Kamis, 24 September 2020

Pantulan Warna Pelangi

Pantulan warna layaknya cerminan diri, sudah sampai di titik mana kita saat ini? 

Berkomunikasi adalah hal yang kita lakukan setiap hari. Tapi ternyata hal sesederhana bicara pun ada ilmunya. 

Komunikasi produktif adalah ilmu pertama yang kami pelajari di kelas Bunda Sayang, sekaligus materi yang paling saya tunggu. Karena kita membutuhkan komunikasi sebagai dasar kehidupan. 

Setelah melewati tantangan 15 hari kemarin, saya merasakan, bahwa dengan mendengarkan, maka suami akan bercerita. Tentang harinya, tentang kantornya, tentang teman kerjanya, hal-hal kecil yang ingin saya dengar tentangnya tanpa paksaan. 

Selama ini sepertinya saya terlalu mendominasi komunikasi kami sebagai pasangan dengan cerita "bagaimana hariku", berharap suami juga turut menceritakan harinya.

How was your day? Itu adalah kalimat yang selalu ingin saya dengar setiap sebelum kami beranjak tidur. Tapi menariknya kami jarang sekali melakukan pillow talk, berbicara dari hati ke hati. 

Oleh karena itu saya selalu bermurah hati menceritakan apapun tanpa diminta, jika tak bisa berbicara langsung, saya pun sering melakukan monolog dengan menchat suami walau seringnya tanpa balasan. Saya benar-benar suka bercerita tapi sangat tertutup kepada siapa pun kecuali suami.



Dari ilmu komunikasi produktif saya belajar, setiap komunikasi ada "timingnya", perlu melihat bagaimana keadaan hati suami, bagaimana keadaan fisiknya, kebutuhan apa yang saat itu beliau perlukan, dan pentingnya mengenali bahasa cintanya demi kelancaran berkomunikasi. 

Komunikasi produktif juga mengajarkan saya tentang betapa menantangnya berkomunikasi dengan anak-anak. Mereka yang selama ini belum bisa menyampaikan pikiran ataupun perasaannya. Ada satu kalimat yang begitu membekas bagi saya, 

"Mereka mungkin tidak memahami perkataan kita, tapi mereka tidak pernah salah mengcopy."

Hal tersebut benar-benar terefleksikan sempurna dalam diri anak sulung saya. Apa yang sering saya katakan padanya, dia contoh ketika berkomunikasi dengan adiknya. 

Hal tersebut membuat saya semakin berhati-hati, terutama dalam pemilihan diksi. Poin-poin yang disampaikan dalam mencapai komunikasi produktif benar-benar melatih berkomunikasi dengan makhluk kecil yang super unik ini. 

Betapa saya harus merendahkan diri demi setara dengan mereka dalam berkomunikasi, menatap matanya, menyampaikan pesan yang mudah dipahami secara ringkas dan padat. 

Bagaimana tentang menjaga intonasi ketika tanduk dan taring bermunculan ketika melihat tingkah mereka yang kreatif. Terutama kepada anak bungsu saya yang masih berusia 18 bulan. 

Setiap saya bicara, dia selalu menatap lama wajah saya, seolah sedang menerka emosi yang sedang saya rasakan. Jika wajah saya tak ramah, dia akan memanggil saya dengan nada khasnya "Ayaaah…" (Karena dia belum bisa memanggil Ibu, jadi semua orang yang ditemuinya dipanggil Ayah).

Atau kadang memukul wajah saya dan berteriak "eeeh…" ketika saya berakting marah sambil memelototkan mata. 

Tapi jika dia merasa wajah saya sumringah, maka dia langsung menyampaikan keinginannya, misal minta main ke luar atau minta dibacakan buku. Dia yang bisa ratusan kali bertanya, "apa ini?" Terkadang sangat menguji kesabaran. 

Tapi saya sadar otaknya sedang berkembang, dan keingintahuannya adalah sebuah proses dari perkembangan tersebut terutama dalam merekam kosakata dan proses latihannya berbicara. 

Sebagai orang tua terkadang saya terlalu banyak menuntut anak harus begini atau begitu, misal ketika anak-anak masih asyik bermain padahal sudah masuk jam tidur, di sini lah saya belajar, betapa siapapun baik anak-anak maupun orang dewasa sangat tidak suka diperintah, solusinya kita bisa menggantinya dengan pilihan. Atau bagaimana menggali emosi anak dengan pernyataan observasi bukan interogasi. 

Tapi dari semua itu hal yang paling menantang bagi saya adalah berkomunikasi dengan diri sendiri. Bagaimana cara untuk memaintenance pikiran agar selalu positif. Selama ini saya selalu percaya dengan law of attraction, ketika mood saya baik, hal-hal yang baik akan datang, begitupun sebaliknya. Ternyata kata-kata itu lah yang memberikan energi pada diri kita. 

Tantangan 15 hari ini memang sudah berlalu tapi pada praktiknya, kita akan selalu melakukannya sepanjang hidup kita. 

Memang tidak mudah untuk berubah tapi dengan kebiasaan yang terbentuk dari proses pembelajaran kita itulah yang akan membentuk pribadi kita. 

Semoga apa yang kita laksanakan tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri tapi juga untuk pasangan, anak, dan orang-orang di sekitar kita. Semoga pesan kita lebih mudah disampaikan dengan ada komunikasi yang produktif, dan semoga kita bisa merespon kebutuhan pasangan maupun anak dengan bijak dan tanpa ngegas! 


0 komentar:

Posting Komentar