Selasa, 15 September 2020

Bahagia Tanpa Gadget

"Kerjain tugas dulu, main hp mulu, gregetan banget gua mah."

Itu adalah sekilas cuplikan dari keseharian yang sering terjadi di rumah. Tinggal bersama saudara suami yang lain, memang memiliki banyak kelebihan maupun kekurangan. 

Saya tidak akan mengkritisi tentang pola asuh yang dipilih orang lain, karena saya percaya masing-masing orang tua punya pertimbangan sendiri tentang pola asuh yang terbaik bagi anaknya. 

Kita tidak bisa memaksakan orang lain mengikuti idealisme kita. Kecuali suami, karena kami membangun rumah tangga bersama, maka ada banyak hal yang harus diselaraskan, terutama tentang visi misi keluarga dan juga tentang pola asuh anak.

Bagi saya, berat rasanya memberikan anak gadget. Saya tidak akan mengupas tentang dampak negatif atau risiko tentang penggunaan gadget kepada anak balita. 

Tapi ini yang masih menjadi PR bagi saya dan suami. Menurut suami tidak masalah memberikan anak tontonan selama kontennya positif. 

Bagi saya, tidak masalah memberikan anak tontonan konten positif selama waktunya dibatasi. Dan hanya televisi atau laptop, bukan handphone. 

Hal ini, masih belum mendapat titik temu. Akibatnya, anaklah yang menjadi korban. Sekarang anak bungsuku terlihat mengarah kepada gadget addict. Dia jadi lebih mudah tantrum ketika saya menghentikan aktivitasnya menonton. 

Wajar, karena anak-anak bingung, "kenapa Ayah mengizinkan aku, tapi Ibu melarang aku?"

Poin utamanya sebenarnya terletak pada kami sebagai orang tuanya. Saya sebagai Ibu juga merupakan seorang yang gadget addict, yang mungkin secara tidak sadar memberikan contoh negatif kepada anak-anak. 

"Kenapa Ibu boleh main hp, sedangkan aku tidak?"

Sedih rasanya melihat anak menjadi acuh tak acuh ketika terpapar layar. Mereka seolah kehilangan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, dipanggil diam saja, hanya terus fokus menonton. 

Belum lagi ketika menonton, tubuh mereka menjadi kurang aktif, karena hanya duduk diam. Saya lebih suka anak-anak yang aktif, tidak masalah jika mereka berlarian kesana kemari, mengacak acak rumah, walaupun risikonya mungkin akan ada banyak baret di tubuh anak-anak karena terjatuh, atau akan butuh lebih banyak energi untuk membereskan rumah. 

Tidak masalah, karena ada hal lain yang membuat seorang Ibu merasa puas dan lelahnya hilang, yaitu senyum manis anak-anaknya ketika bahagia bermain.




"Wahai diri, tetap semangat, ini bukan idealisme yang buruk, mempertimbangkan efek jangka panjang gadget terhadap tumbuh kembang anak-anak, kamu tidak boleh lelah mengingatkan suami dan orang-orang sekitar agar tidak mudah memberikan gadget pada anak-anakmu. Biarkan mereka tumbuh dengan fitrahnya, bahagia bermain tanpa pengaruh gadget. Ya Allah ya Hafidz, Engkaulah sebaik-baik penjaga, aku titipkan mereka pada penjagaanMu."



اِنىِّ أَعِيْذُكَ بِكَلِمَاةِ اللهِ التّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّةٍ
.  (رواه البخارى)

Sesungguhnya aku memperlindungkan kepada-Mu (anak ini) dengan kalimat-kalimat Allah yang Sempurna, dari segala gangguan syetan dan gangguan binatang, serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang dilihatnya 💞"



#harike13

#tantangan15hari

#zona1komprod

#pantaibentangpetualang

#institutibuprofesional

#petualangbahagia




0 komentar:

Posting Komentar