Kamis, 21 Maret 2019

Melahirkan Anak Kedua

Alhamdulillah, telah lahir anak kedua kami, berjenis kelamin laki-laki, pada 17 Maret 2019 pukul 12.55 dengan berat 3.1 kg, tinggi 49 cm di Rumah Sakit Pelni dibantu oleh dr. Ryan Hari, Sp.OG., berikut cerita persalinannya:

12 Maret 2019

Ini jadwal kontrol terakhir dengan dr. Atut, kami sudah menentukan rencana persalinan dengan cara c-section pada 22 Maret 2019.

17 Maret 2019
Pukul 05.40 perutku mulai kontraksi, langsung aku pantau menggunakan aplikasi. Dengan keyakinan akan bersalin hari ini, aku langsung mempack barang-barang yang belum masuk ke tas persalinan. Setelah semua beres, dengan sisa tenaga aku membangunkan suami yang kembali beristirahat di hari liburnya. Beliau masih belum yakin dan menyangka aku mengalami kontraksi palsu. Setelah aku perlihatkan hasil observasi kontraksi melalui aplikasi, baru beliau percaya dan langsung bersiap.

Sebelum berangkat, dibantu oleh suami membersihkan pubis terlebih dahulu karena pasti akan kurang nyaman jika dilakukan oleh orang lain. Berseling dengan rasa mulas yang sangat, aku masih menyempatkan diri untuk mandi dan sarapan.

Sampai di rumah sakit, kami langsung dibawa ke IGD materna, karena datang bersamaan dengan ibu hamil yang juga akan melahirkan, beliau mendapat perlakuan cito karena air ketubannya sudah pecah.

Jam 09.25 tekanan darahku dicek. Kemudian dicek pembukaan dan ternyata walaupun kontraksi sudah teratur masih pembukaan 1, dicek tinggi fundus, dan CTG.

Sambil menunggu suami mengurus administrasi, aku dibiarkan istirahat di bed igd, dicek BT CT, dipasang infus dll.

Baru sekitar jam 11.40 aku dipindahkan ke ruang persiapan operasi. Walaupun tidak bergerak aktif, tapi kontraksi rasanya Ma Syaa Allah semakin cepat dan sering. Aku yang tadinya calm, sampai meraung-raung di ruangan sendirian.

Jam 12.30 aku baru mendapat tindakan. Berhubung ini anak kedua, akan aku gambarkan perbedaan suasana di ruangan operasi antara melahirkan anak pertama dengan anak kedua. Dr. Atut adalah dokter yang membantu persalinan pertamaku, dan dr. Ryan adalah dokter yang membantu persalinan anak ke-dua.

Pemberian Anestesi:

Pemberian anestesi dilakukan secara epidural. Yang membedakan persalinan pertama dengan kedua adalah posisi pemberiannya. Persalinan pertama diberikan dengan cara rebahan, yakni posisi miring ke kiri, sedangkan persalinan kedua diberikan dengan cara duduk menelungkup memeluk guling, perawat memegangi pasien.

Dokter anestesi persalinan ke-2 ku adalah dr. Joshua.

Pembukaan:

dr. Atut membuka operasi dengan memperkenalkan teamnya satu persatu, baru kemudian memimpin do'a.

dr. Ryan membuka operasi dengan menyapa pasien dan memimpin do'a.

Ketika operasi:

dr. Atut menyetel musik dan beliau bersama team mengobrol santai sepanjang operasi, suasana terasa santai. Tapi berhubung anak pertama, maka aku tetap merasa tegang.

dr. Ryan melaksanakan operasi dengan fokus, tidak ada suara musik, hanya ada percakapan singkat seperlunya. Tapi aku lebih rileks karena pernah berhadapan dengan meja operasi sebelumnya. Dan kegiatan selama operasi terpantul melalui lampu sorot operasi, aku memerhatikan step by step dari sana meskipun tidak secara jelas.

Inisiasi Menyusu Dini:

dr. Atut memperlihatkan bayi segera setelah dikeluarkan dan dibantu oleh perawat langsung menempelkan bayi ke dada untuk IMD tanpa dibersihkan terlebih dahulu (tapi berhubung masih diselimuti ketuban, Habibi lahir bersih tidak berdarah).

dr. Ryan mengucapkan selamat dan bercakap-cakap sebentar denganku setelah bayi dikeluarkan. Sementara bayi langsung dipegang oleh perawat untuk dibersihkan (masih di area ruang operasi), baru diperlihatkan dan dilakukan IMD setelah bayi memakai pakaian.



Penutupan:

dr. Atut menutup operasi dengan melakukan birth announcement, artinya, beliau mengumumkan bahwa telah lahir bayi berjenis kelamin laki-laki pada tanggal sekian dan jam sekian.

dr. Ryan tidak melakukan birth announcement.

Dibandingkan persalinan pertama, persalinan kedua ini prosesnya lebih cepat karena mungkin pasien tidak terlalu ramai. Setelah operasi selesai, aku langsung diboyong ke kamar tanpa harus menunggu terlalu lama di ruang observasi setelah operasi. Tidak ada drama sesak nafas, atau menggigil.

Alhamdulillah, semoga menjadi anak yang sholeh, berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat bagi bangsa dan agama.

1 komentar:

  1. […] Seperti yang telah diceritakan di postingan sebelumnya, baby Zain dan mamak baru bisa rooming in di hari ke-dua pasca […]

    BalasHapus