Sabtu, 23 Maret 2019

72 Jam Awal Kehidupanku

Assalamu'alaikum, perkenalkan, namaku Zain Abdullah Ibrahim. Aku putera kedua dari Ayah Abdul Majid dan Ibu Riska Yuniarti Iskandar. Aku lahir dengan berat 3,170 gram dan panjang 49 cm. Aku lahir di Rumah Sakit Pelni dengan persalinan c-section dibantu oleh dr. Riyan Hari, SP. OG.

Di pertemuan pertamaku dengan Ibu, beliau mencium pipiku berulang-ulang kali sambil menitikkan air mata. Beliau yang masih terbaring di meja operasi tampak begitu terharu ketika berkata, "Alhamdulillah, I Love You".

Pertemuan singkat kami, diinterupsi dengan kegiatan inisiasi menyusu dini, perawat menempelkan mulutku ke dada ibu. Walaupun ibu tidak memelukku karena masih dalam proses finishing pasca melahirkan, tapi aku bisa merasakan hangatnya dada ibu.



Kemudian aku digendong untuk bertemu ayah. Di depan pintu ruang bedah ICU/NICU kami bertemu, dan suara beliau adalah suara laki-laki pertama yang kudengar mengumandangkan adzan dan iqomat di telingaku. Semoga kelak aku bisa memenuhi harapan ayah dan ibu menjadi anak yang sholeh dan berbakti. Aamiin.



Setelah bertemu ayah dan ibu, aku dibawa ke ruangan khusus bayi, di sana banyak sekali teman-temanku yang juga baru lahir. Sampai 12 jam ke depan, aku masih belum bisa bertemu ayah dan ibu lagi.

Ketika aku bertemu dengan Ibu esok harinya, ayah tidak ada di tempat, beliau sedang pulang ke rumah. Jadi aku hanya berdua dengan ibu. Aku belajar menyusu langsung dari Ibu. Ternyata susah, ya ! Nipple ibu oversize, aku harus membuka mulutku dengan sangat lebar. Air susu ibu masih belum keluar, kulihat ibu sangat berusaha memperjuangkan hakku mendapatkan asi. Beliau bahkan dalam keadaan yang masih sakit, memompa demi merangsang keluarnya asi. Aku pun ikut berjuang. Tapi sayangnya, mataku selalu berat, disaat ibu akan LDR, aku tertidur, kasihan ibu.

Di hari ketiga, disaat aku sudah lumayan jago menyusu, pagi-pagi sekali, bidan Septi memaksa mengambilku untuk memandikanku, padahal aku masih menyusu. Dan kami berpisah lagi.

Baru setelah siang hari, ibu dan ayah menjemputku di ruang perawatan bayi. Perawat mengganti pakaianku dengan pakaian yang dibawa ibu, kakiku dicap, dan aku diberi vaksin polio secara oral. Aku lihat perawat memberikan banyak instruksi kepada ayah dan ibu. Tapi itu bukan urusanku.

Setelah melalui proses yang panjang, sebelum pulang kami diharuskan foto bersama, ayah, ibu, aku, dan skl ku. Kemudian perawat mengantar kami sampai menaiki mobil jemputan.

Kami menuju rumah mbah kakung, wah aku deg-degan sekali bertemu dengan saudara-saudaraku. Mereka semua bersukacita menyambutku, dan mereka berebut ingin menggendongku, aku bahagia sekali. Sayangnya kebersamaan itu singkat saja, aku langsung diboyong ke rumah opa dan oma di Majalengka. Setelah 6 jam perjalanan melalui jalan darat dengan kemacetan luar biasa, akhirnya kami sampai tengah malam.

Rumah oma, rumahnya ibu dibesarkan. Semoga aku betah ya, tinggal di sini. Oh iya, asi ibu sekarang sudah keluar, setelah dipijit, sekarang aku bisa mimik sepuas hatiku yeayyyyy senangnya!!!

1 komentar:

  1. […] diri, belajar menyusu, Zain agak kesulitan karena nipple mamak oversize. Baca pengalaman 72 jam pertama kehidupanku […]

    BalasHapus