang lain menangis. Walaupun begitu kami tidak bisa menampik bahwa kami yang salah karena datang terlambat, dan apabila tidak ditukar dengan tiket lain maka uang kami akan hangus.

Akhirnya perjalanan kami yang seharusnya berangkat pukul 6 pm kembali molor. Hari itu bertepatan dengan pertandingan final Indonesia vs Thailand. Sekitar jam 7 lewat kami baru bisa naik bis dan memulai perjalanan bertiga, aku, bang Majid, dan Bang Sugy. Bang iwan dan Eka menyusul keesokan harinya, sedangkan teman abang yang lain membatalkan untuk ikut. Perjalanan kami lancar, sopir bisnya juga terampil mengemudikan mobilnya, sehingga aku pun terlelap. Aku terbangun di daerah Cikampek karena udara panas, macet membuat tidak ada angin yang berhembus ke dalam mobil. Seketika itu juga aku langsung mandi keringat.

Entah di daerah mana, kami mampir di rest area, kebelet pipis dan antrian toiletnya subhanallah, kami memutuskan untuk membeli pop mie, dan ketika antrian sudah tidak terlalu panjang ternyata air toiletnya kosong, perasaan kecewa memuncak tapi akhirnya Alhamdulillah ada yang menyediakan air walaupun harus diangkut sendiri. Lega sudah dan tepat jadwal istirahat kami berakhir. Di sini tas kecil punyaku yang dititipkan ke bang majid hampir ketinggalan, karena dia terus-terusan main hp, Alhamdulillah Allah sayang pada kami, kalau sampai tertinggal, entah bagaimana nasib kami, semua dompet, handphoneku, dan barang-barang berharga lainnya ada di sana.

Banjir di Kebumen

Sampai di daerah kebumen ada kabar kalau jalur yang kami lewati terjadi kemacetan panjang dikarenakan banjir. Oleh karena itu sopir memutuskan untuk berbalik arah dan mengambil jalur alternative melalui jalan tikus. Ketika di daerah desa Ambalresmi kami berhenti lagi, para sopir kembali galau karena ternyata di jalur itu pun terjadi kemacetan karena ada mobil teronton yang mogok. 

Desa Ambalresmi

Setelah jeda yang cukup panjang, akhirnya kami kembali ke jalur semula dan terjebak kemacetan parah. Kebanyakan para penumpang memilih transit atau berjalan kaki, hanya tinggal 5 orang yang bertahan. 2 orang dengan tujuan Yogyakarta, dan kami bertiga dengan tujuan Magelang. Pilihan yang sulit, transit pun tidak berefek banyak, dan malah membuat biaya yang keluar semakin bengkak, maka kami memutuskan untuk bertahan. Berjam-jam kami menunggu, mobil samasekali tidak bergerak maju. Pada kesempatan itu, aku memutuskan untuk tilawah, berharap Allah akan lebih memudahkan perjalanan kami.

Bang Sugy

Walaupun perlahan akhirnya mobil bisa bergerak maju, dan dengan keberanian sopir, mobil kami mengambil jalur kanan untuk menyalip mobil-mobil lain, kalau tidak begitu mungkin kami akan sampai di terminal keesokan harinya. Ternyata banjir yang terjadi tersebut setinggi lutut orang dewasa, di tengah musibah tersebut, ada orang yang mengais rezeki dengan mengangkut motor dan penumpangnya, banyak juga anak-anak kecil yang bermain air bersama teman-temannya. 

Sawah yang tergenang, sepanjang mata memandang hanya ada air, semoga Allah mengangkat derajat para korban karena kesabarannya, dimudahkan rezekinya, digantikan dengan berlipat ganda, semoga cepat surut dan tidak ada korban jiwa, amin.




Sampai di pool daerah sekitar Kutoarjo kalau tidak salah, kami disuruh untuk transit tapi kami menolak karena tiket yang kami pegang sampai terminal Magelang, jadi kami dioper ke bis lain yang katanya akan membawa kami sampai terminal Magelang tapi ternyata bis tersebut hanya membawa kami sampai terminal Purworejo. Di sini kami beristirahat sampai mobil arah Magelang datang.




Di terminal Magelang kami tidak punya banyak waktu, begitu turun dari mobil yang kami tumpangi, kami langsung naik mobil yang menuju Wekas, dan mobil tersebut merupakan pemberangkatan terakhir hari itu. 

Awalnya sempet heran karena mobil tersebut tidak menunggu sampai penumpangnya penuh, ternyata di jalan ada banyak penumpang yang rela berdiri dan berdesak-desakan, menurutku mobil yang kami tumpangi melebihi kapasitas. Jalurnya sempit, dan sopir mengemudikannya dengan ekstrim. 

Di tengah jalan, mobil yang kami tumpangi mogok, katanya ada masalah dengan radiatornya. Jadi semua penumpang yang berdiri disuruh turun, tapi Alhamdulillah setelah beberapa menit akhirnya mobil jalan seperti sediakala. Dan abang hampir kehilangan handphonenya, hpnya jatuh, Alhamdulillah Allah menunjuk orang yang baik untuk menemukan hp abang yang jatuh dan mengembalikannya, semoga kejujuran beliau dibalas pahala yang berlipat-lipat amin..

Mobil mogok

Basecamp Gunung Merbabu jalur Wekas terdapat di Dusun Kedakan, RT.01/RW.04, Desa Kenalan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang. Kami turun di gapura desa kenalan. Gapura ini terletak di sebelah kanan jalan apabila naik mobil jurusan Magelang- Salatiga. Di gapura ini ada ojeg yang menawarkan jasanya dengan tarif 25k. 

Kami sampai di gapura sekitar pukul 6pm. Kami memutuskan untuk berjalan kaki walaupun cuaca agak sedikit gerimis, seandainya kami datang lebih siang, mungkin kami bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan di sini. Di tengah jalan ada hajatan yang menampilkan tari topeng ireng. Kami berhenti sebentar untuk menghangatkan tubuh dengan menyantap bakso. Kemudian kami berhenti di sebuah masjid dengan niat untuk beristirahat sejenak tapi sayangnya lantainya basah, jadi kami memutuskan untuk mempacking ulang carrier.

Bang Ambon, Mas Adit, dan Mas Tedy

Perjalanan menuju basecamp sekitar 3 jam jika ditempuh dengan jalan kaki. Di basecamp ada banyak orang tua yang sedang menonton wayang kulit, dan ada tiga orang yang sedang menghangatkan badannya di tungku. Mereka adalah bang Ambon, Mas Tedy dan Mas Adit dari Bogor. Mereka berbincang panjang sambil menyeduh kopi, sedangkan aku mengajak abang untuk shalat kemudian langsung tertidur pulas. Saking dinginnya kami harus memakai sleeping bag untuk tidur.



Esok harinya kami berbincang sambil menikmati sarapan ringan. Gerimis seolah tak bosan menemani hari kami. Sempat ragu apakah Bang Iwan dan Eka jadi menyusul atau tidak karena sampai siang itu masih belum ada kabar dari mereka. 

Hari itu 23 Desember bertepatan dengan ulang tahun basecamp Merbabu. Dan ada pertunjukkan reggae dan gending. Sayang kami tidak bisa menonton. Alhamdulillah semua keragu-raguan terhapus ketika melihat dua ojeg membawa penumpang yang mukanya familiar, Bang Iwan dan Eka. Ini adalah kali pertama aku bertemu karo bojone bang Iwan. Ayu khas gadis Jawa dan sepertinya lebih dewasa dari aku walaupun usia kami terpaut jauh ahaha :)

Eka calon istri Bang Iwan

Merbabu dengan ketinggian 3142 mdpl merupakan salah satu gunung yang sangat indah di Indonesia, tapi saranku datanglah di musim kemarau supaya bisa mendapatkan view yang optimal. Ada 4 jalur pendakian yaitu jalur pendakian Thekelan, Selo, Wekas, dan jalur Chuntel. Sekitar jam 3 kami memulai pendakian menuju pos 2 melalui jalur Wekas.




Kami melalui jalan pintas yang ditunjukkan oleh bang Ambon. kami menemukan makam dan beristirahat sejenak, tidak berapa lama kemudian kami menemukan mata air dan berpapasan dengan para pendaki dari Yogya yang sedang dalam perjalanan turun.

Sampai di pos 2, juga kami menemukan pipa berisi mata air, suaranya bisa terdengar sampai jalur pendakian. Di jalur ini banyak sekali pendaki dari daerah lain. Perjalanan jadi terasa sangat menyenangkan. Berpapasan, saling menyapa, bertukar makanan, sekedar foto bareng, pokoknya menyenangkan. 

Ketika sampai di pos 2 kami disambut hujan deras, jadi kami tidak bisa menikmati pemandangan malam. Kami langsung mendirikan tenda. Di tenda kami menghangatkan diri dengan memasak mie dan menyeduh kopi.

Setelah perut penuh, kami mencoba memejamkan mata walaupun sepanjang pinggir tenda basah dan ada air yang menetes dari atas tenda. Aku dan bang Sugy langsung terlelap. Sekitar pukul 1 aku terbangun dan mendengar keributan di luar, berdasarkan cerita dari abang, katanya bang iwan di tenda sebelah menggigil dan Eka berteriak memanggil-manggil abang karena ketakutan, kemudian mereka jadi bahan ledekan bang Ambon hehehe. 



Ketika aku bangun, mas Tedy bergabung dengan bang Ambon, makin hebohlah mereka. Dan terdengar ada seorang wanita yang berteriak memanggil abang, ternyata Desti, temen abang di PMI. Kemudian aku tertidur lagi. Sekitar pukul 4 bang sugy bangun dan menyeduh susu, aku bergantian memakai sleeping bag dengan abang karena sleeping bag yang abang pakai dipakai untuk menghangatkan bang Iwan. Aku bangun menemani bang Sugy (sebenarnya merecokin soalnya laper hehehe). Waktu subuh, abang yang baru sejenak berbaring terpaksa harus diganggu untuk shalat berjama’ah.

Udara pagi yang menyenangkan di Gunung Merbabu, embun menetes segar menggelitik kerongkongan yang kering. Aku berkeliling menikmati pemandangan. Kemudian mengambil air bersama mas Tedy. Airnya subhanallah, dingin banget.

Agak siang kami akhirnya mulai memuncak, kecuali bang Ambon, beliau karena sudah terlalu sering muncak jadi tinggal di pos 2 sekaligus menjaga camp dan barang-barang kami. Terima kasih bang Ambon. Gatau kenapa di sini aku diem-dieman sama abang, bête. Tapi abang mendokumentasikan perjalanan kami melalui video.  Aku tidak terlalu hafal apa saja yang kami temui di jalur, yang jelas jalurnya mantap, berbatu dan menanjak, *iyalah* sekeliling kami adalah hutan tropis, indah sekali, hijau dan segar di mata.


Tidak lama kemudian setelah menemukan tugu, kami bertemu dengan seorang gadis asal Kediri yang mengajak kami berkenalan dan foto bersama, mba ini talkactive sekali. Ada satu hal lucu ketika kami melewati jembatan setan, aku dan mas Tedy sampai merangkak melewati jalan ini, jalannya sempit dan licin. God, Help Me! Akhirnya dibantu oleh bang Sugy akhirnya aku bisa melewati jalan ini. Sedangkan Eka dengan begitu lancarnya, jalan seperti dia jalan di jalur biasa, jelas aku diledek habis-habisan oleh abang ckck.

Di sebelah kiri itu jurang 

Entah di daerah mana, perutku seolah-olah menanggung beban berkilo-kilo yang akhirnya mendesak ingin dikeluarkan. Akhirnya keluarlah dengan penjagaan dari bang Majid di jalur bawah dan teman-teman yang lain di jalur atas, sembari istirahat dan menunggu bang Iwan dan Eka yang sibuk berfoto-foto ria sepanjang jalur pendakian. Menurut cerita Eka, dia disuruh bawa long dress untuk foto prewed di puncak bersama bang Iwan ahahahaha.

Akhirnya setelah entah berapa lama perjalanan kami sampai juga di puncak Kentengsanga, setelah mengambil foto, kami beristirahat di sekitar daerah makam ranger Merbabu yang meninggal bulan April 2013 yang lalu. Aku lihat bang Sugy sedikit terisak menahan harunya. Kami makan mie mentah di sini, persediaan air kami habis. Aku, Eka, dan bang Iwan tetap beristirahat di sana sementara abang dan yang lain meneruskan perjalanan ke puncak Trianggulasi yang hanya sekitar 5 menit dari kentengsanga.

Puncak Kentengsanga

Setelah puas menikmati pemandangan puncak, kami pun turun melewati jalur yang sama. Hehehe dalam perjalanan turun, yang lain turun duluan, hanya tersisa aku, abang, eka, dan bang iwan. Awalnya aku di depan kemudian disalip dan abang terus berjalan ke depan tanpa mengindahkanku yang ada di belakangnya, jalanan licin parah karena disertai gerimis, kami yang tidak memakai raincoat terpaksa memakai plastic sebagai pelindung kepala dari mas Adit. 

Aku kesal melihat tingkah si abang, dia juga samasekali tidak mengajakku ngobrol. Di tengah kekesalan itu aku terpeleset, aku makin kesal dan malu hahaha, jadi nangis sepanjang jalan sambil marah ke abang :p setiap berpapasan dengan pendaki yang baru naik pasti matanya tidak lepas melihat ke arahku. Pasti abang malu banget bawa aku. 

sampai di basecamp aku bercermin. Oh God! Mukakuuuuu, hidung merah dan mata bengkak, jelek sekali. Hehe tapi lucu tiap inget peristiwa itu. Katanya setelah kejadian itu, abang ga bakal ngajak aku naik gunung lagi kalau musim hujan, jahat banget ih. 

Kami sampai di basecamp menjelang Maghrib. Aku yang masih marah sama abang menghabiskan waktu 3 jam di masjid untuk tilawah menenangkan hati, meredam emosi yang entah dari mana datangnya padahal abang sama sekali ga salah. Ketika hendak kembali ke basecamp, ternyata sedaritadi abang menungguku di luar ditemani temannya Desti yang berasal dari Jawa Tengah. Kami pun kembali sambil berpayung bertiga, hatiku pun luluh. I love you abang :*

Ketika sampai di basecamp, ternyata bang sugy, bang iwan, dan eka sudah terlelap. Kemudian aku mengambil posisi di sebelah Eka.

Pulang dari Rumah Eka di Wonosobo bawa pulang salak masing-masing 1 karung

Esok harinya bang Iwan dan bang Majid bernostalgia tentang kenangan mereka di SMA. Kemudian ada pendaki cowo dari Bandung dengan pakaian seksi yang menyapa dan mengajak kami untuk bergotongan menyewa mobil dari basecamp sampai Magelang. Kami pun menuju perjalanan hati yang tidak akan terlupakan ^^

Continue reading Pendakian Cinta – Merbabu

Minggu, 25 Agustus 2013

Pendakian ke Gunung Sumbing

Make a trip along strangers and being the only girl maybe was my craziest thing i ever did. My sweetheart invited me to go on vacation with him. I came along, even though i just close with some of them. It was irritating when i am thinking how come I could go?

Our trip embarked on Wednesday, August 14th, 2013. But I went to Bandung on Sunday with my relatives. I stayed for two days at my boarding house. Everything settled rapidly and all i need to do just to follow my sweetheart's rules. He was worried i would be tired so i am asked to go earlier and stay at his home. I have no choice but agree it. :p

I spent about a week for vacation with them. Bang Noonk as the driver, bang Iwan as guide leader, Bang Dani, Bang Eky, bang Rey (rosani), and also my sweetheart. At first we fetched bang Roy (another my sweetheart's friend) at Bumi Ayu. He is the most handsome among the other. Then we were heading Desa Saradan, Pemalang, Central Java to attend bang Bakray's wedding. Bang Bakray is one of abang's friend who is in Virapala (Pinggir Rawa Pecinta Alam) too. Unfortunately, I, abang, and bang Noonk couldn't see their akad/ijab qabul cause i heard that the headman (penghulu) was in hurry. He started it without waiting for the whole family get together.

Bang Bakray's Wedding - Left to Right, Up to Bottom: (Bang Eky, Bang Rey, Bang Majid, Me, Bang Bakray, Bang Bakray's Wife, Bang Roy, Bang Noonk, idk, Bang Jabenk, Bang Iwan, Bang Dani)


Then our member increased. Bang Jabenk who has stayed at bang Bakray's house few days ago join us to go to Mount. Sumbing. We arrived at 7 sharp. We are greeted friendly by the people at the basecamp "Green Grass". They were so amusing. The most i love from climbers is their hospitality. We called the rangers of Mount Sumbing, Mas Kris. He is a half old man and how surprisingly, he can speaks Sundanese. Whole people got excited, me too :*

We started climbing at 9 pm but abang as the leader got astray, so we spent about an hour to get to first pos. Finally, We camp there. Cold, Stars in the sky are the right time to exchange the stories with a glass of tea or a cup a coffee. Romantic!

 The first pos

Later on, the boys is really hard to be awakened and we just started the adventure(?) at 9 am. We arrived at second pos about 4.5 hours and our waters was running out. Thanks to God near by Second pos (Petai China) there is beautiful savana and water saver. After refilled waters we camp again. There is flurry here. 

Bang Iwan and Bang Roy decided not to go to the Top. I was a bit dissapointed because i don't know when i could be in Sumbing again, and I prepared something to celebrate Whina's Birthday at the top. hiks. But if I continue the trip, we'll got there at night and we had to back to the basecamp in that night too. Finally we decided to rest for a little time and poop, eat, take pictures, blablabla...



At 7 pm we pursued to go down and we got confusion again. we got astray. Moreover, There are people who got hurt so it was impossible to go down at that night. We camp again in the second pos. There is funny story when we got astray, Bang Iwan with his confidence said to bang Jabeng "This is my opinion, i think you just have to throw out the edelweis!" said him sound convincing because the mystical was still convincing bang jabeng threw it out LOL and finally we saved by bang Jabeng's poop (i won't tell the detail) LOL.




The reason why we are imposing to go down at that night because we want to go to Dieng too. It will be too late if we go at noon but unfortunately times was still mocking us.

In the basecamp, we were queuing for taking a bath cause the water reached to the limit. Oh, yeaa.. my ankle be sprained here hiks..

At Basecamp "Si Petung" with Mas Agus and Mas Kris

Then we paid bang Roy and bang EKy's dream since in the mountain. They looked for mie ongklok. So we came to Alun-alun Wonosobo, ate mie ongklok, and also watched ceremony of HUT RI.

Mie Ongklok

After we're full, times for Dieng. We just came to Arjuna temple. It was funtastic but a bit scary. aaaaa when you get here, don't miss to try "PURWACENG"! a cup of coffee purwaceng can warm you up and make you"GRENG" and spiritful :p But I and abang Majid have no chance to try it :D In this place you can also buy souvenir such as Edelweis, purwaceng, Gruby (in west java it called keremes), Carica (buahnya para dewa dari dataran tinggi Dieng), etc.

Candi Arjuna

We are late came here, so we just came to that temple then pursued to Bumi Ayu, Bang Roy's home and back to Jakarta in the day after. Thanks for the trip. We are stranger but i got bunch of blissness. I love you all, i wish there will be next time. See You!


Continue reading Pendakian ke Gunung Sumbing

Sabtu, 13 Juli 2013

Pengalaman Belanja di Bukukita

Kemajuan dalam teknologi benar-benar memberikan kemudahan dalam kehidupan manusia. Setidaknya itu yang aku harapkan. Dan ini pertama kalinya aku menggunakan jasa online book shop. Awalnya tidak begitu tertarik dengan berbagai penawaran di media social, tapi setelah mempertimbangkan banyak hal, aku pikir tidak adanya ruginya menggunakan jasa online shop sebagai pilihan.

Palasari biasanya merupakan pilihan paling nyaman untuk berbelanja buku. Tapi mengingat transportasi yang njelimet, 3 kali naik turun angkot, ongkos yang naik seiring kenaikan harga BBM, belum ditambah hiruk pikuk jalanan kota Bandung, setelah itung-itungan, ongkir dengan ongkos yang biasa aku habiskan ke palasari tidak jauh beda, bedanya aku tidak perlu menghabiskan energy untuk datang ke tkp apabila menggunakan online shop, dan buku yang kita cari bisa dipastikan tersedia selama shop tersebut memberikan keterangan tersedia.

Tidak mau mengadu peruntungan, aku memutuskan untuk menggunakan jasa online book shop yang sudah secara pasti menjual buku Muhammad Lelaki Penggenggam Hujan. Buku ini sudah agak sulit dicari. Jadi menemukannya di online shop memberikan harapan yang besar untuk bisa segera mengoleksi buku tersebut.

Pengiriman yang dijanjikan oleh online book shop yang aku pakai jasanya hanya 4-5 hari, dan ditambah 1-2 hari apabila buku tersebut habis di gudangnya sehingga harus meminta langsung ke gudang penerbit. Tapi ternyata sampai menghabiskan waktu 2 minggu lebih. Jelas hal tersebut mengundang kekecewaan. Pasalnya buku tersebut dialamatkan ke kampus dan menjelang liburan. Aku harus menangguhkan liburan demi menanti kedatangan buku tersebut.

Kekecewaan sedikit terobati ketika paketnya datang, ya bagaimanapun kesabaran selalu berbuah manis, kan? Melihat buku yang dikemas rapi tanpa cacat, dan yang penting buku yang benar-benar sangat aku nantikan datang, kebahagiaannya tak terperi. Alhamdulillah. Sekarang koleksi Buku Muhammad karya Tosaro GK-ku lengkap. :)
Continue reading Pengalaman Belanja di Bukukita

Jumat, 12 Juli 2013

There’ll Always Be an Excuse for Hating This Place

Bulan ini pulang ke rumah dengan suasana hati yang resah. Masih ada ganjalan yang seharusnya menangguhkan kepulanganku. Tapi bagaimanapun akhirnya aku tetap pulang, menyingkirkan semua gundah, karena egoku yang memegang kendali.

Ada dua mata kuliah yang dititipkan kepada kami untuk diselesaikan di rumah. Statistika praktik dan Manlab Praktik. Entah harus bersikap seperti apa, senang atau marah? Keleluasaan yang diberikan jelas merupakan satu keuntungan yang patut disyukuri. Tapi ketidakpraktisannya menjadi perintang hati.

Hal lain yang benar-benar menguji kesabaran adalah tanggal 23 Juli nanti, masih tersisa ujian praktik AMAMI. Ujian satu mata kuliah yang tersisa. Jeda waktu 2 minggu. Benar-benar egois kan? Tidak jelas apa alasannya, yang aku tahu, mereka tidak menghargai orang yang tinggal di luar Bandung. Pulang ke rumah adalah moment yang paling dinantikan, langka, apalagi berharap libur panjang, angan tersebut sudah kami libas jauh-jauh hari. Setidaknya mempersingkat tempo ujian dengan melaksanakan pada waktu yang tepat atau sesuai jadwal yang ditentukan akan membuat kami setidaknya sangat berterimakasih.
Continue reading There’ll Always Be an Excuse for Hating This Place

Jumat, 28 Juni 2013

Tujuan Puasa

Berikut adalah kajian ilmu yang dilaksanakan di kampus Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Bandung oleh Ustadz Dadi.

Berbeda dengan shalat yang tata caranya dijelaskan secara lebih mendetail oleh hadits, teknis puasa langsung dijelaskan dalam Al Qur'an, yaitu dalam surah Al Baqarah ayat 183-188. Shaum atau puasa berarti menahan (keinginan) bercampur antara suami dan istri, makan dan minum dari mulai terbit fajar sampai terbenam matahari (Q.S.Al Baqarah:187).

Manusia dan hewan diberikan keinginan atau nafsu oleh Allah Swt. bedanya manusia memiliki keinginan khusus yang tercantum dalam surah Ali Imran ayat 14, yaitu:
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik."

Jadi keinginan yang diberikan secara khusus oleh Allah kepada manusia itu berupa keinginan memiliki pasangan, keturunan, harta benda, alat transportasi, pekerjaan atau bisnis atau jabatan, dan kesenangan hidup lainnya.
Nah, keinginan manusia ini sayangnya selalu dipengaruhi oleh syaithan. Maka untuk mencegah hal tersebut terjadi, Allah Swt. menciptakan sebuah sistem yaitu puasa.

Illah adalah sesuatu yang mendominasi hati dan pikiran. Pola tipu daya syaithan membuat manusia menjadikan nafsu atau keinginannya sebagai Tuhan, sebagai Illah.
Continue reading Tujuan Puasa

Kamis, 27 Juni 2013

Ujian Open Book

2013-06-27 10.31.25

Apa yang anda pikirkan setelah melihat foto ini?
Mungkin banyak yang bingung foto apa ini, apabila kita perhatikan sekilas memang tidak jelas, yang tampak hanya sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka dan kursi-kursi kosong di dalamnya.
Baiklah, akan saya deskripsikan terlebih dahulu tentang foto ini. Foto ini diambil 27 Juni 2013, tepat ketika suasana ujian akhir semester. Dan ruangan yang ada dalam foto ini adalah ruangan ujian. Loh, kemana para peserta ujiannya? Suasana ujian di ruangan ini tampak begitu santai, pengawas ujian yang duduk tenang sambil menelpon, dan para mahasiswa duduk di lantai sambil membuka laptop, memang jadwal ujian hari ini menggunakan sistem open book, tapi adakah ujian model seperti ini di tempat lain?
Continue reading Ujian Open Book

Jumat, 24 Mei 2013

Ketika Idealisme Dipertaruhkan

Kemewahan yang dimiliki seorang mahasiswa adalah Idealisme. Bukan kamar kosan yang berantakan oleh kertas-kertas kopian materi kuliah, bukan cucian kotor yang menanti seseorang dari petugas laundry mengulurkan tangan, bukan pakaian kusut yang menuntut segera disetrika, bukan piring dan gelas kotor yang dibiarkan menumpuk sebelum akhirnya dicuci kalau ada lalat mengerubunginya, atau bukan pula jas lab, sepatu, kaos kaki, dan tas yang tidak pernah dicuci.
Continue reading Ketika Idealisme Dipertaruhkan

Sebutir Nasi

Menjalani setengah kehidupan dengan bersemedi di kampus, membuat hari demi hari tidak jauh berbeda. Semangat yang menggebu untuk menuntut ilmu, biasanya terpatahkan oleh rasa lelah, metode mengajar dosen yang monoton, dan berujung dengan saraf mata yang memberi alarm bahwa aku sudah terlalu kejam dengan memforsir kerjanya seharian itu.

Matahari yang meninggi, perut yang baru diisi, kombinasi yang tepat untuk menciptakan rasa ngantuk.
Continue reading Sebutir Nasi

Senin, 20 Mei 2013

Nggak Sekadar Ngampus

Nggak Sekadar Ngampus

Judul Buku : Nggak Sekadar Ngampus
Penulis : Bambang Q. Anees
Penerbit : Dar! Mizan
Tebal Buku : 192 halaman

Lihatlah matahari! Ia memiliki cahaya yang begitu kuat sehingga selain menerangi dirinya, ia juga menerangi sekitarnya. Setiap manusia dapat menjadi cahaya bila mengaktifkan seluruh potensinya. Menjadi mahasiswa adalah saat untuk mengasah diri menjadi cahaya setahap demi setahap. Mulanya barangkali kamu adalah lilin, yang mencahayai orang lain sambil mengorbankan dirimu sendiri. Kemudian, kamu dapat menjadi bulan yang mencahayai orang lain setelah menyerap cahaya dari matahari. Secara perlahan, kamu akan menjadi matahari bila kamu sudah menghasilkan cahaya sendiri dan mau berbagi dengan orang lain. Menuju cahaya, itulah jawabannya bila ada yang bertanya tentang alasan kita kuliah.

Buku ini bukan cerpen ataupun sejenis novel, tapi merupakan suatu bentuk penuturan opini tentang keadaan dunia “kegelapan” mahasiswa dalam realita yang ada, kemudian disertai dengan pencahayaan alias tips agar kuliah tidak hanya sekadar ngampus. Bahasanya yang ringan membuat buku ini mudah dipahami, selain itu buku ini menyelipkan motivasi spiritual berdasarkan pandangan Islam dan juga para pakar di dunia. Dari awal kata pengantar penulis (yang saya sebutkan di awal), buku ini sudah menggugah hati, sangat menampar dan merupakan refleksi dari dilematis yang dialami mahasiswa zaman sekarang.

Buku ini menjelaskan kenapa kita harus kuliah, apabila perguruan tinggi yang kita masuki ternyata bukan merupakan persemaian yang baik untuk cita-cita kita, masih ada banyak hal yang bisa kita lakukan dengan mengandalkan kemampuan kita sebagai mahasiswa. Mahasiswa adalah orang yang mempunyai banyak waktu luang dan kesempatan untuk melakukan hal-hal yang besar. Manusia juga mengalami tahapan untuk berubah sesuai dengan pengetahuan yang didapatkannya menuju penyempurnaan yang tiada akhir, jadi, mungkin dapat kita simpulkan kita harus kuliah agar menjadi manusia.

Buku ini juga menjelaskan tentang persiapan yang harus kita lakukan dalam menuju proses perjalanan yang panjang. Persiapan itu di antaranya adalah peta, kompas, tekad, dan keterampilan dalam melakukan perjalanan. Peta maksudnya adalah tahapan yang akan kita lalui dari titik berangkat sampai titik akhir. Kompas adalah prinsip. Tekad adalah penyempurna dari peta dan kompas. Dan terakhir, keterampilan adalah cara kita melakukan perjalanan.

Selain itu dijelaskan mengenai sabda Rasulullah kepada Abu Dzar Al Ghiffari mengenai persiapan sebelum berpetualang, di antaranya adalah memperbaharui perahu yaitu diri dan kepribadian kita. Menyiapkan banyak bekal yaitu pengetahuan. Mengurangi beban yaitu keinginan yang berlebihan, rasa sombong dan rendah diri.

Buku ini mengupas hal-hal yang mendetail mengenai kehidupan mahasiswa, dari mulai kebiasaan, sikap, virus kebebasan, tips agar kita mengenali maksud perjalanan kita, impian-impian mahasiswa, mengukur kemampuan kita dalam melakukan perjalanan, pentingnya kesehatan tubuh, menjadi raja di kamar sendiri, artinya kita harus bisa menentukan hal privasi dan public, bagaimana menghadapi dosen yang tidak maksimal dalam mengajar, pentingnya teman sebagai pendorong kesuksesan kita, komitmen dan masih banyak lagi.

Tidak ada kekurangan yang signifikan dari buku ini, yang paling dominant adalah judul bukunya terkesan gaul, mungkin hal tersebut dimaksudkan sebagai nilai komersil supaya buku ini tidak terkesan kaku seperti buku motivasi pada umumnya. Buku ini sangat cocok bagi mahasiswa maupun dosen dan orang tua untuk memahami bagaimana karakter dari seorang mahasiswa sehingga bisa ditransformasi menjadi sebuah dukungan dalam meraih kesuksesannya.
Continue reading Nggak Sekadar Ngampus