Rabu, 26 November 2014

Jumat, 21 November 2014

Speak less, Write more

Terjaga di sepertiga malam. Menscroll handphone yang ditinggal terlalu dini malam tadi. Ada 55 pesan wa. Mereka yang membahas tentang cara pengenceran LED 1:4, diff count, cara menghitung Hb, dan bahkan sampai harga untuk reagen Fe. 

Tiba-tiba seperti ada benda keras yang menghantam dada. Oksigen yang masuk ke rongga pernafasan terasa seperti memerlukan waktu yang lebih lama dari biasanya. Dan ada jeda di setiap hembusan nafas seolah mencoba menikmati oksigen yang sedari tadi diperebutkan oleh jutaan manusia pun tumbuhan. Apakah ketika dini hari tumbuhan masih menghirup oksigen? Oh ayolah... mengalihkan perhatian tidak membuatmu terasa lebih baik.

Selain wa, ada juga 1 pesan di bbm. Dia berkata, "Maaf, semalam aku ketiduran."
Tidak masalah mengingat aku tertidur dengan pulas karena mata yang lelah menghadapi monitor laptop seharian. Manga Bleach chapter 500 sekian mengalihkan duniaku belakangan ini. 

Ketika menengok home, ada yang berkata kalau tumblrnya dihack.
Seperti tergelitik, tangan langsung membuka akun tumblr dan di dashboard aku menemukan seseorang yang sangat dekat bahkan seperti saudara walaupun kami tidak terlalu sering chit-chat memposting "Letter for scholarship". Terharu dengan cita-cita dan passionnya yang kuat untuk menjadi future leadership bagi Indonesia. Semoga Allah memudahkan dan menuntun jalanmu menuju mimpi-mimpimu, sahabatku! Aku bangga--sekaligus iri--. Mendesah. Sekali lagi, mengalihkan perhatian tidak membuat segalanya terasa lebih baik. Apakah diam lebih baik?

Ketika menscroll lebih jauh, ada seseorang nun jauh di sana, seseorang yang aku ketahui telah menjadi sahabat dari seseorang yang aku kenal. Dia berterimakasih karena temanku begitu perhatian padanya, dan akan mengajaknya jalan-jalan pekan ini.

Rumput tetangga selalu lebih hijau. Sebenarnya bukan perasaan iri yang menggerogoti ketenanganku di pagi yang damai ini, melainkan sebuah kesadaran, apa yang akan aku lakukan untuk membuat hidupku lebih produktif, di saat semua orang menggeluti passion mereka, perlahan menjejaki tangga yang lebih tinggi menjadi semakin dekat dengan mimpi mereka, di sini aku hanya bingung dan berpikir, "apa yang harus aku lakukan?"

Ketika menscroll tumblr tadi ada seseorang yang memposting image quote.
"Browse less and read more, think less and try more"
Aku tidak terlalu mengerti dengan quote tersebut. Dengan hal apa aku harus memulai "act"-ku? Aku tidak mau terlena oleh zona nyaman. Tapi apa yang harus aku lakukan, sekarang, detik ini? Teringat caption foto seorang sahabat, "Jika detik yang akan datang adalah masa depan, jangan sia-siakan waktu, semangat untuk mengejar mimpi-mimpimu!" (Kurang lebih demikian).

Aku tidak terlalu fasih dalam mengungkap kegundahan hati dalam bentuk lisan, tapi setidaknya aku merasa lebih baik setelah menulis tulisan tak jelas ini. Walaupun tidak mendapat jawaban, dan aku menulis bukan bermaksud untuk mengabadikannya, tapi dengan cara seperti ini terkadang membuatku merasa lebih baik seolah semua kegelisahan yang memenuhi otakku tersedot ke dalam tulisan ini.
Thank you my blog, you are my another string to my bow.
Continue reading Speak less, Write more

Senin, 17 November 2014

Hidup itu Materi

Telinganya seperti terasa terbakar ketika mendengar kata materi. Dari kecil dia dibesarkan dengan penuh cinta dari orang-orang di sekelilingnya. Namun dunia berubah menjadi kejam ketika dia beranjak dewasa, semua orang berpegang pada pundaknya.

Life changed. Seperti tersentak dia kembali berpijak. Earth is not cruel, but people are. Dia tiba-tiba tersenyum ketika melihat handphone jadul di tangannya. Getir. N**ia 18o0c hp pertama ayahnya yang penuh kenangan. Sekilas terlintas kembali beberapa peristiwa yang dia alami baru-baru ini.

Department store yang selama beberapa tahun tak pernah dijamahnya terlihat begitu asing. Dia terlihat sesak tapi tetap angkuh. Di tempat itulah dia hendak mereparasi handphonenya. Dan alih-alih normal seperti sediakala, dia malah mendapat cacian dan pandangan rendah. Orang macam apa yang mau mereparasi hp yang biaya reparasinya setengah dari harga beli handphone tersebut saat itu? Dia kembali tersenyum. People never respect memory.

Dia terus menerawang, menikmati rasa sakitnya. She hates when her mind become wilder. Tapi tak bisa ditolak, pikirannya memutar rekaman memori jauh sebelum insiden reparasi hp itu terjadi.

Dia menghadiri annual meeting keluarganya di Depok. Pada kesempatan itu, didatangkanlah seorang ustadz kondang yang terkenal karena manisnya lesung pipitnya. Setelah tausyiah dan rangkaian acara selesai, tibalah sesi foto-foto. Semua orang begitu excited. Mereka berbaris rapi di samping kanan dan kiri ustadz tersebut. Tuan rumah menyediakan kamera slr, dan entah manajer atau siapanya (kaki tangan ustadz tersebut) menawarkan untuk mengambil foto. 

Dia yang juga terlena oleh suasana tersebut meminta tolong kepada orang yang sama untuk mengambil foto menggunakan hp lil'g yang sekarang sudah tidak diproduksi. Hp yang selama tiga tahun terakhir begitu setia menemaninya dalam suka ataupun duka, bahkan ketika poop. Namun orang itu menggeleng dan menolak secara halus sambil tertawa.

Hp yang canggih pada zamannya kini sudah tidak dilirik. Teknologi begitu dinamis, apakah manusia juga harus menjadi budak teknologi? Ketika hp jadul bisa digunakan semaksimal mungkin, bisa dibilang bisa mengikuti teknologi walaupun tertatih-tatih atau bahkan hp jadul yang sudah tidak setara untuk disandingkan dengan jenis hp canggih baru, apakah mereka harus disingkirkan?

People respects richmen.
Continue reading Hidup itu Materi

Selasa, 04 November 2014

Aku, Kau, dan Gede

Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk naik gunung lagi. Rasanya seperti burung yang lepas dari sangkar emas kali ya hehe… Seneeeeeengg!!! Tapi pendakian kali ini sedikit berbeda, karena menggunungnya harapan akan cerita bahagia sepasang karib. Gunung Gede mungkin jadi tempat yang bersejarah untuk Bang Anyuk dan Kak Uki, pasalnya di tempat inilah kuncup-kuncup cinta mereka merekah dengan indah. Lucky you, kak! ^^ ♥

Menurutku keputusan untuk mengajak wanita mendaki gunung adalah sebuah keputusan yang sangat berani.
Ketika punggungmu sakit, ada dia yang merelakan punggungnya untuk menanggung bebanmu,

ketika semua orang melangkah cepat di depanmu dan meninggalkanmu, ada dia yang menjejeri langkahmu,

ketika nafasmu mulai terasa sulit, ada dia yang menemanimu istirahat menstabilkan nafas,

ketika kerongkonganmu terasa kering, ada dia yang menyodorkan air untuk menghapus dahagamu,

ketika kamu merasa ragu dan takut untuk melangkah, ada dia yang mengulurkan tangan, meyakinkan dan memberimu rasa aman untuk melangkah,

ketika kamu mulai mengeluh, dalam lelah dia tetap tersenyum dan menyemangatimu,

ketika kamu lengah, ekor mata dan kesigapannya tak pernah lengah menjagamu,

ketika yang lain terlelap dalam kehangatan, dia rela menerobos dingin hanya untuk mengantar dan menungguimu buang air,

ketika kamu kedinginan, ada tangannya yang menggenggam jemarimu dan memberikan jaketnya untuk menghangatkanmu,

Selalu ada dia yang berusaha keras untuk menjaga dan membahagiakanmu.

 

Ketika mendaki gunung, karakter dari masing-masing kepala seolah begitu transparan, dari sanalah keterikatan hati mudah terjalin. Hahaha… jadi mellow gini. Abang, I love you!

Matahari pagi Surya Kencana

Well, menurut banyak orang, Gunung Gede adalah tempat yang sangat memukau, tapi bagiku, Gunung Ciremai tetap menempati deretan teratas karena di sanalah langkah awal perjalananku sebagai penikmat (atau Pencinta?) alam dimulai dan chemistry antara aku & abang mulai terjalin :p


Perjalanan ke Gede, jika boleh aku ingin mengulangnya. :(

Jam 6.30 a.m. aku berangkat dari Majalengka dan sampai sekitar pukul 2 p.m. di Jakarta, kemudian sebelum packing ulang kami menghabiskan waktu di tempat bang Sugy. Dengan berjalan kaki, jam 10 p.m. lewat sekian menit kami menjadi orang paling terakhir yang datang ke PMI Jakbar. Aku bertemu wajah-wajah baru. Tanpa memperkenalkanku, abang langsung tenggelam dalam euphoria sahabat-sahabat karib. Aku sendirian. Abang Jahat!!! :( *Cuma bang Anyuk dan kak Leha yang menjabat tanganku*

Dengan menggunakan mobil tronton yang disediakan oleh panitia, perjalanan menuju Gede pun dimulai. Belum sempat istirahat dari pagi, rasa kantuk pun menyerang, tapi karena ga bisa tidur kepala pun sedikit pusing, tapi hal tersebut tidak mengurangi sukacitaku, orang-orang baru di sekelilingku begitu talkactive dan menyenangkan. Ada saja tingkah mereka yang membuatku ngakak dalam hati.

Bogor di depan mata, Jakarta pun perlahan tertinggal di belakang. Aku ga suka medan licin, aku gamau menyusahkan abang, maka sepanjang perjalanan yang kadang diselingi oleh gerimis dan hujan lebat, aku mengetuk pintu langit, mengudarakan do’aku supaya perjalanan kami lancar dan hari cerah.

Sekitar pukul 2 a.m. kami tiba di daerah pemukiman warga (entah apa namanya) jalur Gunung Putri. Kesan pertama? Dingiiiiiiiiiin… sedikit gerimis. Kak Kiki memberiku permen, dan aku sedikit berbincang dengan orang-orang yang ada di dekatku saat itu, mereka ramah, itu menjadi perintang hati yang sedikit menenangkan perasaanku.

Pendakian dimulai pukul 4 a.m. tepat setelah adzan shubuh berkumandang, dimulai dengan do’a, kami telah menyiapkan hati kami untuk menyapa salah satu keagungan-Nya.

Gunung Gede termasuk yang agak ribet perizinannya (tapi karena panitia yang ngurus, aku gatau gimana ribetnya hehehe) dan termasuk gunung favorit para pendaki. Ketika sampai di GPO kami dicek, harus memakai sepatu, tidak boleh membawa barang-barang yang mengandung bahan kimia seperti shampoo, pasta gigi, sabun, dan entah apa lagi.

Entah bagaimana awalnya, mungkin pengaruh hormon juga (hari itu aku sedang menstruasi hari ke-2), emosi menguasai diriku, aku ga terlalu suka jika abang terlalu memperhatikan wanita lain. Aku memang tipikal pencemburu hahaha but love is nothing without jealousy, isn’t it? :p

Perasaan negatif itulah yang membunuh konsep-konsep yang sudah dipersiapkan sebagai hadiah untuk pasangan yang sedang berbahagia, dan juga kenikmatan yang seharusnya menemani perjalanan kami. Aku dan abang ditemani kebisuan, awan hitam yang biasanya setia menemani langit kota hujan itu seakan berpindah ke pelupuk mataku, berat sekali rasanya.


Setelah melewati pos pertama kami terpisah dari rombongan, mendamaikan hati yang bahkan tak berselisih. Dan berdamai setelah semua akar masalah diutarakan.

Dalam hidup ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah, tapi dasar dari semua itu adalah keterbukaan dan keberanian untuk mengeluarkan “kata”. Dan jangan pernah mencoba berbohong dengan mengatakan jika kamu baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak!

Entah siapa yang berpendapat, hati menjadi lapang ketika melihat hal yang lapang. Ketika sampai di suryakencana, mata, hati, pikiran, rasanya semua inderaku dimanjakan oleh keindahan ciptaan-Nya. Kebahagiaan itu terasa lengkap, karena dia di sisiku. Semua perasaan negatif  yang sebelumnya muncul, sirna sudah. Kami pun terus menyusuri padang edelweiss menuju sumber mata air mencari mas Daus dan bang supri yang telah lebih dulu sampai. Setelah bertemu, sambil menunggu rombongan, kami menggelar tenda dan mengisi perut. Tapi kami tak menemukan satu orang pun dari rombongan sampai penutupan hari.

Berjalan beriringan menyusuri padang Edelweiss


Ada dua hal yang abang ingkari, pertama ketika aku mengajak foto di padang edelweiss, abang menawarkan untuk berfoto dengan edelweiss yang dihiasi cantiknya embun pagi, tapi kami tak pernah melakukan itu. Kedua, aku mengajak keluar untuk melihat sunset, abang menawarkan untuk melihat sunrise tapi esoknya, abang kedinginan dan gamau bangun :(

Surya Kencana ketika masih sepi

Setelah bercengkrama menikmati dinginnya pagi sambil menyeruput susu, makan mie dan roti bakar, kami berbagi tugas, bang supri dan mas daus mengambil air, abang bikin kopi, beresin tenda, sedangkan aku mencari anggota rombongan yang lain. Tapi sayang aku tidak menemukan mereka.

Canda Tawa menghangatkan suasana pagi

Akhirnya kami pun muncak dan di tengah perjalanan menuju puncak, kami bertemu dengan rombongan. Waaaah, haru biru mewarnai pertemuan kami hehehehe bang Jajang bercerita tentang bagaimana khawatirnya beliau karena berkali-kali mencari kami tapi tak jua bertemu. Kami pun merasakan hal yang sama ditambah perasaan bersalah karena membuat yang lain khawatir. Tapi setelah itu kami berpisah lagi. Zzzzz…

Aku belum pernah bertemu orang banyak di puncak gunung lain, selain di Gede dan Tangkuban Parahu. (jelas lah orang jarang naik gunung hahaha). Satu hal yang aku sesali, kami tidak sempat menjadi saksi romantisme lamaran bang Anyuk untuk kak Uki. :(

Kami turun melalui jalur Cibodas, mengulur-ulur waktu sepanjang perjalanan, menghabiskan waktu untuk sekedar menyeduh kopi dan menyantap mie di tengah perjalanan, mengambil air dan beristirahat lama di tempat camp tapi rombongan tak juga menyusul. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan berempat. Beberapa meter sebelum sampai basecamp (bada maghrib), turunlah hujan lebat. Aku membayangkan rombongan, dan semakin kagum lah aku pada mereka yang menghandle barang sekaligus menjaga para wanita.




[caption id="attachment_1512" align="aligncenter" width="300"]"I am Proud of being d'black g'black's Family," said Abang "I am Proud of being d'black g'black's Family," said Abang[/caption]

Sekitar jam 11 malam, kami pun berkumpul dan bersiap untuk kembali ke Jakarta.




Terima kasih untuk pengalaman hebat bersama orang-orang hebat. Mohon maaf untuk semua yang hal yang tidak berkenan, semoga kita bisa berjalan bersama lagi di waktu, Tempat, dan keadaan yang lebih baik.


Continue reading Aku, Kau, dan Gede

Rabu, 15 Oktober 2014

Curug Muara Jaya

Ketika browsing tempat wisata di Majalengka, kebanyakan yang keluar adalah wisata curug/air terjun, dan yang paling beken adalah curug Muara Jaya. Awalnya saya pikir Curug Muara Jaya, Curug Maja, dan Curug Apuy itu adalah curug yang berbeda, ternyata sama. Curug ini terletak di Kampung Apuy, Desa Argamukti, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.

Dari Majalengka, jalan terus menuju Maja, sampai di terminal Maja, ada jalan kecil di sampingnya, maka ikuti jalan itu lurus terus sampai menemukan papan petunjuk menuju Curug Muara Jaya.

Buat yang suka tantangan boleh deh main ke sini, jalannya mangstap. Bagus sih, tapi turunan, tanjakan, tikungannya itu loh, udah 4 hari badan masih pegel-pegel sepulang dari sana (ketahuan jarang gerak hehe). Jalannya kecil, tapi bisa menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Agak susah memang kalau ada dua mobil yang papasan.

Tips pertama dari saya:

Dalam mengemudikan kendaraan harus ekstra hati-hati, pas tanjakan jangan telat ngoper gigi (buat yang motor bebek), kalau bisa jangan ada di belakang motor lain, nanti pas motor depan kita engap, kita jadi ikutan engap :p , kalau pas turunan, hati-hati tekor, jangan gegayaan deh, jangan mentang-mentang tracknya asyik jadi ceroboh. (ini berdasarkan pengalaman ya hehe)

Buat yang naik angkutan umum, dari Majalengka bisa naik elf turun di terminal maja, terus nanti nyewa mobil bak terbuka (kol gundul), atau bisa juga naik ojeg.

Tiket masuk ke tempat wisata ini yaitu Rp 8.000,- per orang (dewasa), dan Rp 3.000 untuk anak-anak, camping Rp 10.000,- per orang, parkir Rp 2.000,- tapi di dalam curug nanti ditagih lagi Rp 2.000,- mungkin untuk biaya kebersihan. (mahaaaaal…)

Dari tempat parkir, jalan lagi menuju jalan setapak yang dipaving blok kemudian akan ada banyak warung penjual makanan dan minuman, toilet, mushola, ruang pertemuan, dll untuk ke curug harus turun lagi melalui jalan berundak.

Hmm… kami datang terlalu pagi jadi masih sangat sepi, hanya kami bertiga, dan petugas setempat.

Tips yang kedua:
Pilihlah teman yang enak buat diajak jalan. 
Wisata curug itu menyenangkan, damai, sejuk, tenang, tapi kalau keadaannya terlalu sepi dan teman jalan kita juga pendiam, serem juga kaan? :(

Masih pagi, jadi kami memutuskan hanya bermain air, dingin… awalnya airnya jernih tapi sekitar jam 11 lewat tiba-tiba airnya berubah kecoklatan, jadi kek susu cokelat. Ketika kami pulang, baru banyak orang yang datang berkunjung, kasian mereka datang di saat airnya sudah keruh. Ckckck

Dibandingkan dengan rasa lelahnya, keindahan alam yang disajikan kurang memuaskan mungkin karena ditambah faktor teman jalan yang kurang ekspresif kali ya…
Continue reading Curug Muara Jaya

Cimplo

Pas nyetrika ditawarin cimplo sama mamah. Urusan suka ga suka belakangan yang penting mau dulu hehe toh kalo ga suka, nanti kan bisa buat jatah tambahan mamah atau si ade. (gamau rugi) :p

Buat yang asing dengan makanan ini, cimplo itu sebenarnya apem, campuran dari tepung beras dan terigu ditambah ragi yang dihidangkan dengan air gula merah dicampur parutan kelapa. Rasanya? Hmm… aku suka tapi ga terlalu doyan. Sesuap juga cukup hehehe

Menurut masyarakat, cimplo ini makanan khusus yang hanya ada di bulan shafar, bukannya sekarang masih bulan Dzulhijjah ya, ko udah ada yang jual cimplo? :bingungs:
Continue reading Cimplo

Private

Beberapa jam yang lalu pasang display profile bbm menggunakan foto tahun 2012. Dan langsung banyak orang yang ngechat.

H
Damn. I bit jealous >.< Why you two always got captured in sweet moments like that?
Saya senang ada teman yang cocok sekali dan manis dengan pasangannya seperti kalian.


F
Ya ampun so sweet banget.


E
Ka Riska fotonya bagus…


Wanita mana yang ga senang ketika lelakinya membuat para wanita lain (bahkan lelaki juga) di dunia cemburu? Hehehe. Mungkin naluriah wanita memang suka pamer ya? -_-


Pendakian yang Berujung di Empire (in the midnite)

Tapi beberapa menit setelah ganti dp, ditegur sama abang, katanya foto itu private jadi lebih baik diganti dengan foto lain. Sedih sih… but your wish is my command, honey :*
Abang memang sangat hati-hati dengan foto-foto kami. Mencegah sesuatu hal buruk terjadi.



Continue reading Private

Rabu, 08 Oktober 2014

Happy Graduation

Happy Graduation --- A.Md. AK

Sasana Budaya Ganesha tanggal 30 September 2014 adalah tempat dimana hari wisudaku berlangsung. Ada sekelumit cerita dibalik ceremonial tersebut. H-1 atau tepatnya ketika gladi resik aku baru berangkat ke Bandung. Belum book hotel maupun salon. 

Hari itu aku menunggu bang Majid yang hendak mengantarku ke Bandung di Kadipaten. Aku sudah berada di kadipaten sejak jam 6 dan ternyata bang Majid baru berangkat dari Indramayu. Sebelumnya rokku kena rantai motor si ade jadi kotor dan rusak. 

My Future Husband

Setelah menunggu sekitar 1 jam, jam 7 akhirnya dia datang, aku menghampirinya sambil menangis dan berkata “Terbang juga ga bakal nyampe ke Bandung jam 9”. Abang hanya menghela nafas dan berkata pelan. Ternyata kehendak Allah berkata lain, walaupun kami hanya mengendarai motor dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam, sempat ke SPBU untuk ngantri ngisi bensin dan pipis, ternyata jam 9 tepat kami sudah sampai di daerah Gasibu. Hahahaha pengen ketawa kalau inget insiden itu :p

Sasana Budaya Ganesha Tempat Wisudaku


Hari itu benar-benar melelahkan. Setelah perjalanan patas, ke kampus untuk ngambil peralatan wisuda, gladi di Sabuga, kemudian ngeprint foto keluarga di tirta anugerah (tempat print langganan), kami menuju ke puri tomat di daerah dago. Malangnya tidak ada kamar kosong, semuanya penuh terisi. Bingung harus mecari penginapan dimana lagi, akhirnya kami bertanya ke bapak-bapak yang sedang berjualan. Beliau mengarahkan kami ke Wisma PMI di samping puri tomat. Alhamdulillah, ada tempat kosong, dengan harga Rp 165.000,- aku mendapat fasilitas yang memuaskan. Recommended banget deh.

Setelah merapikan barang-barang, kami langsung berangkat menuju Jonas photo studio untuk foto angkatan dan kelas. Hampir terlambat, belum sempat merapikan diri langsung ditodong untuk foto. Haaaah hasilnya? entahlah…

Special 27's outfit "Terancam Cum Laude
 
Setelah beres foto-foto kami kemudian kami mencari butik shafira yang memang menerima make up and style, segala puji bagi Allah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih, tidak perlu berputar-putar, tempat yang dituju langsung ketemu. Alhamdulillah. Dengan menyampaikan maksud kepada security di sana, kemudian aku diantar menemui customer service yang super ganteng dan ramah. Hotel & Salon booked. Kami pun mampir ke warung pecel ayam, kemudian belanja kebutuhan untuk semalam itu ke alfa, dan barulah kami bisa beristirahat. Alhamdulillah…

Butik Shafira Tempatku Make up

Malamnya, sekitar jam 10, aku terbangun oleh sebuah telpon, ada 3 misscalled dan 1 sms. Dari stylist butik shafira, beliau mengkonfirmasi kedatanganku besok, dan kami berjanji bertemu pukul 5. Sekitar jam 3 pagi aku terbangun, berdo’a untuk kelancaran semua urusan, dan baru bangun untuk mandi 30 menit kemudian, shower dengan aroma therapy dari sabun, rasanya mengalahkan dinginnya air pagi itu. Menyenangkan. 4.50 kami check out ternyata sudah disediakan makanan dan minuman dari pihak wisma. Ah subhanallah sekali, pantas diacungi jempol, terima kasih banyak wisma PMI Provinsi Jabar.

Sampai di butik shafira, ternyata ada sebuah mobil yang juga hendak make up sepertinya. Ibu tersebut membawa tas wisuda sepertiku, awalnya aku berpikir beliau adalah D3 program khusus hehehe ternyata beliau adalah kajur Keperawatan Gigi. Omo… Sambil menunggu ibu kajur selesai didandani, aku berkeliling menikmati suasana elegan dan cantik dari butik itu. Tiba giliranku untuk dandan ternyata ibu kajur menungguku dan mengajakku untuk berangkat bersama menggunakan mobilnya. Baik sekali. Terima kasih ibu :) ----
 
Biaya make up dan style kerudung Rp 150.000,- awalnya aku takut akan terlihat menor, tapi ternyata bagus, berkeringat pun make upnya malah semakin bagus. Alhamdulillah puas. :)

Kebanggaan Keluarga, Bangsa, dan Agama aamiin


Keluargaku yang berangkat dari Majalengka pukul 3, sampai sampai sekitar 5.30 di Sabuga. Kemudian kami bertemu dan mencari bang Majid. Setelah semua berkumpul, kami pun sarapan bersama dan melakukan sesi foto-foto karena tukang foto keliling tidak henti-hentinya mengganggu kami.



Terlena oleh kehangatan keluarga, aku hampir terlambat masuk ke sabuga. Ketika giliran analis dipanggil masuk, aku ditarik untuk diberi konsumsi, akhirnya aku ga terekam video :( Acara berlalu dengan khidmat sampai penutup pukul 13.00.

Keluarga Besar
Alhamdulillah, akhirnya perjuangan tiga tahun ini terbayar dengan kebanggaan orang tuaku. Terima kasih karena selalu berkorban demi kepentinganku, aku akan melakukan apapun yang terbaik untuk kalian. Mohon maaf apabila aku terlalu sering menyakiti kalian. Mohon do’a untuk kesuksesan di fase kehidupanku selanjutnya.

Acara wisuda selesai, aku pun sibuk mencari keluargaku, mereka yang menunggu di luar, maupun mamah dan mpa, mereka semua berpencar. Akhirnya aku tidak sempat berfoto dengan semua teman-teman angkatan 27. Tapi hal tersebut tidak mengurangi kebahagiaanku karena setelah keluargaku semua terkumpul, kami melakukan sesi foto-foto, kocak, semua bergembira. (foto jadi dokumentasi pribadi).

Keluarga divisi Klinik, Keluarga kosan Akbar, dan sahabat tercinta

Terima kasih kepada keluarga MRC Divisi klinik, keluarga di kosan luhur garasi (Akbar kost), adik-adik kelas, sahabat tercinta semuanya yang telah memberikan ucapan selamat, do’a dan bunga. Terima kasih banyak. Uhibbukum fillah. :*

Alamat Wisma PMI Jawa Barat:
Jl. Ir. H. Juanda 426 A, Telp. (022)2510092 Bandung – 40135

Alamat Butik Shafira:
Jalan Sulanjana, dari persimpangan dukomsel, jalan kaki sedikit.

Alamat Jonas Photo Studio:
Jl. Banda 38 Bandung 40115 Telp. (022) 42011010 Fax: (022) 441077
Continue reading Happy Graduation

Telinga Gatal? Jangan Dikorek!

Beberapa minggu yang lalu telingaku sakit, dan ketika diperiksa ke dokter beliau hanya mengatakan hal tersebut disebabkan oleh kotoran tapi tidak menjelaskan secara detail diagnosisnya apa. Aku pulang dengan berbekal banyak sekali obat, obat tablet untuk mengobati rasa gatal, paracetamol, antibiotic cefadroxil, dan pembersih kotoran telinga. Tapi aku tidak meminum obatnya dan hanya menggunakan pembersih kotoran telinganya saja.

Ketika melihat label botol cairan pembersihnya, ternyata H2O2 3%, aku baru tahu kalau hydrogen peroksida bisa digunakan sebagai pembersih telinga. Pasalnya di kampus tidak jarang menggunakan reagen ini. Ternyata berbeda konsentrasi, berbeda juga fungsinya.

Hydrogen peroksida 3% ini bisa mencairkan kotoran telinga. Ketika terjadi kontak dengan jaringan yang mengandung enzim katalase, larutan akan melepaskan oksigen yang mempunyai efek antibakteri. 

Pelepasan oksigen ini bisa terlihat dengan adanya gelembung seperti busa di telinga yang kotor, menurut instruksi teteh farmasi yang memberikan obat, ketika busanya sudah semakin banyak maka harus dikeluarkan dengan memiringkan kepala kita untuk mengeluarkan oksigen tersebut. (Jika hydrogen peroksida disuntikkan atau dimasukkan ke dalam rongga tubuh tertutup seperti pembuluh darah dimana oksigen yang dilepaskan tidak bisa keluar dengan bebas, hal ini dapat menimbulkan terjadinya embolisme oksigen dan emfisema lokal). Tidak disarankan menggunakan H2O2 3% atau cairan pembersih lainnya jika ada cairan yang keluar dari telinga, karena berarti ada lubang/kelainan di organ dalam telinga.

Kenapa telinga kotor bisa terasa sakit? Sebenarnya yang menyebabkan rasa sakit bukan dari kotorannya itu sendiri, tapi dari perilaku yang suka mengorek telinga. 

Kotoran telinga atau cerumen ini tidak perlu dibersihkan jika jumlahnya normal karena hampir setiap saat saluran telinga membersihkan dirinya sendiri. kotoran telinga dan sel kulit dalam telinga secara lambat, teratur, dan terus menerus dikeluarkan dibantu saat kita mengunyah dan oleh pergerakan rahang kotoran tersebut akan keluar (biasanya dalam bentuk serpihan, kering). 

Tidak adanya kotoran telinga akan membuat telinga kering dan gatal. Namun, apabila terjadi penumpukan kotoran telinga, baru konsultasikan ke dokter. Ketika mengorek telinga dengan alat seperti cotton bud, tutup pulpen, dan semacamnya, tindakan tersebut hanya mendorong kotoran masuk lebih ke dalam telinga, lebih bahayanya lagi apabila tindakan mengorek telinga ini merusak gendang telinga kita. 

Oleh karena itu, mari stop mengorek telinga! Di samping karena tidak aman, menurutku hal tersebut bisa menyebabkan kecanduan, ketika gatal sedikit langsung dikorek dan biasanya ketika mengorek telinga terasa seperti flying.
Continue reading Telinga Gatal? Jangan Dikorek!